
Satya langsung meninggalkan Sabrina setelah mengatakan kata-kata itu pada Sabrina. Sabrina yang mendengarkannya hanya bisa diam sambil melihat punggung Satya yang berjalan semakin menjauh, lalu menghilang di balik pintu kamarnya.
'Apa itu bisa dikatakan dengan kata-kata peduli sama gue Satya?' tanya Sabrina dalam hatinya.
"Gue bingung, laki-laki itu sama aja terkadang. Sama-sama ngeselin dan gak bisa gue tebak apa isi kepalanya," kata Sabrina bicara pada dirinya sendiri.
____
Satya tidak menampakkan batang hidungnya setelah bicara dan mengobati Satya sore tadi. Ia memilih diam di kamarnya sampai jam makan malam tiba.
"Satya." Sabrina mengetuk pintu kamar Satya yang letaknya bersebelahan dengan kamarnya.
Beberapa kali panggilan dari Sabrina, tidak ada satupun jawaban dari Satya. Hati Sabrina mulai dilanda kecemasan saat orang yang ia panggil tidak memberikan respon sama sekali.
"Satya! Lo ada didalam kan Sat," kata Sabrina lagi.
Masih sama. Tidak ada respon sama sekali. Sabrina mendadak panik. Ia memikirkan sesuatu yang buruk yang membuat hatinya merasa takut akan pikirannya sendiri.
Tanpa pikir panjang lagi, Sabrina langsung mengumpulkan semua tenaga dan kekuatan yang ia miliki. Sabrina berniat untuk mendobrak pintu kamar Satya yang tertutup rapat.
__ADS_1
Sabrina mendorong badannya sekuat-kuat yang ia bisa. Agar pintu kamar Satya terbuka. Malang tidak berbau, takdir tidak bisa ditolak.
Tepat saat Sabrina menerobos masuk dengan cara mendobrak pintu kamar, itu berpas-pasan dengan Satya yang ingin membuka pintu kamar setelah ia mendengarkan suara samar-samar dari kamar mandi tadi.
Iya, Satya tidak menjawab panggilan Sabrina karena ia sedang berada di kamar mandi. Bunyi air yang keluar memenuhi kamar mandi sehingga Satya tidak bisa mendengarkan panggilan Sabrina.
Hasil yang sudah bisa ditebak karena ulah Sabrina yang berniat mendobrak pintu kamar Satya, Sabrina tidak bisa menahan tubuhnya untuk tidak menabrak Satya yang berada didepan pintu kamar.
Mereka berdua terjatuh keatas ranjang milik Satya yang sudah menanti tak jauh didepan pintu masuk. Sabrina menindih Satya yang hanya menggunakan handuk, yang hanya menutupi bawah pusat dan lutut saja.
Wajah Sabrina benar-benar tidak ada penghalang lagi. Memang benar-benar menyentuh dada Satya yang tidak mengunakan sedikit penutup pun. Ia seperti sedang berada dalam dekapan Satya saat ini.
Setelah mampu menguasai diri dengan kesadaran yang ia miliki. Sabrina bergegas bangun dari jatuhnya. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangan.
"Apa-apaan sih lo Satya. Ngapain cuma pakai handuk doang," kata Sabrina dengan sangat gugup dan berusaha menjauh dari Satya.
"Lo yang apa-apaan. Ngapain masuk kamar gue dengan cara seperti itu."
"Ya gue manggil lo, lo gak ada respon sama sekali," kata Sabrina berusaha membela dirinya.
__ADS_1
"Mana dengar gue. Gue kan lagi ada di kamar mandi. Lagi mandi."
"Ya udah deh. Serah lo mau ada dimana. Gue cuma mau manggil lo buat makan malam doang kok."
"Iya udah. Nanti gue keluar."
Sabrina tidak menjawab. Ia terus saja menutupi wajahnya dengan kedua tangan dan tetap berdiri ditempat ia berdiri tadi. Dengan posisi membelakangi Satya yang masih duduk di atas ranjang.
"Sampai kapan lo mau berdiri di situ. Apa lo mau temani gue ganti pakaian?" tanya Satya tidak mengerti.
"Ih, najis gue," ucap Sabrina sambil berjalan keluar dengan langkah besar.
"Ampun deh. Kok gue jadi bego gini ya," kata Sabrina sambil menuruni anak tangga.
"Bikin malu aja," ucap Sabrina lagi.
Makan malam kali ini tidak ada yang mengeluarkan suara. Baik Satya maupun Sabrina, sepertinya sedang bahagia dengan memilih mode diam. Hanya dentingan sendok yang terdengar sekarang.
Kejadian yang memalukan itu masih terbayang jelas dalam benak Sabrina. Entah kenapa, kejadian itu terus saja berada diingatan Sabrina setiap kali ia ingin menutup matanya. Hasilnya, Sabrina malam takut untuk menutup mata.
__ADS_1