Perjodohan Dua Pewaris Tunggal

Perjodohan Dua Pewaris Tunggal
#20


__ADS_3

"Sat, gue mau ke rumah orang tua gue hari ini. Dan, mungkin nanti malam gue nginap di sana. Lo gak keberatan kan kalo gue nginap rumah orang tua gue, " kata Sabrina saat mereka sedang berada di meja makan.


"Nggak kok. Kenapa gue harus keberatan sama lo yang mau berkunjung ke rumah orang tua lo," kata Satya masih sibuk dengan sarapannya.


"Ya gue tahu lo gak keberatan. Gue kan cuman ngasih tahu aja sama lo. Biar nanti lo gak bingung saat gue gak ada di rumah."


"Hmz ... emang lo gak kuliah ya besok?"


"Gak. Kebetulan besok gue gak ada mata kuliahan."


"Hmm ... Rina, gue boleh ikut lo ke rumah orang tua lo gak?" tanya Satya ragu-ragu.


Sabrina melihat Satya dengan tatapan aneh. Sejujurnya, Sabrina ingin menghindar dari Satya dengan cara nginap ke rumah orang tuanya. Kejadian kemarin masih membuat dirinya merasa gak enak setiap kali berhadapan dengan Satya. Makanya, ia berharap bisa menenangkan hati dengan cara nginap di rumah orang tuanya.


"Gue gak maksa kok. Kalo lo gak ngebolehin gue ikut juga gue gak papa," kata Satya ketika mendapat tatapan aneh dari Sabrina.


"Ngapain lo mau ikut gue ke rumah orang tua gue?"


"Gak ada sih. Gue hanya ingin lihat dan ngerasain, gimana sih punya orang tua lengkap. Selama inikan, gue cuma punya papa. Dan papa gak pernah ngizinin gue nginap ke rumah teman-teman gue."


Mendengar hal itu, hati Sabrina agak merasa iba. Dia tahu kalau Satya sangat butuh kasih sayang orang tua lengkap. Ada rasa kasihan jika ia tidak mengizinkan Satya ikut dengannya.


"Kuliahan lo gimana kalo lo ikut gue. Kan sama aja jatohnya dengan lo ikut gue atau lo ada di rumah. Lo gak bisa ngerasain hidup punya mama juga kan, karena paginya lo kuliah."


"Untuk masalah itu, lo tenang aja. Gue juga kebetulan gak ada jam kuliah besok."

__ADS_1


"Ya udah kalo gitu, lo boleh ikut gue. Asal ...."


"Asal apa?" tanya Satya tak sabar lagi.


"Asal lo jangan nyusahin mama gue. Awas aja kalo berani nyusahin mama gue. Kena akibatnya nanti," kata Sabrina ngancam Satya.


"Oke. Gue janji kalo gue gak akan nyusahin mama," ucap Satya bahagia.


"Mama-mama. Mama gue, lo gak boleh ngomong mama gitu aja."


"Ya udah. Mama gue," kata Satya dengan senyum.


"Ih ... enak aja lo. Mama gue bukan mama lo. Lo harus bilang, mama Sabrina."


"Gak gue ajak lo baru tahu rasa." Ancam Sabrina.


"Gak bisa. Lo udah ngebolehin gue ikut. Kata-kata yang sudah terucap gak akan bisa di tarik lagi," kata Satya sambil meninggalkan Sabrina.


"Lo ya .... "


Mereka sama-sama tersenyum dengan apa yang baru saja terjadi. Mereka tak ubah anak kecil yang sedang rebutan satu permen. Yang sama-sama tidak mau mengalah.


Perlahan, rasa nyaman mulai tercipta ketika mereka bersama. Ada rasa bahagia ketika perdebatan kecil berlangsung. Sama-sama menyimpan senyum ketika selesai berdebat. Mereka sama-sama menikmati waktu bersama sekarang.


____

__ADS_1


Satya dan Sabrina sampai ke rumah orang tua Sabrina. Mama yang kaget dengan kedatangan anak dan menantunya, kini bergegas menyambut keduanya dengan senyum lebar di bibir.


"Satya, Sabrina. Kalian datang kok gak kasih kabar dulu nak," kata mama dengan nada bahagia.


"Kalo kasih kabar itu bukan kejutan namanya ma," kata Sabrina.


"Kamu itu ya, gak pernah berubah Rina."


"Mau berubah kayak apa ma. Anak mama inikan memang seperti ini, tidak bisa merubah lagi."


"Kalo dibilangin ngejawab aja kerjaannya. Gak takut dosa kamu?"


"Takut mama."


"Lihat nih Satya, anak mama ini memang keras kepala seperti ini. Gak tahu lagi gimana mama harus ngajarinnya biar bener nih anak," kata mama pada Satya yang baru bisa bersalaman setelah Sabrina menyingkir.


"Mama udah berhasil kok ma, mendidik Sabrina. Setiap orang kan punya kelemahan dan kekurangan masing-masing," kata Satya membela Sabrina.


Tanpa sadar, sebuah senyum terlukis dibibir Sabrina. Ia merasa bahagia hanya karena Satya membela dia dihadapan mamanya.


"Bahagia kamu ya, dibelain sama Satya," kata mama ketika melihat anaknya senyum-senyum sendiri.


"Apaan sih ma. Siapa yang bahagia? Siapa juga yang merasa dibelain sama Satya."


"Ya udah deh. Serah kamu ajalah kalo gitu. Ayo nak masuk. Mama akan masakin masakan spesial buat kamu. Kamu bilang aja, kamu mau makan apa. Mama akan masakan dengan cepat buat kamu," kata mama pada Satya.

__ADS_1


__ADS_2