
Ketika Satya pulang, Sabrina sudah ada di rumah. Sabrina sudah duduk manis di taman samping rumah sekarang. Ditemani dengan ponsel dan segelas jus naga kesukaannya. Sabrina terlihat sangat menikmati suasana sore di taman. Dengan angin sepoi-sepoi yang berhembus menenangkan. Menerbangkan helaian rambut panjang Sabrina yang tergerai bebas.
Tatapan Satya terhenti sejenak saat melihat Sabrina yang asik dengan aktifitasnya. Jujur, Satya tidak bisa menolak untuk mengatakan, kalau Sabrina memanglah gadis dengan paras yang sangat cantik. Tapi ... tiba-tiba, kekaguman itu mendadak hilang dari hati Satya, ketika dia ingat bagaimana galaknya Sabrina padanya.
Satya ingin melangkah meninggalkan apa yang matanya tidak ingin tinggalkan. Ia tidak ingin mencari masalah dengan Sabrina lagi sekarang. Apalagi saat para sahabat mengingatkan kalau Sabrina adalah gadis yang paling galak seantero kampus.
Nyali Satya mendadak ciut untuk mendekati Sabrina. Tapi bagaimanapun, rasa yang telah tertanam dalam hati sangat sulit untuk di pungkiri. Niatnya tidak ingin mendekati Sabrina, tapi hati dan perasaannya berkata lain.
Hatinya ingin ia mendatangi Sabrina sekarang juga.
"Eh ... lo baru pulang ya?" tanya Sabrina saat menyadari keberadaan Satya disekitarnya.
"Iya, seperti yang lo liat. Gue baru pulang. Lo udah lama ya pulangnya?"
"Udah lumayan sih. Gue udah pulang dari tadi siang."
"Cepat amat."
"Iya. Hari ini gak ada mata kuliahan yang bisa gue ikutin," kata Sabrina sambil sibuk melihat ponselnya kembali.
"Kenapa?"
"Jam pertama, gue telat. Jam kedua, gue gak bikin tugas dari dosennya. Dan ... jam selanjutnya, gue bosen banget dah di kampus. Dari pada gue kesel dan bikin ulah, mending gue pulang aja."
__ADS_1
Satya menyipitkan matanya. Ia melihat Sabrina dengan tatapan heran.
"Jam pertama gue maklum lo telat. Lah jam kedua gue gak habis pikir sama lo, kenapa harus gak bikin tugas?"
"Ya karena gue gak bisa bikin tugas dari dosen fisika itu. Tugasnya ribet banget," ucap Sabrina dengan sangat jujur.
"He he he ... gue kira cewek judes kayak lo gak bisa ngeluh. Eh ternyata, bisa juga ya."
"Lo pikir gue bukan manusia ya? Setiap manusia itu pasti punya sisi kurang dan sisi lebihnya."
"Benar juga apa yang lo katakan itu. Bagus deh kalo lo sadar, kalo lo itu masih punya kekurangan."
"Hei ... sejak kapan gue gak sadar kalo gue masih punya banyak kekurangan hah! Lo ngomong itu harus mikir-mikir dulu, biar gak bikin orang lain kesal."
"Salah lo bikin kesal gue," ucap Sabrina setengah berteriak.
"Tau ah .... "
____
"Sat, mau pesan apa buat makan malam kita malam ini?" tanya Sabrina sambil melihat ponselnya.
"Terserah aja deh," ucap Satya yang juga sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
Saat ini, mereka berdua sama-sama berada di ruang keluarga. Satya duduk di sofa sedangkan Sabrina sedang baring. Jarak antara Satya dengan Sabrina tentunya lumayan jauh. Mana ada mereka duduk berdekatan.
"Kok terserah sih? Lo gak ada niat buat makan apa gitu?"
"Ya mau gimana lagi, gue juga gak tahu mau makan apa buat makan malam. Sebenarnya, kalo gue boleh jujur, gue itu pengen makan masakan rumahan. Gak pesan mulu."
"Tapikan lo tahu kalo gue gak bisa masak."
"Ya makanya gue bilang terserah lo aja mau pesan apa."
"Ya udah deh kalo gitu. Pesan nasi goreng aja," kata Sabrina pada akhirnya.
"Lah, kok malah pesan nasi goreng sih? Kitakan mau makan malam, bukan mau sarapan pagi."
"La terus pesan apa dong. Gue juga bingung soalnya."
Mereka sama-sama terdiam dengan pikiran masing-masing. Sama-sama memikirkan apa yang ingin mereka pesan buat makan malam.
"Sat, gimana kalo kita cari orang buat kerja di rumah kita. Buat bersih-bersih sekalian masak untuk kita," kata Sabrina angkat bicara setelah hening sesaat.
"Ya gue mah terserah aja. Tapi gak enak sama orang tua kita masing-masing. Bilangnya mau mandiri, tinggal di rumah sendiri. Ngerjain apa-apa sendiri."
"Iya juga ya apa yang lo katakan. Kalo kita nyari orang buat kerja di rumah kita, jelas-jelas nambah modal. Uang jajan sama uang kampus gue aja masih di tangung sama mama papa," kata Sabrina.
__ADS_1