
"Apa lo udah selesai ngomongnya Siska?" tanya Satya dengan santai.
"Belum! Gue masih ingin ngomong banyak hal dengan lo Satya. Gue gak suka ya, lo selingkuhin sahabat gue. Asal lo tahu .... "
"Siska. Gue gak pernah selingkuh. Gue gak pernah menduakan Sabrina," ucap Satya memotong perkataan Siska dengan cepat.
"Ha ha ha ... gak pernah selingkuh? Gak pernah menduakan Sabrina? Nyatanya, lo punya pacar di kampus. Itu apa namanya kalau bukan selingkuh hah!"
"Apa? Apa gue gak salah dengar Siska? Siapa yang lo bilang punya pacar di kampus?"
"Elo!"
"Gue gak pernah punya pacar dimana pun. Ya Tuhan .... "
"Jangan sok pura-pura polos dan gak bersalah deh lo. Mentang-mentang tampan, lo seenaknya saja," kata Siska terus menyudutkan Satya.
"Harus berapa kali gue ngomong sama lo Siska. Gue gak punya pacar. Lagian, siapa yang bilang gue punya pacar coba. Gue gak pernah pacaran sama sekali di kampus."
"Kalo lo gak punya pacar, kenapa Cindy malah bilang lo itu pacaran sama dia. Lo gak mikir apa gimana perasaan Sabrina saat tahu kalau Cindy dan lo itu pacaran!" kata Siska sudah sangat amat terpancing emosi.
Sedangkan semua pengunjung restoran semakin sibuk ngobrol di belakang mereka. Kini bukan hanya berbisik-bisik, mereka juga sudah bicara terang-terangan tentang sifat buruk Satya yang sudah menikah tapi malah menyelingkuhi istrinya.
__ADS_1
Saat itu, Satya baru sadar kalau dia tidak bisa terus-terusan ngobrol dengan Siska di tempat umum ini. Ia harus membawa Siska menjauh dari keramaian umum dan bicara hanya berdua agar punya banyak kesempatan menjelaskan apa yang telah Siska tuduhkan padanya.
"Ayo ikut gue," kata Satya sambil menarik tangan Siska dengan cepat.
"Hei ... mau bawa gue kemana?" tanya Siska memberontak sambil berusaha melepaskan tangannya dari tangan Satya.
"Ikut gue sebentar. Gue mau bicara berdua sama lo," kata Satya tanpa memperdulikan apa yang Siska lakukan.
Satya membawa Siska ke ruangannya. Ia ingin bicara banyak dengan Siska. Satya ingin meluruskan masalah yang terjadi. Ia ingin terus terang sekarang. Tidak ingin ada yang di tutup-tutupi lagi.
"Ngapain lo bawa gue kesini?" tanya Siska ketus.
"Ya udah, bicara sekarang karena gue gak ingin ada kata salah paham antara gue dengan sahabat gue nantinya. Kalo orang lain lihat, bisa-bisa salah tebak mereka."
"Tidak akan salah tebak kalo lo mau bantuin gue. Jelasin semua dengan Sabrina kalo gue gak ada hubungan apa-apa dengan gadis lain."
"Maksud lo?"
Satya terdiam sejenak. Ia memutar tubuhnya menghadap ke jendela. Matanya menatap lurus menembus jendela kaca yang terbuka sedikit.
"Siska. Jujur, gue suka sama Sabrina. Gue berniat menjadikan Sabrina istri pertama dan terakhir dalam hidup gue. Tapi sayangnya, gue gak bisa maksain hati seseorang. Gue gak bisa maksain seseorang yang tidak menginginkan gue untuk tetap bertahan hidup bersama gue, Sis," ucap Satya dengan nada lemah dan terdengar sangat sedih.
__ADS_1
Siska yang tidak menyangka akan mendengarkan kata-kata itu dari mulut Satya, terdiam sejenak. Otaknya berusaha mencerna apa yang Satya katakan padanya barusan.
"Elo ... lo beneran suka Sabrina?" tanya Siska dengan nada tak percaya.
"Iya, gue beneran suka sama Sabrina. Mungkin, lebih tepatnya, gue cinta sama Sabrina," ucap Satya sambil membalikkan badannya menghadap Siska.
"Kenapa lo gak bilang sama Sabrina kalo lo suka dia? Kenapa lo malah pacaran dengan Cindy di kampus?"
"Gue gak pacaran dengan Cindy, Sis. Berapa kali sih gue harus ngomong ke lo kalo gue gak pacaran dengan Cindy atau dengan siapapun," ucap Satya dengan kata-kata yang tegas.
"Kalo lo gak pacaran dengan Cindy, kenapa Cindy bisa ngomong sama gue dan Sabrina kalo dia adalah pacar lo?"
"Apa! Cindy ngomong sama lo dan Sabrina kalo dia adalah pacar gue?"
"Iya. Bukan hanya sama kita berdua, seluruh kampus juga tahu kalo kalian itu pacaran."
"Tidak, tidak-tidak. Gue dan Cindy gak pernah pacaran. Gue sama Cindy cuma berteman aja. Teman biasa yang gak akan pernah lebih. Gue gak ada tertarik sedikitpun sama Cindy. Gimana gue mau pacaran sama dia. Lagian, gue juga tahu apa status gue sekarang. Gak mungkin gue punya pacar."
"Ya udah, kalo gitu lo jelasin sama Sabrina kalo lo gak punya pacar atau gak pernah suka sama siapapun. Bilang sama dia kalo lo suka dia," kata Siska penuh semangat.
Sekarang, Siska merasa bertemu jalan mulus yang terang benderang. Hatinya mendadak bahagia ketika tahu kalau Satya cinta sahabatnya. Ia merasakan kebahagiaan buat Sabrina sahabat yang telah ia anggap seperti saudara ini.
__ADS_1