Perjodohan Dua Pewaris Tunggal

Perjodohan Dua Pewaris Tunggal
#48


__ADS_3

"Kayaknya, kita harus pamit sekarang. Udah sore banget soalnya," kata Kamila sambil menarik tangan Cindy.


"Udah dari tadi juga kok sorenya," kata Sabrina tanpa melihat mereka berdua.


Satya melihat Sabrina penuh perasaan. Ia merasa bahagia dengan apa yang Sabrina lakukan barusan.


"Rina, aku ingin tanya satu hal, boleh?"


"Tanya apa?"


"Apakah perkataan barusan tadi itu nyata?"


"Perkataan yang mana?"


"Perkataan ungkapan perasaan. Bisakah aku anggap itu adalah ungkapan cinta yang aku tunggu selama ini?" tanya Satya penuh harap.


"Itu .... "


"Jangan bilang kalo itu hanya sebuah kata yang tidak punya arti apa-apa. Karena aku akan sangat amat kecewa mendengarkannya."


Satya menatap wajah Sabrina. Tatapan itu seakan menusuk jantung Sabrina. Ia tidak bisa membohongi hatinya lagi sekarang. Ia juga cinta dengan Satya sebenarnya.


"Rina, aku cinta padamu. Harus dengan apa lagi aku buktikan rasa cinta itu?" tanya Satya sambil memegang kedua tangan Sabrina dan menatap wajah Sabrina yang tiba-tiba mendadak bersemu malu.


"Sebenarnya ... aku juga cinta kamu Satya," ucap Sabrina pelan, hampir tidak terdengar sama sekali.


"Apa!?"


"Jangan minta aku mengulanginya lagi. Karena aku tidak akan mengulangi apa yang aku katakan."


"Aku tidak minta kamu ulangi perkataan mu Rina. Karena aku sudah mendengar dengan sangat jelas apa yang kamu katakan. Rina, maukah kamu berjanji satu hal denganku?"


"Apa?"

__ADS_1


"Jadilah istriku untuk yang pertama dan terakhir, yang akan menemani aku dari muda hingga sama-sama tua nanti."


Sabrina mengangguk pelan. Ia masih menundukkan wajahnya sekarang. Tidak sanggup melihat tatapan Satya yang membuat jantungnya berdetak tidak normal.


Tiba-tiba, Satya menarik tubuh Sabrina. Membawa tubuh itu kedalam pelukannya.


"Satya!" Sabrina kaget, namun tidak menolak. Ia bahkan membalas pelukan Satya dengan hangat.


"Sa .... " Andrian dan Siska yang tidak tahu ada adegan romantis dalam kamar itu. Mendadak saling pandang untuk sesaat. Ia awalnya ingin memanggil temannya. Tapi mereka batalkan karena melihat Sabrina dan Satya sedang berpelukan mesra.


"Sa ... salah masuk kamar," kata Andrian pada Siska.


"Iya. Ayo cari kamar yang lain," jawab Siska membenarkan apa yang Andrian katakan.


"Eitc, mau kemana kalian berdua," kata Sabrina sambil melepaskan diri dari pelukan Satya.


"Kalian berdua datang gak tepat waktu ah," kata Satya pula dengan nada kesal yang di buat-buat.


"Ya mana kita tahu. Lo sih gak kasih tahu kita duluan. Kalo kita tahu mah gak akan kita gangguin kalian berdua lagi mesra-mesraan," kata Andrian.


"Ya Tuhan ... istri lo masih galak aja ya Sat. Kok lo gak berhasil-berhasil sih ngilangin galaknya Sabrina?"


"Biar aja dia galak. Nantikan gue gak perlu terlalu cemas jagain dia takut di goda sama laki-laki lain."


"Oh, jadi gak perlu jagain aku lagi gitu?" tanya Sabrina kesal.


"Bukan itu maksud aku sayang. Aku .... ".


"Cie ... gue nyium bau-bau sesuatu yang baru bersemi gitu nih kayaknya," kata Siska sambil tersenyum menggoda.


"Iya, bukan hanya lo deh kayaknya yang nyium bau wangi itu Sus, gue juga," kata Andrian ikut menggoda sahabatnya.


"Gue kok berasa gak enak hati ya," kata Siska.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya mereka serentak.


"Ya gak enak hati ada di tengah-tengah bau wangi inilah. Nanti dikira jadi benalu lagi Ndri."


"Iya, lo bener banget Sis. Kita gak boleh lama-lama disini. Mereka pasti lagi mau berduaan sekarang," kata Andrian.


"Kalian berdua itu apa-apaan sih. Bikin kesel gue aja deh," kata Sabrina.


"Sayang, biarkan aja dua anak manusia itu godain kita sepuas mereka. Nanti tiba giliran kita berdua yang godain mereka berdua."


"Maksud kamu?"


"Kamu gak tahu ya Yang, mereka sedang pendekatan sekarang, alias PDKT."


"Tau dari mana lo? Jangan asal bicara ya," kata Siska tak terima.


"Alah, bilang aja kalo iya mah. Gak ada yang larang dan marah juga," kata Satya.


"Cie ... wajahnya Siska bersemu tuh," kata Sabrina.


"Ih, Sabrina. Lo malah ikut-ikutan juga. Lo kan sahabat gue."


"Siapa suruh lo gangguin gue. Eh tapi ... kalian berdua itu cocok lo Sis, Ndri."


"Cocok apaan?"


"Cocok kalo jadi pasangan," kata Sabrina dan Satya serentak.


"Duh, kompaknya," kata Andrian setelah lama terdiam mendengarkan apa yang mereka debatkan.


"Tapi, makasih banyak lo ya atas restunya. Doain aja supaya gue berhasil buat dapetin hatinya dia. Gue lagi usaha ini. Nanti, kita bisa bikin resepsi bareng-bareng, iya gak?"


"Lo lupa ya kalo kita berdua udah nikah?" tanya Satya.

__ADS_1


"Oh iya ya, lupa gue. Tapikan kalian berdua belum adakan resepsi."


__ADS_2