Perjodohan Dua Pewaris Tunggal

Perjodohan Dua Pewaris Tunggal
#39


__ADS_3

Satya sampai didepan pintu rumahnya. Lampu rumah masih menyala semua. Ia panggil Sabrina beberapa kali sambil mengetuk pintu. Tidak ada jawaban dari Sabrina.


Satya merasa tidak enak hati. Ia takut Sabrina tidak ada di rumah. Karena, tidak mungkin jam segini Sabrina sudah tidur. Ini masih jam delapan malam. Biasanya, Sabrina masih ada di luar kamar pada jam segini. Satya membuka pintu rumah dengan kunci cadangan yang ia miliki.


Ketika rumah terbuka, ia melihat Sabrina sedang terlelap diruang tamu. Sabrina tidur dengan menekuk kan tangannya di atas meja yang ada di ruang tamu. Di depan Sabrina terdapat laptop yang sedang menyala.


Sepertinya, Sabrina sedang mengerjakan tugas kuliah, tapi ia malah ketiduran sementara tugasnya masih belum ia selesaikan.


Satya menghampiri Sabrina. Ia tatap wajah cantik yang sedang terlelap itu. Ini untuk yang kedua kalinya ia melakukan hal itu selama ia menikah dengan Sabrina.


Kali ini, ia menatap Sabrina tanpa ada rasa takut sedikitpun. Meskipun Satya ingat bagaimana perlakuan Sabrina ketika ia pertama kali menatap wajah Sabrina saat Sabrina tertidur.


Satya tidak menyentuh Sabrina sedikitpun. Ia beralih melihat laptop Sabrina. Tugas yang ada dalam laptop itu masih belum Sabrina selesaikan sedikitpun. Tugas itu masih utuh tanpa Sabrina jawab satu pun.


Satya tersenyum. Ia tahu apa yang ia harus lakukan sekarang. Satya akan mengerjakan semua tugas itu lalu memindahkan Sabrina kedalam kamarnya.


Meskipun Satya dan Sabrina tidak satu jurusan, tapi, untuk mengisi semua soal yang belum Sabrina jawab itu adalah hal yang mudah bagi Satya. Satya tergolong mahasiswa yang pintar di kampus.


Perlahan, ia selesaikan satu persatu tugas Sabrina. Hingga akhirnya, Satya berhasil menyelesaikan semua tugas itu dengan waktu yang cukup singkat. Lalu, ia bereskan laptop dan semua buku Sabrina yang berserakan.


Sabrina masih belum sadar. Ia masih terlelap dalam buaian mimpi yang indah. Satya tidak ingin membangunkan Sabrina. Ia berinisiatif mengangkat langsung gadis itu untuk memindahkannya.


Meskipun ia tahu, ada resiko melakukan hal itu, tapi Satya tidak takut akan resiko itu. Ia sentuh tubuh Sabrina dengan lembut. Sabrina merespon dengan cepat. Ia langsung tersadar dari tidurnya dan mendorong Satya hingga jatuh. Punggung Satya menyenggol pinggiran meja yang keras. Sehingga Satya harus merintih kesakitan.

__ADS_1


"Aduh ...." Satya meringis sambil memegang punggungnya yang terasa sangat sakit seperti sedang mendapatkan goresan benda tajam.


"Sat-Satya!" Sabrina terlihat kaget. Ia bergegas bangun untuk menghampiri Satya yang masih tidak bisa bergerak.


"Lo gak papakan Sat? Apanya yang sakit?" tanya Sabrina cemas.


"Punggung gue rasanya perih banget. Sakit banget," ucap Satya sambil merintih.


"Coba gue liat."


"Gak-gak usah."


"Coba gue liat Satya. Mana tahu memar atau luka. Kan bisa gue obatin," ucap Sabrina sedikit memaksa.


Satya membiarkan Sabrina melihat punggungnya. Ia tidak mungkin menolak karena sakit di punggungnya semakin lama semakin terasa kuat. Satya mengangkat kaos yang ia gunakan agar Sabrina bisa melihat punggungnya.


"Lo tunggu disini, biar gue ambilin obat," kata Sabrina sambil bergerak meninggalkan Satya.


Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Satya. Ia tidak bisa bicara karena menahan sakit di punggungnya.


Beberapa saat kemudian, Sabrina datang sambil membawa kotak obat. Ia berjalan terburu-buru agar segera sampai keruang tamu untuk mengobati Satya. Terlihat jelas kalau Sabrina sangat mengkhawatirkan keadaan Satya saat ini.


"Aaagghhh .... " Suara itu tercipta ketika Sabrina pertama kali mengoleskan obat ke punggung Satya yang memar.

__ADS_1


"Tahan sedikit Sat, gue ngolesnya pelan-pelan kok."


"Sakit banget Rina. Gue gak kuat rasanya."


"Lo kok manja banget jadi cowok Satya. Ini itu belum seberapa tahu gak. Cowok itu harus kuat, harus tahan pukulan."


"Gue emang anak manja Sabrina. Mana bisa gue tahan akan pukulan. Tapi demi lo gue akan coba," ucap Satya tiba-tiba.


Ucapan Satya mampu membuat Sabrina menghentikan olesannya. Ia terdiam tanpa bicara.


"Kenapa diam? Apa udah selesai Rina?"


"Belum."


"Kenapa lo gak lanjutin kalo belum selesai?"


"Lo olesin aja sendiri. Gue capek, mau istirahat."


"Rina, apa ada yang salah dengan apa yang gue omongin?"


"Gak ada."


"Kenapa tiba-tiba lo berubah. Kenapa lo gak mau ngobatin gue sampai selesai?"

__ADS_1


"Gue kan udah bilang kalo gue capek Satya. Lo gak dengar apa apa yang gue omongin barusan."


"Rina. Kamu itu adalah gadis manis sebenarnya. Hanya saja, kamu berusaha menutupi sisi manis dan sisi lembut mu. Tapi Sayangnya, walau bagaimanapun kamu berusaha menutupi sisi manis mu itu, kamu tetap tidak bisa menutupinya Rina."


__ADS_2