
"Mas, aku punya kejutan untuk mas." wajah Gabriel mendadak tegang.
"Kejutan apa?"
"Aku hamil. Aku berbadan dua sekarang. Di perutku ada benih mu yang tumbuh di rahimku. Sebentar lagi kita akan memiliki anak." ujar Nandini berterus terang tentang kehamilannya kepada Gabriel.
Begitu mendengar berita itu. Gabriel semakin lekat memandang wajah sang istri. Dengan penuh rasa ketidakpercayaan dan juga terkejut. Karena ia tidak menyangka jika saat ini istrinya telah hamil. Yang tentu saja hal itu adalah impiannya.
"Kamu serius sayang. Kamu hamil!" seru Gabriel.
Nandini tidak menjawab, ia hanya mengangguk sambil tersenyum.
Degan penuh rasa bahagia. Gabriel langsung memeluk kembali tubuh Nandini. Dan menghujani Nandini dengan kecupan di seluruh wajahnya.
"Kenapa kau tidak bilang dari tadi kalau kamu hamil. Jadi aku tidak memaksamu untuk melakukan hubungan suami istri semacam itu. Bagaimana dengan kandungan mu. Apakah kamu baik-baik saja?" Kini justru Gabriel dilingkupi rasa bersalah. Dan juga khawatir dengan kandungan Nandini. Karena ia menyadari, ketika ia bercinta dengan Nandini dia melakukannya dengan sedikit kasar.
"Tidak apa-apa Mas. Aku baik-baik saja. Dua hari yang lalu aku baru saja mengecek kandungan ke dokter. Lagi pula tadi aku sudah memperingatkan mas untuk berhati-hati. Jadi jangan khawatir, semua pasti baik-baik saja." ucap Nandini tersenyum manis kepada Gabriel.
Dan kini kedua mata Gabriel pun sudah memerah.
Dia sangat terharu bahagia dan juga sangat bersyukur dengan kehamilan Nandini.
"Aku semakin mencintai mu sayang." seru Gabriel yang sudah kembali memeluk sang istri.
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Setelah membujuk Nandini untuk resign dari pekerjaannya di Bandung. Nandini akhirnya menuruti perkataan dan permintaan Gabriel.
Hari itu menjadi hari terakhir Nandini bekerja di hotel. Dan setelah itu, Nandini telah resmi mengundurkan diri dari tempat ia bekerja atas permintaan Gabriel.
Nandini menyadari, ia harus menuruti perintah sang suami. Karena kini dirinya pun juga tengah berbadan dua. Dan atas pemerintahan sang suami juga dirinya harus harus mau kembali ke Jakarta.
Setelah urusan Nandini selesai. Gabriel membawa Nandini kembali ke Jakarta.
Dengan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Gabriel ingin memastikan bahwa kandungan sang istri tetap dalam kondisi baik saat mereka dalam perjalanan ke Jakarta.
Semenjak Gabriel tahu Nandini hamil. Sikap Gabriel menjadi sangat posesif dan begitu protektif.
__ADS_1
🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂
Sesampainya Nandini di Jakarta. Gabriel langsung membawa Nandini ke rumah besar. Rumah yang dulu menjadi tempat tinggal Gabriel dan Nandini.
Rumah yang dulu sempat Nandini tinggal di bersama sang suami dengan penuh suka duga.
Meskipun di rumah itu pula yang membuat dirinya akhirnya kabur. Karena perlakuan sang mertua yang begitu kejam terhadap dirinya.
Tapi setelah mendengar cerita dari Gabriel jika sang mertua Rohana ingin menemui dirinya dan ingin meminta maaf. Ia pun tidak bisa untuk tidak menemui mertuanya.
Sesampainya di rumah besar. Gabriel kemudian langsung pergi ke kamar Rohana sambil menggandeng dengan erat tangan Nandini.
Rohana yang sedang bersandar pada headboard tempat tidurnya tersenyum dan juga sedikit memerah matanya ketika melihat Gabriel dan Nandini datang.
"Selamat datang kembali di rumah Nandini. Maafkan Mama. Maafkan semua salah mama yang telah Mama lakukan terhadap dirimu. Mama berjanji sama kamu bahwa mama tidak akan lagi mencampuri urusan rumah tanggamu dan Gabriel." ucap Rohana dengan penuh penyesalan sambil memegang tangan Nandini dengan begitu erat. Sebagai bentuk rasa penyesalan tentang semua kesalahan yang pernah ia lakukan kepada menantu yang tidak pernah ia anggap dulu.
"Jangan seperti ini ma. Nandini sudah memaafkan semua kesalahan Mama tanpa mama perlu meminta maaf. Andini sudah melupakan semuanya dan anggaplah mama tidak pernah melakukan hal seperti itu pada Nandini."
