Perjodohan Dua Pewaris Tunggal

Perjodohan Dua Pewaris Tunggal
#34


__ADS_3

"Itu yang mau gue bicarakan sama Satya tadinya. Tapi sayang, tuh anak gak mau dengar omongan gue. Belum juga gue ngomong, dia udah kabur duluan," kata Andrian sambil melihat ke depan.


"Lo sih telat."


"Lo kok malah nyalahin gue sih. Gue kan udah bilang kalo Satya gak mau dengar apa yang gue omongin," kata Adrian mendadak kesal.


"Terus gimana dong sekarang?"


"Ya mana gue tahu. Lo pikir aja sendiri."


"Lho kok gue sih?"


"Tau ah. Gue juga mau cabut," kata Andrian sambil berjalan cepat keluar dari kelasnya.


Karena berjalan tidak hati-hati, Andrian malah tak sengaja bertabrakan dengan Siska.


"Aduh, lo punya mata gak sih?" tanya Andrian dengan sangat kesal. Hatinya yang sudah kesal, kini semakin kesal. Tanpa melihat siapa yang ia tabrak, ia langsung saja membentaknya.


"Lo kok malah nyalain gue. Lo yang jalannya gak hati-hati."


"Sis-Siska?"


Mendadak rasa kesal dan emosi yang ada dalam hati Andrian musnah seketika. Ia malah terdiam akan pesona Siska yang berada di hadapannya saat ini.

__ADS_1


"Minggir!" kata Siska dengan nada jutek.


"Ya Tuhan, ternyata kamu juga galak ya?"


"Gue bilang minggir. Jangan halangi jalan gue karena gue gak ada urusannya sama lo."


Andrian memberikan jalan untuk Siska yang kelihatannya masih kesal dengan apa yang baru saja terjadi. Tapi Andrian tidak ingin ambil pusing dengan apa yang Siska katakan barusan. Rasa kagumnya masih sama, tidak berkurang sedikitpun. Malahan, kini makin bertambah kagum dengan sikap tegas Siska barusan.


Mata Siska liar mencari seseorang dalam kelas itu. Tapi, orang yang ia cari tidak ia temu keberadaannya. Siska menyerah karena tidak menemui orang yang dia cari.


"Wuih ... tumben anak kelas ekonomi datang kesini. Ada perlu apa? Cari siapa?" tanya Sean sambil menghampiri Siska.


"Bukan urusan lo," ucap Siska dengan sangat jutek.


"Minggir!"


Andrian dengan cepat menarik tangan Sean untuk memberi jalan buat pujaan hatinya.


"Silahkan. Jika kamu butuh bantuan, jangan sungkan-sungkan untuk bicara padaku. Aku siap membantu kamu," kata Andrian dengan senyum termanis yang ia punya.


Siska tidak bicara apapun. Ia malah terus berjalan meninggalkan kelas para pangeran itu dengan langkah cepat. Secepat yang ia bisa.


Sean yang kaget, mematung melihat apa yang Andrian lakukan barusan. Kata-kata tersopan yang belum pernah Sean dengarkan dari mulut Andrian, kini mengalir bak air terjun yang jatuh dari ketinggian menuju dataran rendah.

__ADS_1


"Apa ... apa aku tidak salah dengar? Apa aku sedang bermimpi sekarang?" tanya Sean pada dirinya sendiri.


"Lo gak sedang bermimpi. Gue sedang bertemu bidadari gue tadi," kata Andrian terus saja tersenyum sambil melihat Siska walau tidak terlihat sama sekali lagi.


"Lo, lo gak sedang serius kan An?"


"Siapa bilang gue gak serius? Gue malahan sangat amat serius saat ini. Gue akan kejar bidadari gue sampai bidadari itu gue dapatkan." Andrian berjalan menjauhi Sean setelah bicara seperti itu.


"Lo dan Satya sekarang sama-sama aneh ya. Sama-sama bikin gue bingung dan pusing dengan tingkah kalian berdua. Tuhan ... pada kenapa sih sahabat-sahabat gue ini? Bingung gue," kata Sean bicara sendirian sedang Andrian sudah tidak terlihat lagi.


Belum hilang kebingungan yang melanda hati Sean. Cindy pun datang menghampirinya.


"Sean. Dimana Satya?" tanya Cindy seperti biasa ketika bertemu Sean atau Andrian.


"Gak tahu."


"Lho, kok gak tahu sih?"


"Ya emang gak tahu. Gue kan bukan orang tuanya. Mana gue tahu," kata Sean sangat kesal. Ia lampiaskan kekesalan yang ia miliki pada Cindy sekarang.


"Lo kok ngomong gitu sih Sean," kata Cindy sambil memasang wajah sedih.


"Ya habisnya, setiap kali lo datang dan bertemu dengan gue, lo selalu gak punya pertanyaan lain selain bertanya, dimana Satya? Dimana Satya? Satya itu bukan anak kecil yang gak bisa jalan sendri, yang harus gue jaga kemanapun dia berada," kata Sean dengan sangat amat kesal.

__ADS_1


Mendengarkan perkataan Sean barusan, Cindy langsung meninggalkan Sean. Ia ingin mencari sendiri dimana Satya berada sekarang. Ia bertanya pada semua orang yang ia temui di kampus.


__ADS_2