
Permintaan Sabrina di setujui oleh kedua belah pihak. Acara pernikahan akan di adakan secara tertutup dan tidak akan di hadiri oleh banyak orang selain keluarga terdekat saja.
Semua anggota perusahaan juga tidak dapat undangan. Mereka hanya tahu, kalau masing-masing pewaris tunggal dua perusahaan besar sudah menikah. Mereka tidak tahu dengan siapa dan apakah dua perusahaan sudah bersatu atau tidak, tidak ada yang tahu.
Semua itu Sabrina yang minta, dengan alasan, ia tidak ingin punya masalah dengan kuliahnya nanti. Ia juga beralasan, setelah selesai kuliah, maka mereka akan mengadakan resepsi besar-besaran. Itu akan terjadi satu tahun lagi.
Kebetulan, Satya dan Sabrina sama-sama punya waktu satu tahun lagi di bangku perkuliahan. Meski mereka berbeda jurusan, tapi waktu kuliah mereka sama. Sama-sama tinggal satu tahun lagi.
"Kamu yakin Rina, mau tinggal di rumah lain?" tanya mama saat Sabrina telah resmi menikah dengan Satya.
"Yakin ma."
"Kenapa gak tinggal sama mama dan papa aja sih Rina?" tanya papa pula.
"Pa, ma. Rina kan sudah punya keluarga sendiri setelah menikah. Biarkan Rina hidup mandiri di rumah Rina sendiri ya."
"Tapi nak .... "
"Ma, anak kita sudah besar ternyata. Dia sudah sangat dewasa. Biarkan ia memilih mana yang terbaik untuknya ya," kata papa memotong pembicaraan mama.
"Mama, Rina hanya pindah rumah, gak pindah kota atau negara kok. Pindah rumahkan masih bisa berkunjung dan nginap di rumah mama dan papa."
__ADS_1
"Iya-iya, apa yang anak mama katakan itu benar. Jika sudah punya rumah sendiri, jangan pernah lupa dengan rumah dimana kamu dibesarkan ya nak."
"Iya ma. Rina gak akan lupa kok. Rumah mama dan papa juga rumah Rina kan. Rina gak akan lupa sama tempat dimana Rina di besarkan."
Walau berat hati, mama terpaksa melepaskan Sabrina pindah rumah. Sedih memang ketika melihat mama melambaikan tangan mengiringi mobil yang Sabrina tumpangi untuk sampai ke rumah barunya.
"Hati-hati Rina, jangan lupa, selalu datang kunjungi mama," kata mama disela-sela lambaian tangannya.
Perlahan, setitik demi setitik, embun yang sedari tadi Sabrina tahan jatuh juga. Sabrina tidak kuat menahan buliran bening itu lagi, ketika ia melihat sang mama yang semakin menjauh dari pandangannya.
"Rina pasti akan selalu datang untuk melihat mama. Mama tenang aja ma. Rina sayang mama," ucap Sabrina lirih sambil menghapus air matanya.
"Kamu yakin Sat, mau tinggal pisah rumah dengan papi?"
"Yakin pi. Satya kan udah nikah sekarang. Udah punya keluarga sendiri. Masa udah punya keluarga tinggal sama papi juga. Kapan jadi anak mandirinya kalau gitu."
"Papi tahu kamu udah nikah. Tapi kok rasanya, berat banget mau lepasin kamu tinggal beda rumah dari papi."
"Pi, papi itu harus kasih semangat buat Satya. Biar Satya mampu bangkit sendiri dan gak dikatain anak manja lagi nantinya."
"Siapa yang berani ngatain anak kesayangan papi anak manja. Kasih tahu sama papi, biar papi kasih perhitungan orang itu. Gak tahu apa dia, kalau anak kebanggaan Wisnu Adinata ini bukan anak manja. Melainkan anak mandiri yang mampu berdiri di atas kakinya sendiri."
__ADS_1
Satya tersenyum. Ia tidak mungkin mengatakan siapa yang telah mengatakan dirinya anak manja, yang hanya bertahan dengan ketenaran yang orang tua miliki.
"Kenapa kamu tersenyum Satya? Ayo bilang sama papi, biar papi labrak tu orang sekarang juga."
"Gak perlu pi. Satya bisa urus masalah kecil seperti ini. Papi gak perlu turun tangan lah."
"Kamu yakin?"
"Yakin pi. Udah ya, Satya harus berangkat sekarang."
"Pak Adi. Apa udah siap semuanya?" tanya Satya pada sopir yang sudah lama bekerja dengannya.
"Udah Tuan muda. Semuanya sudah selesai. Tinggal berangkat saja lagi."
"Baiklah, ayo berangkat sekarang."
Satya bersalaman untuk berpamitan pada papinya. Ia mencium tangan sang papi sebelum ia berangkat meninggalkan rumah dimana dia dibesarkan.
Berat memang untuk berpisah dengan rumah itu, apalagi berpisah dengan papanya. Tapi mau bagaimana lagi. Ia dan Sabrina tidak mungkin tinggal dengan orang tua mereka.
Kesepakatan yang mereka berdua buat, mengharuskan mereka untuk tinggal terpisah dari orang tua masing-masing. Karena, jika satu atap, maka mereka berdua tidak mungkin bersikap layaknya suami istri yang sesungguhnya setiap saat.
__ADS_1