Perjodohan Dua Pewaris Tunggal

Perjodohan Dua Pewaris Tunggal
#25


__ADS_3

"Ini selimut buat lo," ucap Sabrina sambil menyerahkan selimut yang sudah ada di atas ranjang.


"Makasih. Tapi lo yakin nih kalo gue tidurnya di sofa?" tanya Satya sekali lagi.


"Ya yakinlah. Masa gue gak yakin sama apa yang gue katakan. Masih mending lo tidur di atas sofa, dari pada lo tidurnya di atas lantai."


"Kalo gue sakit perut gimana?"


"Itukan urusan lo Satya Adinata. Mana gue peduli mau sakit perut kek lo."


"Ternyata lo kejam banget ya. Baru aja gue muji lo itu baik tadinya."


"Bodo amat. Gue gak peduli sama apa yang lo katakan. Gue capek dan mau bobok sekarang. Lo jangan coba-coba gangguin gue. Kalo lo berani dekatin gue, jangan salahin gue wajah tampan lo itu gue bikin rusak."


Pada akhirnya, Satya hanya bisa menerima dengan berat hati apa yang menjadi keputusan Sabrina. Ia terkadang merasa Sabrina gadis yang baik, tapi disisi lain, Satya juga merasa kalau Sabrina adalah gadis yang kejam. Terutama padanya.


berjam-jam Satya mencoba memejamkan matanya, tapi ia tetap saja tidak tidur. Matanya seakan tidak merasakan yang namanya kantuk barang sedikitpun. Hawa dingin yang menyelimuti malam ini, membuat tubuhnya terasa beku.


Iya, Satya memanglah anak manja yang tidak bisa tidur jika bukan di atas kasur. Sejak kecil, tubuhnya sudah terlatih hidup mewah. Mana pernah ia tidur di atas sofa barang sekalipun.


Ini adalah yang pertama kalinya dia tidur di atas sofa. Rasanya sangat tidak enak. Matanya tidak bisa ia pejamkan dan tubuhnya terasa sangat tidak nyaman.


Satya memilih bangun lalu menghampiri Sabrina yang ternyata sudah tidur dengan nyenyak. Satya tatap wajah itu. Terlihat sangat cantik, anggun luar biasa.

__ADS_1


Tanpa aba-aba lagi, tangan Satya begitu ringan digerakkan. Entah angin dari mana yang memerintahkan Satya untuk menyentuh Sabrina. Satya menyentuh wajah cantik itu dengan tangannya.


Sontak saja, karena sentuhan itu, Sabrina. tersadar dari tidurnya. Ia dengan sigap memukul Satya dengan tangannya. Sikap hati-hati seperti ini memang sudah terlatih dalam ilmu bela diri yang Sabrina pelajari. Jadi wajar, kalau Sabrina mengarahkan pukulan secara reflek.


Pukulan itu tepat mengenai dada Satya, membuat tubuh Satya yang tidak tahu bela diri sedikitpun harus jatuh kelantai. Satya merintih kesakitan. Ia tidak menyangka mendapatkan pukulan yang baginya sangat menyakitkan.


"Aaggghh." Satya mengerang sambil memegang dadanya.


"Satya!" Sabrina terlihat panik dan segera bangun untuk menghampiri Satya yang masih terduduk sambil memegang dadanya.


"Sat, gue minta maaf. Gue gak niat buat mukul lo sekencang itu."


"Agghh ... gila lo. Sakit banget gue."


"Ya salah lo sendiri. Ngapain sentuh-sentuh gue. Kan gue udah kasih peringatan buat lo sebelum kita masuk kamar."


"Ya mana gue tahu. Kan gue juga gak sengaja tadinya. Sini gue bantu bangun," kata Sabrina berusaha membantu.


"Gak usah deh. Gue udah gak papa lagi."


"Ya udah. Gue udah mau berbaik hati, lo gak mau terima."


"Gue mau tidur di kamar tamu aja," kata Satya sambil berusaha berjalan walau dadanya masih sangat sakit.

__ADS_1


"Lho kok ke kamar tamu sih? Nanti kalo mama papa tahu lo tidur di kamar tamu, gue juga yang repot."


"Serah lo, itu urusan lo bukan urusan gue."


"Lo gak bisa ngomong gitu juga dong. Lo kesini kan udah gue bilangin jangan bikin masalah buat gue."


Satya terdiam. Mungkin ia salah menilai Sabrina itu gadis yang baik. Nyatanya, ia tahu apa alasan Sabrina berbaik hati dengannya. Itu semua hanya karena Sabrina tidak ingin mama papanya marah saja.


"Gue gak bisa tidur di atas sofa," ucap Satya jujur.


"Lo itu anak manja tahun berapa sih? Masa tidur atas sofa aja gak bisa."


"Gue emang anak manja Sabrina. Dan lo juga udah tahu kalo gue anak manja," ucap Satya dengan kesal dan serius.


Sabrina merasa tidak enak kali ini. Ia melihat keseriusan dari Satya.


"Ya udah. Lo tidur atas kasur, biar gue yang tidur atas sofa."


"Gak usah. Lo gak perlu ngelakuin itu untuk gue."


"Lo maunya apa sih Satya? Bingung gue."


"Apa salahnya kita tidur satu kasur. Kita inikan sudah resmi suami istri. Tidak akan terjadi apa-apa jika gue dan lo itu tidur atas kasur yang sama. Gitu aja lo susah banget sih Sabrina."

__ADS_1


"Gue .... "


'Gue gak ingin jantung gue kumat saat dekat dengan lo Satya. Gue berusaha bersikap kasar sekarang agar gue gak merasakan kalo itu suka sama gue. Gue belum siap untuk disukai oleh cowok buat saat ini,' kata Sabrina dalam hati.


__ADS_2