
"Maksud lo gadis cantik kayak Sabrina gitu? Cantik tapi berbisa. Lo aja bisa suka sama tuh macam. Lalu, apa yang salah dengan gue yang suka dengan gadis sederhana seperti Siska?" tanya Andrian.
"Kalian kok bahasan nya gak nyambung banget sih. Kenapa harus kearah Sabrina segala?" tanya Satya tak suka.
"Lah, ini satu, kenapa lo yang sewot ya saat gue bahas soal Sabrina. Gue jadi curiga sama lo Sat, saat gue bahas soal Sabrina lo pasti gak suka. Ada apa dengan lo sih sebenarnya?" tanya Andrian.
Tepat saat itu, Cindy datang bersama sahabatnya. Mereka menghampiri Satya, Sean, dan juga Andrian.
"Hai, pada ngomongin apa sih kalian bertiga? Kayaknya serius banget," kata Cindy sambil terus mengambil posisi duduk di samping Satya.
"Ini lagi bahas soal .... "
"Soal pelajaran yang akan kita ikuti nanti," ucap Sean memotong perkataan Adrian dengan cepat.
"Oh, gue kira bahas soal apa. Oh ya Sat, nanti temani gue ke supermarket sebentar ya."
"Supermarket?" tanya Satya.
"Iya. Bisa kan? Bisa yah," kata Cindy dengan nada memohon.
"Kapan?"
"Nanti sore saat pulang dari kampus."
"Ya udah," ucap Satya dengan santai.
__ADS_1
"Makasih banyak Satya," kata Cindy dengan nada manja.
Satya lupa kalau dia ada janji dengan Sabrina. Janji untuk pulang bareng Sabrina dan membelikan Sabrina baju untuk menghadiri undangan makan malam di rumah papanya.
Entah kenapa, Satya tiba-tiba bisa melupakan janji yang telah dia buat sendiri.
____
Setelah kelas selesai, Sabrina bergegas meninggalkan kan kelasnya. Ia tidak ingin membuat Satya menunggunya terlalu lama di persimpangan kampus. Di sanalah, biasanya mereka akan bertemu.
"Lo kok buru-buru banget Rina," kata Siska ketika melihat Sabrina yang tergesa-gesa.
"Iya, gue ada janji sama .... " kata-kata itu harus terhenti ketika ia ingat kalau Siska sang sahabat masih belum tahu tentang pernikahan rahasianya dengan Satya.
"Sama?" tanya Siska ingin Sabrina melanjutkan kalimat yang ia gantung.
"Siapa?"
"Itu rahasia."
"Wah, lo pintar nyimpan rahasia juga ya sama gue sekarang."
"Siska. Nanti, ada waktunya gue ceritain sama lo ya. Tapi bukan sekarang."
"Kenapa gak sekarang aja?"
__ADS_1
"Belum saatnya kalo sekarang. Udah ya gue berangkat duluan," ucap Sabrina sambil bergegas meninggalkan Siska.
"Eh ... eh, Rina .... "
Sabrina tidak menghiraukan panggilan Siska lagi. Ia langsung saja berjalan cepat menyusuri lorong kampus.
Sementara itu, disisi lain. Satya sedang bersama Cindy menuju supermarket. Mereka ngobrol saat berada didalam mobil. Satya benar-benar telah melupakan janjinya pada Sabrina. Ia tidak ingat kalau malam ini ia akan makan malam bersama di rumah papanya.
Hampir satu jam, Satya berjalan di supermarket bersama Cindy. Mereka mampir disalah satu restoran dan juga main game bersama.
Sedangkan Sabrina, dari satu jam yang lalu, ia sudah berada di persimpangan kampus menunggu Satya. Ia lupa untuk melihat kelas Satya tadinya. Ia tidak tahu kalau kelas Satya sudah bubar duluan, sebelum kelasnya yang bubar.
"Jam berapa sekarang ya? Dimana Satya? Kok lama banget," tanya Sabrina pada dirinya sendiri.
Sabrina tidak bisa melihat jam, apalagi menghubungi Satya. Karena ponsel yang ia punya, saat ini sedang kehabisan baterai.
Setengah jam pun telah berlalu. Sabrina merasa dirinya sudah sangat lama berada di persimpangan jalan ini. Ia sudah banyak sekali mendapat tatapan aneh dari orang-orang yang sedang berlalu lalang maupun yang berada di sekitar simpang ini.
Saat taksi lewat, Sabrina memilih untuk menghentikannya. Ia tidak punya kesabaran lagi untuk menunggu Satya di simpang ini. Ia memutuskan untuk pulang saja.
Saat melewati jalan yang tergolong sepi, Sabrina melihat ada sebuah mobil yang sedang jadi incaran beberapa preman jalanan. Ia awalnya tidak ingin ikut campur, tapi ketika merasa kalau mobil itu tidak asing lagi baginya, ia memutuskan untuk meminta sang sopir maju dan menghentikan mobil itu tak jauh dari para preman jalanan itu berada.
"Tapi Nona .... " Sopir taksi itu kelihatannya tak setuju dengan apa yang Sabrina katakan.
"Udah, bapak ikuti saja apa yang saya katakan. Bapak gak perlu keluar dari taksi ini."
__ADS_1
"Ini sangat bahaya nona. Nona ini seorang perempuan, bagaimana kalau para preman itu malah menyakiti nona. Saya tidak bisa menolong nona. Saya tidak kuat untuk melawan tiga preman jalanan yang berbadan besar itu."
"Bapak tenang saja pak. Gak perlu cemas dengan saya. Bapak cuma perlu lakukan apa yang saya katakan. Saya harus menolong orang yang ada di dalam mobil itu pak. Jika tidak, saya akan merasa bersalah."