"Selama ini mama buta Nandini. Mama tau mama banyak salah dengan mu. Hanya perkataan maaf ya mama bisa ucapan untuk mu."
"Iya Ma, Nandini sudah memaafkan mama. Dan Nandini sudah melupakan semuanya. Justru Nandini lah yang harus minta maaf sama mama. Karena Nandini bukanlah seorang menantu yang Mama idam-idamkan untuk menjadi pendamping hidup Gabriel."
"Terimakasih ma, atas semua ridho mama."
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Setelah saling memaafkan, antara Nandini dan juga Rohana kini sudah tidak ada lagi masalah di antara menantu dan mertua itu.
Kemudian Gabriel mengajak sang istri untuk beristirahat di kamarnya. Karena Nandini pasti sangat lelah dengan berjalan dari Bandung ke Jakarta.
Bahkan ketika menaiki tangga, Gabriel dengan sengaja menggendong Nandini sampai mereka tiba di dalam kamar.
"Apaan sih Mas, kok pake acara di gedong segala. Memangnya tidak berat." tutur Nandini saat Gabriel mengendongnya.
"Sudah kamu diam saja. Kamu nurut saja sama mas. Pokoknya kamu nggak boleh membantah sekarang. Mas bertanggung jawab untuk menjaga dua orang sekarang. Yaitu kamu dan juga anak kita." ucap Gabriel yang kemudian ia meletakkan dengan hati hati Nandini di atas ranjang.
Sejenak, mereka sama sama beristirahat di kamar.
__ADS_1
"Bagaimana perasaanmu, setelah mendengarkan permintaan maaf Mama." tanya Gabriel mencari tahu tanggapan Nandini tentang permohonan maaf sang mama.
"Ya tidak gimana-gimana mas. Seperti yang aku bilang. Aku sudah memaafkan mama dan sudah melupakan semua ucapan mama yang telah lalu."
"Terima kasih ya sayang, kamu sudah memaafkan kesalahan mama."
☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️☘️
Dan satu minggu kemudian. Gabriel yang sudah menyiapkan kejutan untuk Nandini saat itu sengaja menutup mata Nandini dan mengajak Nandini ke suatu tempat.
Ketika mereka sudah berada di tempat yang Gabriel tuju. Barulah Gabriel membuka penutup kepala yang sengaja Gabriel ikatkan ke kepala Nandini.
"Sudah siap untuk melihat kejutan yang akan aku berikan kepadamu sayang ku." bisik Gabriel ditelinga Nandini dengan nada lembut.
"Kejutan apa lagi sih Mas. Perasaan banyak sekali kejutan saat aku kembali ke Jakarta." tutur Nandini yang saat itu masih penasaran dengan kejutan yang akan diberikan oleh sang suami kepada dirinya.
"Untuk kejutannya yang satu ini. Kamu bisa lihat sendiri sayang." ucap Gabriel kemudian dia perlahan-lahan melepaskan ikatan penutup mata Nandini.
Ketika ikatan itu sudah terlepas dan membuka mata Nandini. Wanita yang kini sedang berbadan dua itu sangat kaget.
Karena kini ia sudah berada di depan sebuah rumah yang sangat mewah yang bergaya minimalis. Sebuah rumah yang sepertinya sangat di idamkan oleh Nandini. Letak rumah itu masih berada dalam satu kompleks dengan rumah sang mama mertuanya.
"Ini rumah siapa mas?" tanya Nandini.
"Ini adalah rumah mu sayangnya. Ini adalah rumah yang aku hadiahkan untuk mu sebagai bentuk sayang dan terimakasih ku pada mu. Karena kamu sudah memberikan aku anak dan juga karena kamu sudah memaafkan aku dan memaafkan mama. Rumah ini sudah aku atas namakan diri mu. Jadi ini adalah milik mu Nyonya Gabriel." jawab Gabriel sambil memberikan kunci rumah itu ke genggaman tangan Nandini.
Tak bisa berkata-kata, Nandini hanya bisa meneteskan air matanya.
"Terimakasih mas, seharusnya mas tidak perlu berikan aku rumah. Bersama mu saja sudah membuat ku bahagia mas." terang Nandini.
"Kau pantas mendapatkan itu sayang." sahut Gabriel sambil menangkup wajah Nandini kemudian ia membawa sang istri ke dalam pelukannya.
Dan setelah itu, kehidupan rumah tangga Gabriel dan Nandini di lalui dengan bahagia dengan anak mereka di rumah mereka sendiri.
TAMAT.
Jangan lupa baca novel ku yang lain yang masih on going 🥰
__ADS_1