
"Satya!" Panggilan yang dibarengi dengan sentuhan itu mampu membuat tubuh Satya terlojak kaget.
"Ma-mama," ucap Satya dengan nada sangat gugup.
"Kamu gitu aja kok kaget sih Sat," kata mama sambil tersenyum.
"Maaf ma, Satya gak tahu kalo mama ada di belakang Satya," ucap Satya sambil menahan rasa malu.
"Kamu lihat apa sih Sat? Kayaknya serius amat. Berulang kali mama panggil kamu dari luar gak dengar juga. Sampai-sampai mama harus masuk dan lihat kamu kedalam. Mama pikir kamu lagi istirahat, tahunya sedang ada disini."
"Satya ... Satya sedang lihat pemandangan aja ma," ucap Satya semakin gugup dan malu.
"Lihat pemandangan atau ada yang di pandang di bawah sana?"
Mama tersenyum melihat wajah Satya yang mendadak agak merah karena menahan malu. Wajah putih dengan gigi ginsul itu berusaha terlihat tenang. Tapi sebenarnya, makin berusaha terlihat tenang, makin kelihatan kalau pemiliknya sedang gugup dan menahan malu.
"Oh ya, mama kesini itu buat manggil kamu. Mama udah siap masaknya. Ayo kita turun makan."
"Iy-iya ma," ucap Satya masih gugup saja.
"Udah. Gak usah gugup gitu. Santai aja," kata mama sambil tersenyum lalu berjalan mendahului Satya.
__ADS_1
"Mama duluan ya. Mama tunggu kamu di meja makan. Jangan lama-lama lho ya, papa juga sudah ada dibawah soalnya."
"Papa?"
"Iya. Papa juga akan makan siang bareng dengan kita. Baru aja nyampe ke rumah."
"Oh, iya ma. Satya bentar lagi turun. Mau cuci muka dulu."
"Iya. Mama duluan. Ingat! Cuci muka aja ya, jangan cuci mata lagi," kata mama sambil tersenyum menggoda membuat Satya semakin malu dan salah tingkah.
Sepeninggalan mama mertuanya, Satya menarik napas lega sambil menyapu wajahnya dengan tangan tanpa air. Rasa malu masih ada dalam hatinya. Malu karena ketahuan sang mama mertua kalau sedang memperhatikan anak gadisnya yang sedang ada di taman.
Dengan langkah berat Satya menuruni anak tangga menuju ruang makan keluarga Sabrina. Di sana sudah ada Sabrina, papa, dan mama mertuanya sedang menunggu kehadirannya untuk makan siang bersama.
"Lo ngapain aja sih Satya? Kok lama banget baru turunnya," ucap Sabrina ketika melihat Satya baru turun.
"Rina. Apa-apaan sih kamu ini. Mana boleh ngomong asal-asalan kayak gitu. Anak cewek itu harus anggun, tahu gak?" kata papa angkat bicara.
"Iya. Dengar tuh apa yang papa katakan. Kalo gak anggun nanti laki-laki pada takut sama kamu. Walaupun suka sama kamu, laki-lakinya gak akan berani ngomong. Cuma bisa mengagumi dari kejauhan doang," ucap mama pula.
"Rina udah coba anggun kok pa, ma. Tapi tetap aja gak bisa," kata Sabrina santai.
__ADS_1
"Gak bisa apa kamu nya yang gak mau?" tanya mama.
"Ya udah deh ma, gak usah debat lagi sama Rina. Makan sekarang aja. Papa mau balik ke kantor juga setelah makan siang nanti. Dan juga, gak enakkan debat didepan menantu."
Satya merasa bersyukur karena mama mertuanya tidak mengungkit soal dirinya yang tertangkap basah sedang memperhatikan Sabrina dari atas. Ya, walaupun sang mama sedikit menyingung dirinya saat meminta Sabrina untuk bersikap anggun. Tapikan, mama tidak mengatakan dengan kata-kata yang terus terang.
Selesai makan siang, mereka ngobrol sebentar di ruang keluarga. Saat papa mertua Satya berangkat kembali kekantor, mama meminta Sabrina untuk mengajak Satya berkeliling ke taman belakang rumah. Tempat dimana taman bunga yang Satya lihat dari atas balkon sebelumnya.
Sabrina menuruti apa yang mamanya katakan. Tanpa ada rasa terpaksa sedikitpun, ia melangkah meninggalkan sang mama yang masih duduk manis di ruang keluarga.
"Ayo Satya, gue perlihatkan pada lo setiap sudut rumah gue," ucap Sabrina sambil berjalan beriringan dengan Satya.
"Rina. Makasih banyak ya," ucap Satya lirih.
"Terima kasih lagi? Kali ini untuk apa Sat?" tanya Sabrina sambil mengangkat sebelah alisnya.
Gadis itu terkadang sangat sulit di tebak. Sesekali, dia sangat manis dan menggemaskan. Sesekali, ia lebih menakutkan dari seekor mama macam yang buas dan siap menerkam.
"Terima kasih untuk ... untuk telah meminjamkan keluarga utuh mu padaku. Aku sangat bahagia bisa merasakan apa yang saat ini aku rasakan."
"Sudahlah Satya. Aku sudah bilang sebelumnya. Nikmati aja apa yang kamu punya. Karena, apa yang kamu punya belum tentu orang lain punya. Dalam artian, syukuri apa yang kita miliki saat ini. Karena masih banyak yang lebih tidak beruntung diluar sana dari pada kita."
__ADS_1