Perjodohan Dua Pewaris Tunggal

Perjodohan Dua Pewaris Tunggal
#17


__ADS_3

Saat kelas berakhir, Cindy menghampiri Satya dan juga kedua temannya. Ia mengajak ketiga cowok tampan kampus berkenalan hanya untuk mencari teman.


"Hai ... nama aku Cindy," ucapnya sambil mengulurkan tangan pada Satya.


Dengan cepat, Andrian yang menyambut uluran tangan Cindy. "Gue Andrian Bastino."


Sean menarik paksa tangan Andrian yang terus memegang tangan Cindy sambil menatap wajah gadis itu.


"Udah dong. Kasian nih tangannya entar sakit akibat lo pegangin mulu," kata Sean kesal.


"Ih, bilang aja lo syirik ama gue."


"Nama gue Sean. Gak ada panjangannya lagi. Gampang diingat dan gampang diucapkan," kata Sean.


Sama seperti apa yang Andrian lakukan. Sean juga bersalaman dengan Cindy begitu lama. Ia terus saja memegang tangan Cindy sambil senyum-senyum pada gadis itu.


"Udah dong. Lo gak ingat apa yang lo katakan. Nanti tangannya bisa sakit kalo lo pegang terus," kata Andrian.


"Lo syirik aja," ucap Sean sambil melepaskan tangan Cindy.


Tiba giliran Satya, ia tidak melakukan apa-apa. Ia hanya diam sambil terus sibuk dengan ponsel yang ia mainkan sejak tadi. Ia tidak merasa tertarik untuk berkenalan dengan anak baru. Apalagi anak baru itu perempuan.


Apa yang Cindy harapkan ternyata tidak sama. Ia sangat berharap Satya yang tertampan diantara ketiga cowok itu melakukan hal yang sama seperti yang kedua temannya lakukan. Tapi nyatanya, Satya malah tidak bergeming sedikitpun. Jangankan ikut rebutan kenalan, melirik Cindy yang semua anak laki-laki lirik saja Satya tidak tertarik.


"Hai ... aku boleh kenalan sama kamu gak?" tanya Cindy sambil melihat Satya.


"Sat, lo kok diam aja. Ada yang mau kenalan tuh," kata Sean sambil menyenggol bahu Satya pelan.

__ADS_1


"Aku Cindy," kata Cindy tak sabar lagi.


"Satya." Satya menyambut uluran tangan dari Cindy. Tapi hanya untuk sesaat. Jangan berlama-lama, jejak saja hampir tidak.


"Gue cabut dulu," kata Satya pada kedua temannya.


"Lho kok buru-buru sih?" tanya Sean.


"Gue ada urusan."


"Apa? Tumben banget," kata Andrian.


"Adalah. Gue tunggu kalian di taman kalo udah selesai."


Entah mengapa, Satya tidak merasa tertarik sedikitpun pada anak baru pindah itu. Satya merasa, Cindy dan gadis lainnya sama aja. Tidak ada bedanya antara Cindy dengan Karmila yang sedang memaksakan cintanya agar Satya terima.


'Ya Tuhan ... kok gue malah mikirin si anak macam sih,' kata Satya dalam hati.


Tepat saat itu, Sabrina sedang lewat melalui lorong kampus. Mata Satya tertuju pada gadis itu. Ia yang berjalan santai dengan gaya khasnya. Walau keras dan galak, Sabrina tetap terlihat anggun ketika tidak menunjukkan taringnya.


Satya tidak menyadari keberadaan sahabatnya ketika memperhatikan Sabrina. Ia sibuk mengangumi Sabrina dalam hati. Sean dan Andrian yang baru datang, langsung ikut bergabung melihat apa yang Satya lihat.


"Cantik," ucap Satya lirih tanpa sadar kalau ia melafaskan kata-kata itu bukan hanya dalam hati saat ini.


"Siapa yang cantik?" tanya Andrian.


Satya kaget bukan kepalang saat mendengarkan apa yang Andrian katakan.

__ADS_1


"Kalian! Sejak kapan sih kalian ada disini?"


"Sejak lima menit yang lalu," kata Sean.


"Siapa yang cantik?" tanya Andrian dengan sangat penasaran.


"Iya. Siapa yang cantik sih Satya. Baru dengar gue kalo tuh mulut muji dengan kata-kata cantik," ucap Sean.


"Oh ... gue tahu Sean, siapa yang Satya katakan cantik."


"Siapa?" tanya Sean.


"Ya anak barulah, siapa lagi coba?"


"Lo yakin Satya sedang muji anak baru. Lo gak lihat gimana reaksi Satya saat Cindy ngajak kenalan?"


"Itukan karena Satya pura-pura gak mau aja. Sok jual mahal gitu," kata Andrian.


"Stop! Kalian berdua kok malah bahas hal yang gak penting sih? Yang kalian omongin itu gue. Lah gue ada dihadapan kalian berdua. Mikir dikit dong kalo mau ngomongin orang," kata Satya kesal.


"Yah dia malah ngambek. Padahal kita ini niatnya baik," kata Sean.


"Niat baik apanya? Yang ada, kalian itu bikin kesal gue mulu sekarang," ucap Satya langsung pergi.


"Ditinggal lagi, ditinggal lagi. Emang Satya gak punya cara lain apa buat nunjukin kalo dia sedang ngambek," kata Andrian.


"Udah, gak usah dipikirin. Yang penting, kita tahu siapa yang Satya suka sekarang."

__ADS_1


__ADS_2