Perjodohan Dua Pewaris Tunggal

Perjodohan Dua Pewaris Tunggal
Ext. part 2


__ADS_3

Tidak ada makan malam, tidak ada suara obrolan dan tidak ada jalan-jalan. Mereka hanya berdiam diri di kamar hingga malam berakhir.


Bukan berdiam diri saja. Satya malah mengulangi apa yang ia lakukan itu berkali-kali hingga menjelang pagi. Anehnya, Sabrina tidak menolak sekalipun. Walau ia merasa perih dan sakit, ia tetap saja menerima apa yang Satya lakukan tanpa ada hasrat untuk menolak.


Paginya, Sabrina tersadar dengan sekujur tubuh yang terasa sakit-sakit semua. Seperti baru selesai bertengkar dengan harimau yang ganas. Tubuhnya juga di penuhi dengan warna merah-merah yang terlihat sangat jelas. Untungnya, tanda merah itu tidak ada di lehernya satu pun. Hanya ada di tempat-tempat tertutup saja.


Sabrina seakan susah untuk menggerakkan kakinya. Rasanya terlalu perih ditempat terlarangnya itu. Sehingga susah untuk melangkahkan kaki. Jangankan berjalan, untuk ia gerakkan turun dari atas tempat tidur saja terasa sangat perih.


"Rina, apa kamu perlu aku bantu untuk ke kamar mandi?" tanya Satya yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Tidak perlu."


Sabrina berusaha berjalan walau rasanya sakit. Satya melihat jelas kalau Sabrina memang butuh bantuannya. Tanpa kata lagi, Satya langsung menggendong Sabrina.


"Apa-apaan sih Satya! Turunkan aku!"


"Udah. Jangan bantah," kata Satya tanpa menghiraukan apa yang Sabrina katakan.


Sampai di kamar mandi, Satya meletakkan Sabrina dalam bath. Sabrina hanya bisa melihat saja apa yang Satya lakukan.


"Apa perlu aku bantu kamu mandi?"


"Tidak perlu. Aku bisa mandi sendiri."


"Ya udah, selesai mandi panggil aku."


Sabrina hanya terdiam saja. Keadaan sekarang sepertinya sudah kebalik. Satya yang jadi serigala dan Sabrina yang jadi domba. Karena Sabrina terlihat hanya bisa menuruti apa yang Satya katakan saja. Ia tidak berniat untuk melawannya sedikitpun.

__ADS_1


Selesai mandi, Sabrina merasa tubuhnya lumayan ringan. Ia tidak memanggil Satya untuk membawanya keluar dari kamar mandi. Walaupun perihnya masih terasa, tapi ia tetap paksakan untuk berjalan dengan kakinya sendiri.


Ternyata, Satya tidak ada di kamar itu saat Sabrina membuka pintu kamar mandi. Kamarnya kosong. Sabrina mencoba mencari-cari ponselnya. Ia berniat untuk menghubungi Satya untuk menanyakan dimana Satya sekarang.


Baru saja ia ingin melakukan hal itu, pintu kamar mereka terbuka. Satya muncul dengan kantong plastik di tangannya.


"Kamu udah selesai Rina? Maaf ya, aku agak lama keluarnya."


"Kamu kemana?"


"Aku beli obat, sekalian beli sarapan buat kita. Hari ini, mungkin kita akan istirahat di kamar aja."


Sabrina hanya diam. Dia tidak menjawab apa yang Satya katakan. Diamnya Sabrina membuat Satya merasa bersalah. Ia berpikir kalau Sabrina sedang marah padanya.


"Rina, aku minta maaf ya. Aku gak maksud buat kamu sakit kok Rin. Maafkan aku. Jangan marah padaku Rina," kata Satya dengan wajah penuh sesalnya.


"Aku gak marah pada kamu kok Sat. Gak perlu merasa bersalah seperti itu. Gak ada yang perlu di maafkan juga kok."


"Iya sih, aku kesal padamu. Kesal karena kamu jadi cowok kok gitu amat."


