Perjodohan Dua Pewaris Tunggal

Perjodohan Dua Pewaris Tunggal
#46


__ADS_3

"Pasien baik-baik saja. Benturan yang ia alami tidak terlalu kuat sebenarnya. Hanya saja, pasien harus dirawat di rumah sakit selama dua hari. Untuk memastikan kalau tidak ada pembuluh darah yang tersumbat di kepala pasien," kata dokter menjelaskan.


"Bagaimana kalau ada pembuluh darah yang tersumbat setelah dua hari Dok?" tanya Sean penasaran.


"Pasien akan di operasi."


Mendengar hal itu, wajah cemas tergambar kembali di wajah mereka. Mereka takut jika ada pembuluh darah yang tersumbat di kepala Satya. Resiko operasi akan Satya tangung.


"Jangan cemas, berdoa saja, semoga tidak ada pembuluh darah yang tersumbat," kata dokter itu seakan tahu apa yang mereka berempat rasakan.


Dokter itu pun pamit meninggalkan mereka berempat. Mereka diizinkan masuk kedalam untuk melihat keadaan Satya. Satya masih belum sadar dari pingsannya karena pengaruh obat bius.


"Satya, lo harus baik-baik aja. Gue gak mau lo sakit seperti ini Sat," kata Sabrina sambil memegang tangan Satya.


"Dengar tuh Sat, istri lo cemas banget tuh sama kondisi lo. Masa lo tega sih bikin wanita yang lo cinta merasa cemas terus-terusan," ucap Andrian.


"Kayaknya, istri lo baru sadar deh kalo dia sayang sama lo. Bangun Satya, lo gak sayang ya kalo momen ini berlalu begitu saja," kata Sean.


Andrian menyenggol Sean dengan bahunya, ketika Sean mengatakan hal itu.


"Lo apa-apaan sih Sean, masa ngomongnya gitu."


"Salahnya dimana omongan gue? Gue kan ngasih Satya semangat biar cepat bangun," kata Sean tanpa ada rasa bersalah.


"Iya, ngasih semangat, semangat juga. Tapi jangan sampai menyingung perasaan orang juga dong," kata Andrian.


"Siapa yang nyingung perasaan orang? Gue gak merasa tuh," ucap Sean gak mau kalah.

__ADS_1


"Ya Tuhan ... kenapa kalian berdua malah berdebat sih," kata Siska tak tahan dengan perdebatan yang ia dengar di kamar ini.


"Kita gak debat kok. Kita cuma .... "


"Stop, jangan bicara lagi. Lo gak lihat Sabrina sedang sedih tuh. Kalian berdua malah berdebat terus menerus," kata Siska dengan nada kesal.


Satya mulai membuka matanya saat mendengarkan suara berisik yang kedua sahabatnya timbulkan. Perlahan, ia melihat ruangan yang bercat kan serba putih dengan bau khasnya. Yaitu, bau obat-obatan yang sudah bisa ia pastikan kalau saat ini dirinya sedang ada di rumah sakit.


"Sabrina." Satya langsung mengenali Sabrina yang ada di sampingnya saat ini. Walau kepalanya masih sakit, matanya masih belum melihat dengan jelas, tapi wajah Sabrina tidak pernah ia lupakan.


"Lo sadar Satya?" tanya Sabrina dengan bahagia.


"Kenapa kamu nangis Rina?" tanya Satya sambil menggapai wajah Sabrina untuk menghapus air mata Sabrina.


"Gue .... "


Satya mengalihkan pandangannya dari melihat Sabrina beralih melihat Sean dan Andrian.


"Kalian juga ada disini?" tanya Satya pura-pura baru melihat keberadaan kedua sahabatnya.


"Gila, udah gue duga kalo keberadaan kita gak diinginkan sama dia," kata Sean kesal.


"Lo ngomong apa sih?" tanya Andrian.


"Gue ngomong, kita sedang ngontrak di atas dunia ini."


"Bagus kalo lo nyadar diri," ucap Satya.

__ADS_1


"Kenapa malah bercanda sih? Kalian gak lihat apa kalo Sabrina masih cemas," kata Siska.


"Sayang, aku baik-baik aja kok. Kamu gak perlu cemas mikirin aku," kata Satya sambil memegang tangan Sabrina.


"Kita keluar dulu deh. Gue lapar soalnya," kata Andrian seakan mengerti kalau temannya butuh waktu untuk berdua.


"Ayok. Gue juga lapar banget sekarang," kata Siska ikut-ikutan.


"Gue .... "


"Ayok," kata Andrian menarik tangan Sean dengan cepat.


"Aku minta maaf Satya. Kamu terluka karena aku," ucap Sabrina penuh rasa sesal sambil menundukkan kepalanya.


"Rina, ini bukan salah kamu kok. Kamu tidak perlu merasa bersalah seperti itu. Anggap saja kalo ini adalah takdirku."


"Tapi Satya, kamu tidak akan terluka jika aku tidak keras kepala dan terus menghindari darimu."


"Sudahlah. Jangan ungkit soal itu lagi. Kamu lihat kan sekarang, aku baik-baik saja."


"Apa kepalamu masih sakit sekarang Satya?"


"Tidak. Aku sudah tidak merasa sakit lagi."


"Jangan bohong, aku gak suka kalo kamu bohong. Apalagi bohong padaku."


"Rina, aku hanya merasa sedikit pusing saja. Itu tidak sakit dan tidak akan mengganggu aku," kata Satya sambil memegang kedua tangan Sabrina.

__ADS_1


__ADS_2