Perjodohan Dua Pewaris Tunggal

Perjodohan Dua Pewaris Tunggal
#45


__ADS_3

Hubungan Satya dan Sabrina masih belum membaik. Gosip yang menyebar di kampus bagaikan api yang membakar daun kering. Begitu kuat berkobar-kobar. Sehingga sulit di padamkan.


Sudah satu minggu kejadian itu berlalu. Tapi masih belum ada titik terang dari usaha yang Satya dan teman-temannya lakukan. Sabrina masih marah dengan apa yang Satya lakukan kemarin.


Tapi, Satya ternyata bukanlah laki-laki yang mudah menyerah. Dia tetap semangat untuk mendekati Sabrina dengan berbagai cara. Ia selalu mencari perhatian Sabrina dan selalu mencari cara agar bisa berbaikan dengan Sabrina.


Saat mata kuliahan nya berakhir, Satya seperti biasa buru-buru keluar untuk menemui Sabrina. Ia melewati lorong menuju taman kampus.


Terukir senyum indah di bibir Satya saat menemukan sosok gadis yang ia cari. Segera dia menghampiri Sabrina dengan langkah cepatnya. Kebetulan, Sabrina sedang berjalan sendirian menuju salah satu kursi tak jauh dari kelasnya.


"Rina!" Satya memanggil Sabrina sambil tersenyum.


Seperti biasa, Sabrina akan menghindari Satya. Ia bukannya berhenti, malahan menjauh dan membatalkan niatnya untuk duduk di kursi itu.


Satya tidak merasa kesal dengan berbagai penolakan yang Sabrina berikan. Ia malah tersenyum dan semakin gencar untuk memenangkan hati Sabrina. Sudah menjadi kebiasaan buat Satya selama satu minggu terakhir ini, main kejar-kejaran dengan Sabrina layaknya anak kecil yang sedang ngambekan karena tidak mendapatkan apa yang ia mau.


Senyum yang terlukis di bibir Satya tiba-tiba sirna ketika mata Satya tanpa sengaja melihat kelantai dua. Sesuatu dari lantai dua jatuh dengan cepat kemungkinan akan mengenai Sabrina.

__ADS_1


"Rina awas!" teriak Satya sambil berlari untuk menyelamatkan Sabrina.


Bruk ....


Sesuatu yang tidak bisa di hindari jatuh tepat mengenai kepala Satya. Sedangkan Sabrina berada dalam pelukan Satya saat ini.


Semua itu terjadi begitu cepat. Vas bunga dari tanah liat itu jatuh begitu saja. Sasaran vas bunga itu adalah Sabrina, tapi Satya datang menjadi tameng sehingga yang tertimpa vas bunga itu Satya bukan Sabrina.


Darah segar mengalir perlahan melewati pelipis Satya. Sabrina baru menyadari hal itu ketika tubuh yang memeluknya perlahan lemah dan jatuh.


"Satya! Sat!" Sabrina begitu panik ketika melihat mata Satya tertutup dan kakinya tidak mampu menopang tubuhnya lagi.


"Sat, jangan bercanda dong sama gue. Buka mata lo Satya," kata Sabrina mulai putus asa.


Buliran bening mulai merembes melintasi kedua mata Sabrina saat ini. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Kepanikan membuat Sabrina mendadak tidak bisa berpikir lagi.


"Apa yang terjadi Rina?" tanya Siska yang melihat Sabrina sedang memeluk tubuh Satya.

__ADS_1


"Cepat panggil ambulance. Kalian kenapa pada diam aja," ucap Sean tak kalah panik.


"Udah kok. Hanya saja, ambulance nya masih belum sampai," kata salah satu dari mahasiswa yang berkerumun itu menjawab.


"Rina, apa yang terjadi? Kenapa Satya bisa terluka seperti ini?" tanya Andrian tak kalah paniknya.


"Gue ... gue gak bisa ceritain yang selengkapnya. Tapi, Satya seperti ini karena nyelamatin," ucap Sabrina sambil menahan isak tangisnya.


Suara sirene dari ambulance membuat kerumunan itu harus menyingkir perlahan. Mereka memindahkan tubuh Satya kedalam ambulance. Sabrina dan Siska juga ikut masuk. Sedangkan Sean dan Andrian, mereka mengikuti dari belakang dengan menggunakan mobil mereka.


Samapi di rumah sakit, mereka cepat-cepat membawa Satya untuk diobati. Sedangkan Sabrina dan Siska, harus menunggu di luar.


"Lo tenang ya Rina, gue yakin kalo Satya gak papa," kata Siska menyemangati sahabatnya.


Ini kata-kata semangat yang terus Siska ucap berulang kali pada Sabrina. Sejak mereka memasuki ambulance hingga sampai ke rumah sakit.


"Semuanya salah gue Sis, jika gue gak keras kepala, semuanya gak akan seperti ini. Satya terluka karena melindungi gue," kata Sabrina dengan air mata penyesalan dan kecemasan yang terus mengalir.

__ADS_1


"Lo gak boleh gitu dong. Lo gak bisa nyalain diri lo sendiri karena Satya yang terluka. Semua itukan sudah takdir," kata Siska terus memberi semangat buat sahabatnya.


Pintu kamar rawat itu terbuka. Dokter yang menangani Satya muncul dari balik daun pintu tersebut. Dengan cepat, mereka berempat menghampiri sang dokter dan menghuni sang dokter dengan banyak pertanyaan yang sama. Yaitu, pertanyaan bagaimana keadaan Satya saat ini.


__ADS_2