
"Sayang, bisa bantuin aku ambilin handuk gak?" tanya Satya dari dalam kamar mandi.
"Handuk?"
"Iya handuk. Aku lupa bawa handuk nih. Mana bajunya aku basahin lagi," kata Satya setengah berteriak.
"Ih, masa iya mandi lupa bawa handuk."
"Sayang, yang namanya lupakan wajar. Mau bantuin atau aku keluar dari kamar mandi sekarang?"
"Iya deh iya. Kamu tunggu aja di dalam sana. Aku ambilin handuknya dulu," kata Sabrina sambil beranjak dari duduknya.
Sabrina membuka koper milik Satya. Tentunya, isi koper itu semuanya barang-barang milik Satya semua. Sabrina berusaha menemukan handuk yang Satya inginkan.
Iya, sekarang mereka sedang tidak ada di rumah. Mereka sedang berada di Singapura untuk bulan madu selama beberapa hari ke depan.
Setelah pernikahan usai, kedua orang tua sepakat untuk meminta Sabrina dan Satya bulan madu. Meskipun awalnya Sabrina menolak buat berangkat. Tapi sayangnya, Satya setuju. Ia mengatakan pada Sabrina kalau bulan madu bukanlah semata-mata untuk melakukan hal-hal yang Sabrina bayangkan.
Bulan madu ini juga bisa diartikan dengan jalan-jalan ke suatu negara yang ingin mereka kunjungi. Hitung-hitung, liburan selama beberapa hari.
__ADS_1
Perkataan Satya mampu membuat pikiran Sabrina terbuka. Ia pun menyetujui permintaan kedua orang tua untuk berangkat bulan madu. Dan, mereka berdua sepakat memilih negara Singapura sebagai tempat bulan madu mereka.
Tidak ada alasan yang jelas. Hanya saja, tiba-tiba ia ingat dengan negara itu, dan rasanya, tidak ada salahnya jika ia berbulan madu di negara Singapura. Jadilah bulan madu Satya dan Sabrina ke Singapura seperti saat sekarang ini.
"Sat, kamu taro dimana sih handuknya? Kok gak ada ya," kata Sabrina sambil terus membongkar isi koper Satya.
"Di bagian kiri koper. Udah ketemu belum?"
"Iya, iya ini udah ketemu," ucap Sabrina dengan cepat sambil menutup koper milik Satya.
Sabrina mengetuk pintu kamar mandi. Ia ingin menyerahkan handuk itu pada Satya. Walau dengan langkah ragu, ia tetap saja melakukan hal itu.
"Satya, ini handuknya."
"Ini," kata Sabrina sambil mengulurkan tangannya sebagian memasuki pintu kamar mandi.
Dengan cepat, Satya menarik tangan Sabrina. Sabrina yang tidak tahu hal itu akan terjadi, tanpa bisa menahan badannya untuk terjatuh kedalam kamar mandi.
"Satya, kamu apa-apaan sih!" Sabrina membentak Satya.
__ADS_1
Tapi, ia tidak bisa melihat Satya yang hanya menggunakan celana pendek. Celana itu hanya menutupi bagian penting Satya saja. Satya tidak berbaju atau pun menutupi dirinya dengan sehelai kain lain sedikitpun.
Tubuh Sabrina mendadak kaku. Ia yang biasanya galak berubah tak punya tenaga. Air dari shower terus saja berjatuhan membasahi tubuh Satya juga tubuhnya. Jarak antara dirinya dengan Satya tidak sampai dua jengkal.
"Mau coba sesuatu yang berbeda gak?" tanya Satya sambil terus mendekat sedangkan Sabrina mundur perlahan.
"Jangan main-main Sat." Hanya itu yang mampu Sabrina ucapkan.
Satya tak peduli dengan apa yang Sabrina katakan. Ia malah menarik Sabrina kedalam pelukannya. Mendekap tubuh Sabrina erat-erat, lalu mencium bibir Sabrina dengan penuh napsu.
Sabrina yang awalnya galak bak serigala, sekarang berubah seperti domba yang takluk pada serigala. Ia tidak punya kekuatan untuk melawan Satya saat ini. Jangankan melawan, menolak keinginan Satya saja Sabrina tidak mampu.
Sabrina hanya bisa pasrah dan menikmati apa yang Satya berikan padanya. Lama-lama, ia juga terbuai akan apa yang Satya lakukan padanya. Sentuhan demi sentuhan Satya lakukan. Masih dengan bibir yang sama-sama bersatu membentuk ciuman yang semakin lama semakin hangat.
Setelah merasa Sabrina benar-benar sudah terbuai. Satya dengan cepat mengangkat tubuh Sabrina. Membawa Sabrina berpindah dari kamar mandi menuju ranjang mereka.
Tidak ada penolakan sedikitpun dari Sabrina, ketika baju basahnya Satya lepaskan perlahan. Dan sentuhan demi sentuhan yang terhenti Satya lanjutkan, hingga sampai sama-sama melakukan penyatuan yang membuat Sabrina tidak bisa menahannya lagi.
Sabrina perlahan merintih kesakitan namun ia tetap tidak menolak perlakuan Satya. Ia hanya mampu mencengkram seprai putih yang menjadi alas ranjangnya.
__ADS_1
Satya terus melakukan hal itu tanpa menghiraukan rintihan Sabrina. Mulai dari perlahan, hingga gerakan yang ia timbulkan semakin cepat dan semakin cepat saja. Semakin cepat gerakan itu, semakin Sabrina kuat mencengkram seprai. Hingga akhirnya, Satya melepaskan napas lega yang terdengar berbarengan dengan Sabrina.
Mereka sama-sama merasakan kelelahan sehingga tidak ada yang mengeluarkan suara untuk beberapa menit lamanya. Hingga Satya dan Sabrina sama-sama tertidur dengan bermandikan keringat dan hanya berselimutkan seprai putih saja.