"Gitu gimana?"


"Rakus!"


"Ya Tuhan ... namakan juga baru pertama kali. Aku juga gak bisa ngontrol diri soalnya. Maafin aku yah. Nanti pasti gak akan sakit lagi," kata Satya sambil menoel hidung Sabrina.


"Nanti?"

__ADS_1


"Iy-iya, nanti-nanti. Eh, keburu dingin sarapannya. Ayo sarapan dulu," ucap Satya buru-buru mengalihkan topik pembicaraan.


Sabrina tersenyum dengan tingkah Satya yang terkadang buat hatinya jatuh cinta lagi dan lagi. Meskipun awalnya pernikahan itu hanyalah sebuah penyatuan dua pewaris tunggal perusahaan. Tetapi, kini sudah berubah. Pernikahan itu bukan penyatuan dua pewaris tunggal karena terpaksa lagi, tapi karena cinta.


Satya menyuapi Sabrina sarapan sendok demi sendok. Sampai makanan itu habis semua. Lalu, ia juga memberikan Sabrina obat yang sempat ia beli di apotek. Obat penghilang nyeri.


Mereka berdua benar-benar bulan madu. Bukan hanya jalan-jalan karena ada kesempatan saja. Bulan madu yang sangat dinikmati oleh Satya dan Sabrina.


______


Sedangkan di sisi lain, Kamila dapat hukuman dari kampus. Penyelidikan papa tentang kecelakaan Satya ternyata berhasil. Orang yang papa minta untuk melakukan penyelidikan mengatakan, kalau pot bunga itu jatuh karena kesengajaan.


Ada seseorang yang sengaja ingin mencelakai Sabrina. Namun malangnya, Satya yang kena. Karena Satya yang melindungi Sabrina dari jatuhan pot itu. Orang yang melakukan hal itu tak lain adalah Kamila dan Cindy.


Sebagai hukumannya, Cindy dan Kamila dikeluarkan dari kampus. Karena telah melakukan tindak kejahatan. Mereka juga tidak dibenarkan masuk ke kampus lain yang ternama.


Papa Cindy merasa malu akan hal itu, ia dan keluarganya pun membawa Cindy pindah kembali ke negara dimana mereka bertempat tinggal dahulu. Sedangkan Kamila, perusahaan ayahnya terancam bangkrut karena ulahnya itu.


Perusahaan papanya jatuh dalam satu malam saja. Membuat sang papa dan mamanya tidak bisa melanjutkan kariernya di dunia bisnis lagi. Mereka terancam miskin karena kesalahan itu.


Sedangkan Sean, ia telah menemukan tambatan hati yang mampu mencuri hatinya. Dia adalah Ririn. Pegawai restoran yang bekerja di restoran milik Satya.


Sean tak sengaja menemukan Ririn saat Ririn di ganggu oleh para preman jalanan ketika ingin pulang dari restoran tempatnya bekerja. Sean dan Ririn sama-sama terpaut pada pandangan pertama.


Sejak hari itu, hubungan mereka semakin dekat saja. Tak jarang, Sean datang untuk makan di tempat Ririn bekerja. Ia juga sering mengantarkan Ririn ketika gadis itu pulang.


Dan ... Siska. Ia sudah bertunangan dengan Andrian satu hari setelah pernikahan Satya dan Sabrina. Bukan satu hari sebenarnya. Selesai resepsi Satya dan Sabrina siang itu. Malamnya, mereka mengadakan pertunangan.

__ADS_1


Jarak waktu yang mereka tempuh juga tidak lama. Mereka hanya mengambil jarak waktu selama dua bulan setelah hari pertunangan itu terjadi. Kedua belah keluarga sangat antusias dalam pertunangan itu. Walau Siska terlahir dari keluarga yang sederhana, namun keluarga Andrian tidak mempermasalahkan hal tersebut. Mereka menerima Siska dengan lapang dada.


-~~***Tamat***~~-


__ADS_2