Perjodohan Dua Pewaris Tunggal

Perjodohan Dua Pewaris Tunggal
#42


__ADS_3

Karena tugas yang Satya kerjakan, Sabrina dapat pujian dari dosen di kelas. Ternyata, tugas yang Satya kerjakan mendapat nilai yang sangat bagus. Satya memang pintar dalam hal pelajaran. Ia mampu mengerjakan pelajaran yang bukan jurusannya.


Siska yang menjadi teman Sabrina, ia merasa tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi pada temannya. Tidak biasanya Sabrina dapat pujian dari dosen. Apalagi pujian karena nilai tugas yang ia kerjakan. Biasanya, Sabrina adalah orang yang selalu dapat omelan. Kalo tidak tugasnya salah semua, ya karena tugasnya gak pernah ia selesaikan.


Saat mata pelajaran berakhir, mereka memutuskan untuk bersantai di taman kampus. Di sana, Siska mengutarakan rasa penasaran dalam hatinya karena nilai yang Sabrina dapatkan hari ini.


"Rina. Gue itu gak percaya banget deh dengan apa yang terjadi hari ini."


"Gak percaya kenapa?" tanya Sabrina bingung.


"Ya gak percaya sama lo yang dapat pujian dari dosen. Biasanya kan, lo itu selalu dapat hukuman, bukan pujian," kata Siska dengan jujurnya.


Sabrina hanya terdiam menanggapi apa yang sahabatnya katakan. Jujur, ia membenarkan perkataan Siska barusan. Ia memang jarang dapat pujian kalo soal pelajaran. Bukan jarang, tapi bisa di katakan tidak pernah sama sekali.


"Sekarang, jujur lo sama gue. Kenapa hari ini tugas yang li kerjakan bisa dapat nilai bagus. Siapa yang sudah bantuin lo ngerjain tugas?" tanya Siska penuh penasaran.


"Oh, itu karena .... "


Sabrina ingat satu hal. Ia tidak mungkin jujur soal Satya yang mengerjakan tugasnya. Ia terpaksa berpikir alasan lain agar Siska percaya dan tidak terus menanyakan prihal tugasnya lagi.


"Karena apa?"

__ADS_1


"Ya karena gue berusaha dengan sungguh-sungguh. Gue mau berubah aja, biar bisa jadi kebanggan mama papa," jawab Sabrina ngelantur. Habisnya, dia tidak punya cara lain lagi selain bohong dengan mengatas nama papa dan mamanya.


"Gak percaya gue," kata Siska.


"Terserah lo aja deh. Mau percaya atau nggak. Bukan urusan gue."


Sementara itu, Satya yang berada di cafe bersama kedua sahabatnya, sedang mencari cara agar ia bisa mencuri perhatian Sabrina. Ia akan berusaha memenangkan hatinya Sabrina bagaimanapun caranya.


Ia ingat kalau sebelum ke cafe tadi, ia telah melihat Sabrina berada di taman kampus bersama sahabatnya. Tiba-tiba, muncul ide di kepala Satya. Ia segera memesan dua gelas es untuk ia berikan pada Sabrina nantinya.


"Lo pesan minuman buat apa Satya? Bukannya kita sedang minum sekarang," kata Sean merasa penasaran dengan apa yang Satya lakukan sekarang.


"Ya buat minumlah, buat apa lagi coba," kata Andrian menjawab pertanyaan Sean.


"Habisnya, lo nanya gak benar sih. Nanya itu gini, lo pesan minuman buat siapa Satya? Gitu," kata Andrian membenarkan perkataan Sean.


"Terserah lo ajalah, yang penting intinya gue nanya sama Satya bukan sama lo."


"Iya deh."


"Satya, lo kok diam aja sih. Lo pesan minuman buat siapa sih?" tanya Sean lagi.

__ADS_1


"Kalian berdua kok pada ribet sih. Gue pesan minuman buat seseorang," jawab Satya dengan nada cuek.


"Ya siapa Satya?"


"Jangan-jangan buat Cindy lagi," kata Sean mencoba menebak.


"Bukan. Gue pesan minuman buat istri gue," kata Satya dengan jujurnya.


"Apa!? Istri?" tanya mereka berdua secara bersamaan.


"Iya. Kenapa?" tanya Satya balik.


Belum sempat keduanya menjawab. Pelan cafe pun mengantarkan dua gelas minuman ke meja mereka. Satya lalu mengambil minuman itu. Setelah membayarnya, Satya tanpa kata segera meninggalkan kedua sahabatnya dalam kebingungan akibat kata-kata Satya barusan.


Satya menuju taman kampus. Di sana, ia melihat Sabrina dan Siska masih tetap berada di tempat mereka. Keduanya masih membahas soal tugas yang Sabrina kerjakan.


Satya menyapa keduanya. Lalu memberikan minuman itu pada Sabrina. Sabrina yang merasa aneh dengan apa yang Satya lakukan, hanya bisa menyambut minumannya dengan tangan yang berat.


Sementara itu, Cindy sedang sibuk mencari di mana keberadaan Satya. Ia juga menanyakan pada semua orang yang ia temui, tentang keberadaan Satya sekarang. Hingga ia melihat Sean dan Andrian yang sedang mengikuti Satya keluar dari cafe menuju taman.


Tidak membuang waktu lagi, Cindy langsung menghampiri keduanya. Ia terus menanyakan Satya pada keduanya. Kedua sahabat Satya saling pandang. Belum sempat mereka menjawab, Cindy sudah melihat keberadaan Satya yang sedang bersama Sabrina saat ini.

__ADS_1


Sontak saja, Cindy langsung marah dengan apa yang ia lihat. Ia ingin menghampiri Satya yang sedang duduk bersama Sabrina. Tapi, langkahnya di cegah oleh Andrian dengan cepat.


__ADS_2