Perjodohan Dua Pewaris Tunggal

Perjodohan Dua Pewaris Tunggal
#9


__ADS_3

"Lo kuliah gak hari ini?" tanya Sabrina pada Satya saat mereka menikmati sarapan pagi bersama.


"Gak. Kenapa?"


"Gak ada, tanya aja. Gue juga nggak tuh."


"Gue gak nanya deh kayaknya."


Brak ... kaki Satya mendapat tendangan dari Sabrina akibat telah membuat hati Sabrina kesal.


"Aduh ... gila ya lo. Sakit tahu," kata Satya meringis kesakitan.


"Tahu sakit juga kan lo. Makanya, jangan bikin gue kesal."


"Gila. Lo aja yang suka emosian. Mana ada gue bikin lo kesal. Makanya, jadi cewek jangan macanan amat dong."


"Lo mau lagi?"


"Ogah," ucap Satya kesal lalu meninggalkan meja makan sementara sarapannya belum selesai.


"Hei, mau kemana lo?"


"Suka-suka gue dong."

__ADS_1


"Habisin dulu tuh sarapan lo. Jangan mubazir dong. Lo gak tahu apa, gue udah capek-capek nyiapin buat lo sarapan."


"Heh, lo cuma pesan online doang. Capek dari mananya coba."


"Ya gue capek pesannya lah, dari mana lagi. Udah gue pesan, gue yang keluarin dari bungkusnya dan .... "


"Lo keluarin dari bungkusnya itu cuma buat lo. Buat gue mah nyiapin sendiri. Dan satu lagi, yang bayar pesanan itu juga gue," kata Satya motong perkataan Sabrina.


"Oh ... lo gak ikhlas ya bayarin makanan gue."


"Au ah, capek gue ngomong ama lo," kata Satya sambil berjalan menjauhi Sabrina.


"Dasar anak manja. Gitu aja lo hitungin semuanya. Jadi gak selera makan kan gue jadinya," kata Sabrina ikut-ikutan menyelesaikan makanannya.


Sudah dua hari mereka tinggal satu atap. Tidak ada kata akur yang jelasnya. Mereka sama-sama keras kepala dan tidak ada yang mau mengalah satu sama lain. Mereka selalu bertengkar jika sedang bersama.


Palingan, mereka cuma akur selama kurang dari tiga menit. Itu juga sangat amat jarang bertemu keakuran pada mereka berdua. Ada saja yang tidak kena. Masalah sepele saja bisa jadi bahan untuk Satya dan Sabrina bertengkar, walau tidak bertengkar seperti musuh pada umumnya.


Hari ini, baik Satya maupun Sabrina, mereka sama-sama punya jadwal kuliah pagi. Libur lima hari yang mereka ambil sudah pun berakhir. Sekarang, mereka berdua harus menikmati hari-hari kuliah seperti biasanya.


"Mau barengan ama gue gak berangkatnya?" tanya Satya saat melihat Sabria sudah siap untuk berangkat.


"Gak usah deh. Gue bawa mobil sendiri aja."

__ADS_1


"Lo yakin gak mau nebeng gue aja?"


"Yakin banget lah. Gue terbiasa bawa mobil sendiri gak enak kalo harus nebeng lo. Lagian, apa kata orang nantinya kalo lo dan gue barengan ke kampusnya nanti. Dan ... gue gak suka tuh ke kampus dianterin sama sopir. Gak kayak lo," kata Sabrina dengan nada mengejek.


"Lo gak bisa lihat niat baik gue dikit apa? Gak bisa apa gitu, sekali aja lo gak menghina atau ngejek gue," kata Satya dengan kesal.


"Ups ... maaf, kebiasaan deh kayaknya ni mulut. Kebiasaan yang akan gue teruskan sampai kapan pun."


"Suka-suka lo aja deh," kata Satya sambil beranjak meninggalkan Sabrina.


Sabrina melihat Satya yang kesal. Hatinya mendadak bahagia dengan apa yang ia lakukan. Bukannya menyesal atau merasa bersalah dengan ulahnya yang selalu bikin kesal laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu.


Ketika Sabrina keluar dari rumah, ia baru ingat kalau mobilnya masih berada di bengkel. Ia menepuk kepalanya dengan sangat kesal. Ia tidak ingat kalau saat ini ia tidak punya mobil untuk ia bawak ke kampus.


"Sialan, gue kok bisa lupa kalau mobil gue masih di bengkel."


Ia melihat kiri kanan, Satya sudah tidak ada lagi. Jangankan Satya, taksi juga tidak ada yang lewat satu pun sekarang. Suasana rumahnya yang agak jauh dari keramaian jalan raya membuat ia agak sulit melihat taksi yang lewat.


Satu-satunya cara yang bisa Sabrina lakukan hanyalah, pesan taksi online dan berharap kalau taksi itu datang tepat waktu. Sangat tidak mungkin untuk Sabrina tepat waktu untuk ke kampus, jika taksi yang ia pesan terjebak dalam kemacetan nantinya.


"Sial-sial ... sial, kenapa gak gue terima aja niat baik Satya tadinya. Kalo gue terima tawaran Satya tadi, gak gini ceritanya. Gue kan bisa minta Satya turunin gue di persimpangan kampus. Tidak ada yang tahu kalau gue nebeng Satya ke kampusnya."


Sabrina ngerutu sendiri. Ia menyesali apa yang telah ia lakukan barusan. Kebodohan yang membuat ia telat datang ke kampus plus dapat omelan dari dosen galaknya nanti.

__ADS_1


__ADS_2