
Satya terdiam saat mendengarkan perkataan Sabrina. Terlalu banyak kejutan dalam diri Sabrina yang mampu membuat Satya terkadang menjadi bingung saat bersama gadis ini.
"Sat, ini taman bunga gue," ucap Sabrina membuyarkan lamunan Satya dengan tiba-tiba.
"Taman ... taman bunga elo?" tanya Satya seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Ia bertanya sekali lagi, untuk memastikan apa yang telinganya dengar tidaklah salah.
"Iya. Ini taman bunga gue. Kenapa? Lo gak percaya?" tanya Sabrina dengan wajah penuh selidik.
"Bukannya gue gak percaya. Tapi ini sangat indah dan butuh kesabaran yang luar biasa hanya buat menata taman sebagus ini."
Karena rasa kaget dan tak percaya, Satya bicara dengan kata-kata yang sangat jujur. Ia tidak memikirkan lagi dengan siapa ia bicara sekarang.
Sabrina tersenyum ketika mendengarkan apa yang Satya ucapkan. Sabrina tidak marah dengan kejujuran yang Satya katakan ini. Ia tahu, sulit untuk orang lain percaya kalau dirinya punya bakat yang lain selain bakat bela diri dan keras kepala.
"Gue sih gak minta lo percaya sama apa yang gue katakan. Hari ini, cukup nikmati semua yang bisa lo nikmati. Karena besok, kita akan kembali menjalani aktifitas kita masing-masing, seperti biasanya."
Sabrina ingin berjalan meninggalkan Satya. Tapi, dengan cepat Satya menahan tangan Sabrina agar tidak pergi dari. Langkah Sabrina terhenti. Ia melihat tangannya yang Satya pegang.
Sadar apa yang ia lakukan tidak baik, Satya dengan cepat melepaskan tangan Sabrina yang ia pegang. Ia merasa sedikit takut dengan Sabrina. Ia lupa siapa Sabrina karena keindahan yang ada dihadapannya.
"Maaf-maaf," ucap Satya canggung.
"Untuk apa?"
"Lupakanlah. Gue hanya ingin tanya sama lo."
__ADS_1
"Tanya apa?"
"Berapa lama waktu yang lo habiskan untuk membuat taman seindah ini?"
"Mmmm, butuh waktu yang lumayan lama sih Sat. Gue habiskan hampir sembilan tahun buat merawat taman ini."
"Sembilan tahu!?"
"Iya. Sembilan tahun gue habiskan buat merawat taman ini. Gue udah mulai bikin taman ini sejak gue pertama-tama duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP)."
"Gimana caranya lo bisa sabar selama itu. Mmm maksud gue, kok gue gak yakin ya kalo lo yang bikin ini taman."
"Gue udah bilang kan sebelumnya sama lo. Gue gak maksa lo buat percaya dengan apa yang gue katakan. Tapi, satu hal yang lo harus tahu Satya. Semua orang itu punya kelebihan dan kekurangan mereka masing-masing."
"Mama gue selalu bilang sama gue, jangan lihat orang dari luarnya saja. Tapi, lihatlah secara keseluruhan dari sisi manapun yang kamu bisa, agar kamu tahu, manusia itu selalu punya sisi kurang dan sisi lebihnya," kata Sabrina lagi.
"Apanya?"
"Kata-kata mama lo itu."
"Oh, gue kira gue yang mantap," kata Sabrina sambil senyum.
Mereka menghabiskan waktu di taman selama beberapa jam. Satya merasa baru mengenali sosok yang berbeda hari ini. Saat bersama Sabrina, ia merasa banyak pelajaran yang bisa ia ambil.
Perlahan, Satya mengangumi Sabrina secara diam-diam. Meskipun ia tahu, sisi kasar Sabrina yang sangat sulit untuk ditaklukkan. Tapi, saat melihat sisi lembut dari gadis itu, ingatan tentang Sabrina yang kasar, galak, dan jutek, hilang seketika.
__ADS_1
____
Seperti biasa, permintaan sang mama tidak bisa Sabrina tolak. Malam ini, ia harus tidur satu kamar dengan Satya. Tepatnya, Satya harus nginap dikamar Sabrina malam ini.
"Lo yakin kita tidur satu kamar?" tanya Satya saat mereka berjalan menaiki anak tangga.
"Ya yakinlah. Kenapa emangnya?"
"Gak ada. Lo gak takut sama gue? Gue kan cowok. Gimana kalo gue tiba-tiba khilaf terus .... "
"Jangan mimpi lo Sat. Lo lupa siapa gue? Mau babak belur lo malam ini? Ya lo coba aja khilaf nanti. Gue jamin, besok pagi lo akan berada di ranjang rumah sakit," kata Sabrina memotong pembicaraan Satya dengan cepat.
"Ya jangan salahin gue lah. Yang namanya khilaf itukan gak bisa menyalahkan orang secara sepihak."
"Ya udah kalo gitu. Gue juga khilaf nanti kalo bikin lo babak belur. Gue bilang aja gak tahu kalo itu lo."
"Lo tidur di sofa, gue di ranjang," ucap Sabrina saat mereka sampai kedalam kamar.
"Yah, lo yang benar aja Rina. Masa iya gue tidur di sofa. Kan dingin."
"Bodo amatlah. Lo pikir gue mau berbagi ranjang dengan lo? Ya gak mungkinlah. Udah gue berbaik hati berbagi mama gue dengan lo, sekarang mau berbagi ranjang juga. Ya ogah banget gue nya."
"Ya Tuhan ... gue kira anak macam udah berubah jadi anak kelinci. Tahunya .... "
"Woy, yang namanya macam itu tetap macam, gak akan pernah berubah jadi kelinci sampai kapan pun. Lo jangan banyak ngayal Satya Adinata."
__ADS_1
"Serah lo ajalah. Gue capek, mau bobok sekarang."