Perjodohan Dua Pewaris Tunggal

Perjodohan Dua Pewaris Tunggal
#38


__ADS_3

"Ya udah, kalo gitu lo jelasin sama Sabrina kalo lo gak punya pacar atau gak pernah suka sama siapapun. Bilang sama dia kalo lo suka dia," kata Siska penuh semangat.


Sekarang, Siska merasa bertemu jalan mulus yang terang benderang. Hatinya mendadak bahagia ketika tahu kalau Satya cinta sahabatnya. Ia merasakan kebahagiaan buat Sabrina sahabat yang telah ia anggap seperti saudara ini.


"Gak mungkin Siska," ucap Satya lemah.


"Kenapa?"


"Sabrina gak akan peduli dengan apa yang gue katakan nantinya."


"Kenapa gak peduli?"


"Karena dia gak suka gue. Dia gak pernah ingin mempertahankan pernikahan kami. Dia gak pernah punya rasa sedikitpun sama gue. Jadi, percuma juga kalo gue jelaskan sama Sabrina, kalo gue gak pacaran sama Cindy."


"Siapa bilang Sabrina gak suka sama lo?"


"Gue .... "


"Lo gak peka Satya. Itulah salahnya lo sekarang. Sabrina itu sebenarnya punya rasa sama lo."


"Dari mana lo tahu? Apa Sabrina pernah bilang sama lo kalo dia juga punya rasa sama gue?" tanya Satya seakan tak percaya namun matanya berbinar senang.


"Sabrina memang tidak pernah mengatakan dia suka sama lo. Tapi gue adalah sahabatnya. Gue tahu bagaimana sifat Sabrina. Gue juga tahu, kalo saat ini dia sedang sakit hati saat tahu lo punya pacar padahal lo adalah suaminya. Ya, walaupun kalian menikah karena perjodohan."


"Apa lo yakin Siska, Sabrina suka gue?"


"Gue yakin banget. Bahkan, seratus persen gue yakin kalo Sabrina juga punya rasa yang sama kayak lo."


"Tapi, Sabrina tidak pernah menunjukkan tanda-tanda kalo dia suka sama gue."


"Satya, lo harus tahu satu hal. Gue dan Sabrina udah temanan sejak lama. Gue tahu bagaimana sahabat gue. Gue juga tahu tentang sejarah cintanya yang membuat dia berubah keras."

__ADS_1


"Maksud lo?"


"Asal lo tahu Satya. Dulu, Sabrina itu adalah gadis yang sangat polos dan lembut. Dia gadis manis yang begitu penyabar. Hingga patah hati membuat Sabrina berubah jadi gadis yang keras dan galak. Ia juga jadi sangat jutek sama laki-laki. Sabrina mengira, kalau semua laki-laki itu sama aja. Sama-sama bikin kesal hatinya."


"Jadi ... Sabrina berubah karena patah hati?"


"Iya. Sabrina tidak ingin merasakan hal yang sama untuk yang kedua kalinya. Makanya, dia berusaha menjauhi semua laki-laki hanya karena tidak ingin sakit hati lagi."


"Apa gue bisa meruntuhkan pandangannya terhadap laki-laki Siska?"


"Lo bisa. Bahkan, lo paling bisa mengubah pemikiran Sabrina itu. Gue yakin, kalo lo adalah orang yang paling tepat untuk mengisi kekosongan yang selama ini Sabrina rasakan."


"Tapi ... gue gak yakin kalo gue bisa Siska."


"Lo bisa Satya. Percaya dengan diri lo sendiri."


"Gimana caranya?"


"Oke, gue akan berusaha sekuat tenaga," kata Satya penuh semangat.


Satya merasakan semangat baru dalam hidupnya. Kekecewaan yang ia rasakan, kini telah sirna, lenyap seketika. Ia bergegas meninggalkan ruangannya. Satya membatalkan niatnya untuk tinggal di restoran malam ini. Ia akan segera pulang untuk bertemu dengan Sabrina.


Satya sudah membulatkan tekad untuk membuat Sabrina jatuh cinta padanya. Ia akan hadapi apapun rintangannya nanti. Satya tidak takut lagi dengan kegalakan Sabrina.


"Mas Satya, tunggu!" kata Ririn mencegah langkah buru-buru Satya.


"Ada apa?" tanya Satya malas.


"Mas Satya mau kemana?"


"Pulang."

__ADS_1


"Pulang?"


"Iya, pulang."


"Mas, bisakah aku bertanya satu hal terlebih dahulu?"


"Mau tanya apa?"


"Apakah ... apakah yang perempuan tadi katakan itu benar?" tanya Ririn ragu-ragu.


"Iya. Apa yang Siska katakan itu memang benar."


"Jadi, mas Satya benar-benar sudah menikah mas."


"Iya. Aku memang sudah menikah. Aku sudah menikah dan sudah punya keluarga."


"Oh," ucap Ririn datar dengan raut wajah sedih.


"Ya sudah. Kalau tidak ada yang ingin kamu bicarakan lagi, aku mau pergi sekarang. Permisi," ucap Satya tidak ingin membuang waktu lagi.


Satya berjalan meninggalkan Ririn yang terlihat tidak bisa berkata apa-apa. Gadis itu benar-benar terpukul saat tahu Satya sudah menikah.


"Apa yang kamu bicarakan sama mas Satya barusan?" tanya karyawan yang merasa penasaran dengan wajah putus asa Ririn.


"Tidak ada."


"Jangan bohong. Kamu pasti menanyakan soal apa yang terjadi tadi itu kan?"


"Kalau sudah tahu, kenapa masih bertanya."


"Aku hanya ingin memastikan saja. Jadi, apa yang mas Satya jawab. Apa benar dia sudah menikah?"

__ADS_1


"Iya," jawab Ririn singkat sambil berjalan meninggalkan karyawan itu.


__ADS_2