Perjodohan Dua Pewaris Tunggal

Perjodohan Dua Pewaris Tunggal
#33


__ADS_3

'Gue tahu lo kesal sama gue Rina. Gue memang laki-laki yang gak peka dengan perasaan orang lain,' kata Satya dalam hati sambil melangkah pergi dari hadapan Sabrina.


____


Kedatangan Sabrina sudah di tunggu oleh Siska sang sahabat baik. Ia sangat ingin tahu ada apa dengan Sabrina yang buru-buru kemarin ketika pulang.


"Rina. Lo kok datangnya telat banget sih. Gue udah nungguin lo sejak setengah jam yang lalu, tahu gak," kata Siska langsung menyambut Sabrina dengan omelan.


"Aduuuh, mak-mak udah ngomel aja sepagi ini. Gue itu telat bangun plus tidur di rumah mama. Makanya telat sampai kampus," ucap Sabrina tanpa sadar dengan kata-kata yang ia ucapkan.


"Telat bangun plus tidur di rumah mama? Maksudnya apaan tuh? Gak ngerti gue," ucap Siska kebingungan.


"Itu ... maksud gue ... lo jangan banyak tanya. Nanti jadi emak-emak gosip baru lo tahu. Mau dicap sebagai emak-emak gosip yang sangat rempong?" tanya Sabrina berusaha mengubah tema obrolan mereka.


"Gak-gak, enggak. Kali ini gue gak akan tertipu lagi dengan apa yang lo katakan. Biarin aja gue dicap mak-mak tukang gosip atau apaan, terserah lo aja. Yang gue inginkan cuman satu, lo jujur sama gue. Lo ceritain apa yang lo rahasiakan dari gue. Atau .... "


"Atau apa?"


"Gue ngambek sama lo. Gak mau bicara lagi dengan lo dan .... "


"Dan apa?"


Siska melihat kearah Sabrina. Tatapan yang mematikan ia hadiahkan buat sahabatnya ini. Ia berharap Sabrina mau terbuka dan jujur padanya. Karena selama ini, Sabrina tidak pernah menyimpan rahasia apapun darinya.


"Kalau lo masih anggap gue sahabat, lo pasti mau berbagi dengan gue apapun yang jadi kebahagian lo maupun kesedihan lo Rina. Kita sahabatan sudah sangat lama. Tidak terhitung minggu ataupun bulan. Bahkan, bukan cuma satu tahun yang kita lalui bersama. Sudah lebih satu tahun. Gue akan sangat kecewa banget kalau lo gak mau berbagi kisah lo lagi dengan gue," ucap Siska panjang lebar dengan nada yang sangat serius.

__ADS_1


"Siska."


"Kali ini gue serius. Kalo lo gak mau cerita, maka jangan anggap gue sahabat lo lagi."


"Oke-oke, lo jangan ngancam-ngancam gue gitu juga dong. Gue gak cerita semuanya sama lo."


Sabrina menceritakan semua kisahnya pada Siska. Mulai dari perjodohan mereka hingga dia dan Satya menikah.


"Apa! Jadi gosip itu benar?" tanya Siska dengan nada tinggi.


"Iya. Tapi .... "


"Tapi apa Rina?"


"Tapi, mungkin harus gue akhiri secepatnya."


"Siska, gue gak mungkin terus bersama dengan Satya untuk selamanya. Pernikahan kita hanya sebatas perjodohan saja."


"Apa lo gak punya sedikit pun rasa cinta untuk Satya, Rina? Selama lo dan Satya bersama, apa tidak ada rasa yang tumbuh?"


"Gue ... sudahlah. Gue gak ingin bahas soal ini lagi. Gue capek dengan hidup yang gue jalani akhir-akhir ini."


Siska tidak berkata apa-apa. Ia hanya memberikan sentuhan pelan sambil mengelus pundak Sabrina. Dia tahu, ada yang tidak Sabrina utarakan padanya. Siska sangat kenal siapa Sabrina.


Tanpa mereka sadari, pembicaraan mereka ada yang mendengarkan. Sejak tadi, sepasang telinga itu sedang mendengarkan dengan seksama semua yang Sabrina dan Siska bicarakan.

__ADS_1


'Ternyata, kamu berniat mengakhiri pernikahan kita Rina. Aku tidak menyangka, kalau kamu selama ini, kamu bahkan tidak pernah ingin mempertahankan atau berusaha mencintai aku,' kata Satya dalam hati sambil bersandar lemah di tembok.


Perlahan, ada rasa kecewa yang menyelimuti hati Satya saat ini. Sejujurnya, ia sangat berharap Sabrina adalah istri pertama dan terakhir dalam hidupnya. Walaupun pernikahan mereka tidak berdasarkan atas nama cinta, tapi ia ingin tetap bertahan dengan Sabrina hingga maut memisahkan.


Satya berjalan gontai meninggalkan Sabrina dan Siska yang masih sama-sama diam. Punahnya harap yang selalu ada dalam hatinya, membuat Satya sangat malas dan tak ingin tetap berada di kampus lagi. Ia memilih bolos di jam kuliah yang berikutnya.


"Mau kemana lo Sat?" tanya Andrian.


"Gue mau pulang."


"Pulang? Yang benar aja lo Satya."


"Kenapa emangnya? Gue ada urusan penting. Gue cabut dulu," ucap Satya tanpa menunggu lama lagi.


"Eh Sat." Andrian berusaha mencegah Satya untuk pergi. Tapi tidak berhasil. Satya tidak mendengarkan panggilannya.


"Ada apa?" tanya Sean yang baru kembali dari toilet.


"Satya bolos."


"Bolos?" tanya Sean tak percaya sambil mengangkat sebelah alisnya.


"Iya."


"Lho, bukannya kita mau kasih kejutan buat Cindy nantinya."

__ADS_1


"Itu yang mau gue bicarakan sama Satya tadinya. Tapi sayang, tuh anak gak mau dengar omongan gue. Belum juga gue ngomong, dia udah kabur duluan," kata Andrian sambil melihat ke depan.


__ADS_2