
Pada akhirnya, mereka tidur satu ranjang juga. Sabrina tetaplah seorang perempuan yang masih punya sisi lembut dan belas kasihan. Sekeras apapun perempuan, ia masih tidak akan bisa terlalu keras pada laki-laki.
____
Setelah sarapan pagi, mereka sama-sama berangkat ke kampus. Sabrina tidak punya pilihan lain selain ikut Satya dengan mobilnya. Karena, jarak antara kampus dengan rumah Sabrina bisa di katakan sangat jauh. Sementara, tidak mungkin kalau ia harus menunggu ojek atau taksi online. Karena akan memakan waktu yang lumayan lama. Bisa-bisa, ia akan telat ke kampusnya.
"Turunin gue di persimpangan kampus aja," kata Sabrina memecah keheningan antara mereka berdua.
"Kenapa gak sampai kampus aja sekalian?"
"Gila lo ya. Apa kata yang lain jika gue naik mobil lo. Bisa-bisa, gosip yang meredup naik lagi."
"Ya sudah, terserah lo aja kalo gitu," kata Satya pasrah.
Sebenarnya, dia sangat ingin semua tahu kalau dia dan Sabrina sudah menikah. Tapi mau bagaimana lagi, Sabrina tidak menginginkan hal itu. Walaupun Sabrina gadis yang keras, tapi Satya merasa nyaman bersama Sabrina. Itulah alasan satu-satunya yang Satya punya saat ini.
Kedua temannya sudah menunggu kedatangan Satya. Mereka dengan penuh semangat menyambut Satya yang baru saja sampai di depan pintu kelas.
__ADS_1
"Sat, lo itu akhir-akhir ini datangnya telat melulu deh kayaknya," kata Andrian menyambut Satya dengan omelan layaknya emak-emak.
"Iya Satya. Gue jadi penasaran dengan perubahan lo akhir-akhir ini," kata Sean pula.
"Kalian itu gak ngurusin gue barang sehari aja gak bisa ya? Masa gue mulu yang jadi bahan obrolan kalian," kata Satya dengan nada kesal.
"Ya bukan gitu Satya. Kita juga gak niat buat ngurusin lo sih sebenarnya. Tapikan, kita ini teman udah sejak lama kan ya. Jadi wajar dong kalo kita ikut dalam urusan hidup lo," kata Sean membela diri.
"Udah-udah, sebaiknya jangan bahas soal Satya yang telat lagi. Kita bahas soal lain aja deh. Nih anak gak akan pernah mau kalah Sean. Percuma juga kita bicara panjang lebar sama dia. Dia gak akan ngerti dengan apa yang kita sampaikan," kata Andrian dengan cepat menyela agar Satya tidak membantah omongan Sean lagi.
"Mau bahas apa lagi?" tanya Satya penasaran.
"Orang yang gue suka?"
"Iya. Orang yang lo suka itu ternyata juga suka sama lo. Kita akan bantu lo buat jadian sama dia," kata Sean ikut-ikutan bersemangat.
"Tunggu! Emangnya kalian tahu siapa yang gue suka?" tanya Satya tak percaya.
__ADS_1
"Ya tahulah. Nanti, saat makan siang, kita akan pertemukan lo dengan orang yang lo suka. Lo tunggu aja," kata Andrian.
Satya merasa ada yang tidak beres dengan kedua temannya. Dia juga tidak yakin kalau kali ini kedua temannya benar-benar tahu siapa yang ia suka. Tapi, Satya memilih untuk mengikuti permainan kedua temannya ini.
Saat jam istirahat, Sean dan Andrian mengajak Satya makan di kantin. Hal yang sangat jarang mereka lakukan. Karena biasanya, mereka akan makan di cafe seberang kampus, bukan makan di kantin kampus.
Satya melihat semua yang ada di sana. Saat mereka datang, mereka di sambut anak kantin yang lainnya. Tatapan mata kekaguman pun terlihat dengan sangat jelas dari mata para gadis yang ada di sana. Bisik-bisik sambil senyum juga tidak ketinggalan.
Mata Satya tertuju pada salah satu meja paling pojok. Di sana ada seorang gadis yang duduk santai sambil menikmati makanannya. Gadis itu bersama seorang teman. Hanya gadis itu yang tidak ikut melihat kearah tiga pangeran kampus yang masuk kedalam kantin.
"Lo mau kemana?" tanya Sean saat melihat Satya yang ingin berjalan meninggalkan dia dan Andrian.
"Mau .... "
"Udah, jangan kemana-mana dulu. Lo gak mau ketemu sama gadis yang lo suka. Ayo!" kata Andrian menarik tangan Satya.
Satya tidak bisa menolak. Ia batalkan keinginannya untuk menghampiri Sabrina yang ada di pojokan kantin ini. Ternyata, dugaannya benar. Kedua temannya tidak tahu siapa gadis yang ia sukai.
__ADS_1
Awalnya, ia ingin percaya kalau Sean dan Andrian tahu siapa yang ia sukai. Tapi, setelah melihat kenyataan, ia tahu, kedua sahabatnya tidak peka akan hatinya. Siapa yang ia sukai, mereka tidak tahu.