
Sabrina melihat bingkai foto itu dengan seksama. Wanita yang ada dalam bingkai foto itu sedang tersenyum indah dengan pose yang sangat cantik.
"Dia mamaku," ucap Satya dari arah belakang.
"Mama?"
"Iya. Dia adalah mamaku. Mama yang sejak kecil telah meninggalkan aku dan aku sangat merindukannya. Apa kamu keberatan, jika aku meletakkan bingkai foto itu disini?"
"Tidak-tidak. Gue tidak merasa keberatan sama sekali."
Sabrina selalu merasakan hawa yang berbeda ketika Satya membahas soal mamanya. Nada bicara Satya juga akan mendadak berubah. Ada rasa kerinduan yang terpancar jelas di wajah Satya, ketika ia bicara soal mamanya. Ia juga akan memakai kata-kata aku kamu jika membahas soal mamanya.
Sabrina memahami sedikit apa yang Satya inginkan sebenarnya. Laki-laki itu begitu menginginkan mamanya hadir. Namun, itu sangatlah tidak mungkin. Sesuatu yang telah pergi dari muka bumi ini, tidak akan pernah kembali lagi.
"Oh ya, dimana kamar gue?" tanya Sabrina tidak ingin terus membahas apa yang bernada sedih.
"Lo bisa pilih kamar mana yang lo suka. Tapi ... gue sarankan kalau lo tidak pilih kamar tamu. Karena nanti akan sulit jika ada tamu yang datang menginap di rumah kita."
"Iya. Gue tahu soal itu. Tidak perlu mengingatkan soal kamar tamu. Gue tidak akan pilih kamar tamu."
"Bagus deh kalo lo tahu diri."
"Apa!"
"Tidak ada."
"Hmz ... awas kalo lo berani ngomongin gue yang jelek-jelek. Gue jotos wajah manja lo itu."
"Cih ... sok jagoan banget lo ya. Mana boleh galak ama suami sendiri."
__ADS_1
"Satya!"
"Gue bercanda."
"Sekali lagi lo ngomong gitu ke gue. Lo akan tahu bagaimana rasanya tinju gue mendarat di bibir lo."
"Ampun ... galak amat," ucap Satya sambil berjalan menuju pintu rumah mereka.
"Lo mau kemana?"
"Mau ke mobil."
"Ngapain?"
"Pacar."
"Bisa serius gak?" tanya Sabrina kesal.
"Gue serius!" Kali ini, Sabrina tidak main-main. Ia benar-benar menunjukkan wajah seriusnya.
"Gue mau ngomong ama sopir gue, buat masukin barang-barang gue kedalam kamar."
"Kamar lo yang mana?"
Satya menghentikan langkahnya yang hampir sampai ke depan pintu. Ia membalikkan badannya untuk melihat Sabrina yang masih berdiri tegak di ruang keluarga, menunggu jawaban atas pertanyaan yang ia tanyakan barusan.
"Kenapa lo malah tanya kamar gue yang mana?"
"Ya gue ingin tahu aja."
__ADS_1
"Jangan bilang lo ingin sekamar sama gue ya," kata Satya dengan mata menggoda.
"Ih ... najis banget. Jangan ngarep deh lo. Mimpi aja gue gak mau sekamar ama lo, apa lagi di kenyataan seperti ini. Ogah, amit-amit deh."
"Bener?"
Sabrina memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin melihat atau memperlihatkan wajahnya pada Satya. Satya berjalan mendekat.
"Ada pepatah bilang, benci itu awal dari cinta. Jangan terlalu benci, nanti lo bisa jatuh cinta. Antara benci dan cinta, itu bedanya sangat tipis. Mungkin setipis kulit bawang," kata Satya panjang lebar.
"Najis!" ucap Sabrina sambil berlalu dan tidak lupa menginjak kaki Satya.
"Augh." Satya meringis kesakitan karena kakinya di injak oleh Sabrina.
"Rasain lo. Gimana? Enak rasanya?" tanya Sabrina sambil tidak lupa tersenyum mengejek.
"Itu hanya sebuah peringatan kecil buat lo. Jangan main-main dengan Sabrina. Jika lo gak mau kaki cantik lo itu berubah biru dan rusak."
"Dasar cewek sakit jiwa lo Sabrina." Satya mengumpat Sabrina yang berjalan menjauh.
"Gila, sakit banget lagi kaki gue. Injakan itu cewek kayak injakan sapi aja. Padahal badannya gak gendut, malahan langsing, ramping dan sangat enak dilihat."
"Ya Tuhan ... apa yang gue pikirkan sih. Jangan sampai gue berniat tertarik ama anak macam seperti dia. Bisa habis hidup gue kalo gue jatuh cinta ama anak macam kayak Sabrina ini," kata Satya bicara pada dirinya sendiri.
Satya duduk di sofa sambil terus mengelus kakinya yang Sabrina injak beberapa saat yang lalu. Ia membatalkan niatnya untuk bicara pada sang sopir karena merasa kakinya masih sakit.
Sabrina datang bersama sopirnya dengan membawa barang-barang yang akan sopirnya pindahkan kedalam kamar. Ia melirik Satya sesaat sebelum melanjutkan langkahnya.
"Lo lemah banget ya," kata Sabrina mengejek Satya saat melihat Satya masih memijit-mijit kakinya.
__ADS_1
"Diam lo."
"Kasian banget deh anak manja yang satu ini. Baru gitu aja udah gak kuat." Sabrina kembali mengejek Satya sambil terus berjalan meninggalkan laki-laki itu dengan wajah kesal.