
"Ada banyak hal yang harus kita obrolkan Din. Hampir dua bulan kita berpisah. Jadi, banyak hal yang harus kita bicarakan. Banyak hal yang harus kita diskusikan. Dan aku ingin masalah kita cepat selesai. Aku ingin hubungan kita kembali membaik. Aku ingin menghapus semua rasa sakit hatimu terhadap diriku. Izinkan aku untuk membuktikannya terhadap dirimu. Aku serius dalam ucapan ku. Aku ingin memperbaiki semuanya Nandini." Ucap Gabriel dengan wajah penuh keseriusan.
"Lalu bagaimana dengan Mama Mas. Apakah Mama juga berubah. Setelah apa yang dilakukan oleh Mama terhadap hubungan kita sekarang sudah Mas ketahui? Apakah mama merasa bersalah? Tanya Nandini ingin tau.
"Kamu tahu sendiri kan sifat Mama seperti apa. Mama dari dulu memang sudah tidak menyukaimu. Sulit bagiku untuk membuat mama bisa menerimamu. Aku tidak bisa merubah sifat mama yang selama ini tidak suka pada mu. Meskipun kamu sudah berusaha bersikap baik pun. Ternyata juga tidak bisa mengubah persepsi Mama tentang dirimu. Soal Mama, aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi yang penting bagi Mas saat ini adalah kamu Din. Aku tidak perduli dengan Mama."
"Tapi bagaimanapun, Mama adalah ibunya Mas. Mas harus mempertimbangkan perasaan Mama juga kan. Aku tidak ingin menjadi penyebab rusaknya hubungan seorang anak dan ibu. Aku tidak ingin di cap sebagai penyebab Mas menjadi durhaka karena Mas lebih membela aku. Dan inilah yang menjadi ketakutan ku Mas. Aku tidak tahu bagaimana hubungan kita akan berjalan ke depannya dan akan seperti. Jika mama sebagai seorang yang yang sudah melahirkan mu tetap menentang hubungan kita."
__ADS_1
Gabriel kemudian bangkit dari duduknya dari atas ranjang. Dan kemudian ia berjalan ke arah Nandini yang saat itu duduk di depan meja rias.
Setelah berada dekat di hadapan Nandini. Gabriel kemudian meraih tangan Nandini dan ia menggenggamnya dengan kedua tangannya. Lalu Gabriel meletakkannya telapak tangan Nandini ke dadanya. Agar Nandini dapat merasakan detak jantung Pria yang masih menjadi suaminya itu.
"Biar aku lega. Aku ingin mendengar dari bibirmu sendiri. Aku bertanya padamu Nandini. Apakah kamu sudah memaafkan aku. Atas semua kesalahan yang sudah aku perbuat pada mu. Aku minta maaf untuk semua salah dan untuk kesalahpahaman dan juga tindak kekerasan yang pernah aku lakukan pada mu. Apa kamu kamu memaafkan semua kesalahanku. Tolong jawab dengan sejujur sayang. Agar aku tahu isi hati dan juga perasaanmu terhadap diriku saat ini."
Menatap wajah sang suami dengan begitu intens. Nandini tak bisa lagi mengelak dan juga tidak bisa memungkiri apa yang ada di dalam hatinya yang sebenarnya.
__ADS_1
"Aku sudah memaafkan semua kesalahan Mas El. Terlepas dari semua kekhilafan dan kesalahpahaman itu. Aku sudah memaafkan mu. Tapi jika aku boleh jujur. Rasa kecewa itu masih ada dan membekas dalam hatiku mas. Rasa kecewa karena mas begitu mudahnya percaya dengan kata-kata Mama. Dan juga sudah menuduhku selingkuh padahal aku tidak melakukan itu. Aku kecewa karena Mas tidak mempercayai ku. Soal Kekerasan fisik yang sudah pernah Mas lakukan pada Ku juga aku tidak bisa melupakannya."
"Maafkan aku sayang. Saat itu aku benar-benar buta. Aku dibutakan oleh rasa cemburu yang begitu meledak dalam diriku. Tidak hanya cemburu tapi aku juga tidak terima dengan apa yang sudah terjadi pada saat itu. Aku berjanji pada mu Nandini. Kekerasan fisik yang pernah aku lakukan terhadap dirimu aku tidak akan pernah mengulanginya lagi. Aku berjanji dan bersumpah. Aku tidak akan melakukan kekerasan apapun terhadap dirimu. Aku mohon berikan aku kesempatan untuk membuktikannya."
Nandini yang masih menatap wajah sang suami dengan pandangan intens itu tak kuasa untuk tidak berkata-kata. Wajah memelas sang suami telah berhasil meluluhkan hatinya. Nandini Kemudian menganggukkan kepalanya.
"Aku memaafkan mu Mas. Aku memberi maaf untuk mu. Tapi untuk kembali bersama sama lagi. Berikan aku waktu untuk memikirkannya." jawab Nandini sambil menunduk dengan suaranya yang lembut.
__ADS_1
Setelah mendengar sendiri jika ia telah di maafkan oleh Nandini. Gabriel langsung meraih tubuh Nandini dan kemudian ia memeluknya erat.
"Terimakasih sayang. Terimakasih sudah memaafkan aku."