
Saat momen indah itu terjadi, tiba-tiba, pintu kamar rawat Satya terbuka dengan keras. Muncul sang papa dengan wajah cemasnya.
"Ya ampun anak kesayangan papa. Apa yang terjadi nak?" tanya papa sambil berjalan dengan tergesa-gesa.
Papa langsung memeluk Satya dengan erat. Ia tidak menghiraukan keberadaan Sabrina yang menyaksikan apa yang ia lakukan sekarang.
"Pa, aku baik-baik aja kok. Papa gak perlu cemas seperti ini. Malu, ada Sabrina," kata Satya bicara sedikit berbisik pada papanya.
"Oh, maaf-maaf. Papa gak sempat menyapa kamu Rina. Maaf ya nak. Papa sangat khawatir dengan keadaan Satya. Tapi papa lega ketika melihat anak papa baik-baik aja."
"Gak papa pa. Rina ngerti kok apa yang papa rasakan," kata Sabrina.
"Oh ya, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa kamu bisa terluka seperti ini. Di kampus lagi," kata papa setelah ia mampu menenangkan hatinya.
"Kecelakaan kecil aja pa," kata Satya.
"Kecelakaan kecil? Bagaimana bisa pot bunga jatuh dari lantai dua dan mengenai kepala kamu? Kamu bilang itu kecelakaan kecil," kata papa tak percaya.
"Namanya juga kecelakaan pa. Mana kita tahu kapan, dimana, dan bagaimana ia akan terjadi."
Papa terdiam dengan apa yang Satya ucapkan. Ia tidak percaya kalau apa yang telah terjadi pada Satya itu hanya kebetulan kecelakaan saja. Ia berniat akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Papa akan menyelidiki hingga tuntas masalah kecelakaan yang menimpa anak kesayangannya ini.
__ADS_1
____
Selama dua hari, Sabrina terus menemani Satya di rumah sakit. Terkadang, papa dan mamanya juga akan datang untuk melihat keadaan Satya. Mereka akan membawakan makanan buat Sabrina.
Sebenarnya, Satya tidak ingin berada di rumah sakit selama dua hari. Tapi, ia harus mengikuti apa yang dokter katakan. Ia menjadi betah di sana karena sang pujaan hati menemaninya selama berada di rumah sakit.
Selama Satya berada di rumah sakit, ramai teman-teman satu kampusnya datang untuk menjenguknya. Terlebih lagi para gadis yang mengangumi Satya. Mereka datang silih berganti membuat Sabrina menjadi kesal karena kedatangan mereka yang sulit untuk pulang.
"Bagaimana kabar kamu Sat?" tanya Cindy dan Karmila yang datang berbarengan sambil membawa keranjang buah.
"Gue baik-baik aja. Seperti yang lo lihat."
"Lo gak ingat kalo gue udah punya istri?" kata Satya dengan cepat menghindar.
"Kalian menikah bukan karena cinta. Tapi karena perjodohan kan?" kata Kamila dengan bahagia.
"Lo bodoh ya, kalo gak karena cinta, gue gak akan korbankan nyawa gue buat Sabrina."
Kebetulan saat itu hanya Satya yang ada di kamar ini. Sabrina sedang ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Mereka datang saat hari sudah sore menjelang senja.
"Kamu yang cinta dia, tapi dia gak cinta kamu Satya. Harusnya kamu sadar akan hal itu," kata Cindy ikut bicara.
__ADS_1
"Siapa bilang gue gak cinta dia?" tanya suara yang tiba-tiba masuk kedalam kamar membuat kedua gadis itu terkaget. Sedangkan Satya, ia malahan merasa sangat bahagia dan berbunga-bunga sekarang. Apalagi ketika mendengarkan kata-kata barusan.
"Sab-Sabrina!" kata keduanya kompak.
"Gue tanya, siapa bilang gue gak cinta sama suami gue?"
"Memang kenyataannya kok lo gak cinta Satya. Iya kan?"
"Cindy, Kamila. Kalian itu kalo punya mata di pakai yah. Gue kasihan deh sama kalian berdua. Punya mata tapi gak di manfaatkan. Gue gak akan jagain Satya di rumah sakit kalo gue gak cinta dia. Dan sekarang, gue gak akan biarkan siapapun buat deketin suami gue. Berani deketin suami gue, akan gue beri perhitungan yang setimpal," ucap Sabrina dengan nada mengancam dan tatapan tajam yang menakutkan.
Cindy dan Kamila terdiam. Ia merasa sedikit merinding dengan ancaman yang Sabrina ucapkan. Mereka sebenarnya tidak takut dengan Sabrina, tapi merasa tidak punya kekuatan untuk melawan Sabrina yang terkenal galak dengan latar belakang keluarga yang disegani.
"Sayang, apa kamu baik-baik aja?" tanya Sabrina sambil menghampiri Satya yang sedang tersenyum bahagia dengan apa yang Sabrina lakukan barusan.
"Aku baik-baik aja sayang."
"Apa mereka menganggu waktu istirahatmu? Kalau iya, aku akan antarkan mereka keruangan kosong yang ada di sebelah kamar ini," kata Sabrina sambil menyeringai pada keduanya.
Kamila yang tahu apa maksud dari Sabrina bergegas mengajak Cindy meninggalkan kamar Satya. Ia merasa takut kalau-kalau Sabrina benar-benar melakukan hal gila untuk mengusirnya dari kamar Satya.
"Kayaknya, kita harus pamit sekarang. Udah sore banget soalnya," kata Kamila sambil menarik tangan Cindy.
__ADS_1