Perjodohan Dua Pewaris Tunggal

Perjodohan Dua Pewaris Tunggal
#43


__ADS_3

"Lo siapanya Satya hah? Gue tanya lo siapanya Satya sampai lo harus marah lihat Satya bersama wanita lain."


"Gue ... gue .... "


"Siapa?" tanya Sean dengan nada membentak.


"Apa peduli kalian gue siapanya Satya. Yang penting, gue gak akan biarkan siapapun cewek ngedeketin Satya," kata Cindy sambil meninggalkan Sean dan Andrian.


"Gila tuh cewek," ucap Sean tak percaya.


"Kita liat aja apa yang akan terjadi. Gue penasaran banget dengan apa yang Satya ucapkan tadi. Kalo benar dia sedang bersama istrinya saat ini, kita pasti akan tahu yang mana istri Satya."


"Gila. Lo percaya dengan apa yang Satya katakan di cafe tadi? Lo benar-benar percaya kalo Satya memang sudah punya istri?"


"Lo gak ingat ya soal gosip beberapa bulan yang lalu?" tanya Andrian.


"Gosip? Gosip tentang apa?"


"Gosip tentang pernikahan dua pewaris tunggal. Yang jelasnya, pewaris tunggal itu akan kita ketahui siapa hari ini."


"Maksud lo?"


"Lo kok bego amat sih Sean. Liat aja deh apa yang akan terjadi antara Satya, Cindy, dan juga dua sahabat itu. Dan harapan gue, itu bukan Siska."


"Kenapa kalo Siska?" tanya Sean sambil memicingkan sebelah matanya.


"Ya ... ya gak kenapa-kenapa. Cuma berharap aja," ucap Andrian sambil garuk-garuk kepala belakangnya yang tidak gatal.

__ADS_1


"Lo beneran suka Siska ya, Ndre?"


"Itu bukan urusan lo."


"Lo sama Satya sama-sama aja deh kayaknya. Sama-sama main rahasia-rahasiaan sama sahabat sendiri," kata Sean kesal.


Andrian tidak menjawab apa yang Sean katakan. Matanya fokus melihat Cindy yang sudah sampai ke tempat yang ia tuju, yaitu, kursi yang Satya, Siska, dan Sabrina duduki.


"Satya! Kamu kok di sini sih?" kata Cindy dengan manja.


"Kenapa kalo aku di sini? Apa urusannya sama kamu?" tanya Satya dengan nada kesal.


"Aku kan capek nyariin kamu Satya."


"Ngapain nyari aku?"


"Siapa bilang aku dan dia pacaran?" tanya Satya sambil melirik Cindy kemudian menatap Sabrina.


"Ya semua juga tahu kalo kalian itu pacaran," kata Sabrina. Ada nada kesal terdengar dari kata-kata yang Sabrina ucapkan itu.


"Sayang. Sudah berapa kali aku bilang kalo aku gak pernah punya pacar. Kamu gak percayaan banget sih." Satya bicara dengan nada yang sangat lembut sambil menatap mata Sabrina.


"Sayang?" tanya Cindy dengan raut wajah kaget.


"Lo apa-apaan sih Satya. Gila ya?" tanya Sabrina dengan nada tinggi dan kesal.


"Iya, mungkin aku sudah berubah gila hari ini Rina. Karena hari ini, aku akan buat semua orang tahu kalo aku dan kamu itu sudah menikah. Kita adalah .... aduh."

__ADS_1


Sabrina menginjak kaki Satya dengan sangat kuat. Membuat Satya terhenti bicara dan berganti dengan mengeluh karena sakit.


"Kamu gak papa Satya?" tanya Cindy panik.


"Udah, gue gak papa. Mulai sekarang, lo jangan dekatin gue lagi. Istri gue gak suka kalo gue dekat-dekat sama perempuan lain."


"Apa maksud kamu Satya? Apa yang kamu katakan? Apa kalian sedang berlatih drama sekarang? Oh iya, aku tahu, kamu pasti sedang latihan drama kan Sat, sekarang," kata Cindy.


"Drama? Lo kok lugu amat sih jadi cewek. Siapa yang lagi latihan drama?" tanya Siska tak sabar lagi.


"Siska." Sabrina menatap Siska, meminta sahabatnya untuk tidak ikut bicara.


"Kita gak lagi latihan drama kok Cind. Apa yang gue katakan itu adalah fakta. Real yang sebenarnya terjadi. Lo liat gadis samping gue ini, dia adalah Sabrina, istri sah gue."


"Satya!" Sabrina membentak Satya dengan keras.


"Rina, aku gak bisa lagi menyembunyikan hubungan kita. Aku sudah bilang kalau aku cinta sama kamu bukan? Tolong jangan marah karena aku tidak bisa menepati janjiku padamu," kata Satya dengan wajah menyesal.


"Ja--jadi kamu dan dia .... " Cindy menunjuk Sabrina yang terdiam di samping Satya.


"Kita suami istri. Hanya saja tidak ada yang tahu selain keluarga dekat kami."


"Be-benarkah yang dia katakan itu?" tanya Cindy pada Sabrina.


Sabrina tidak menjawab. Ia hanya bisa tertunduk dengan pertanyaan dari Cindy. Sekarang, mereka di kerumuni para mahasiswa yang mendengarkan pertengkaran mereka.


"Jawab apa yang gue tanyakan sama lo! Kenapa lo diam aja hah?"

__ADS_1


"Kenapa gue harus jawab. Bukankah lo sudah dengar apa yang Satya katakan. Lo mau gue jawab apa lagi?" tanya Sabrina mulai emosi.


__ADS_2