
Ternyata, Sean dan Adrian membawa Satya untuk bertemu dengan Cindy. Keduanya menerka kalau Satya tertarik pada Cindy. Makanya, mereka bertekad untuk membantu Satya buat dekat dengan Cindy.
Mereka berusaha mendapatkan nomor ponsel dan segala tentang Cindy. Akhirnya, mereka berhasil tahu kalau Cindy juga suka dengan Satya. Itu membuat mereka berdua bahagia dan memutuskan untuk semakin berusaha lagi.
"Kalian ngapain sih bawa aku bertemu dia?" tanya Satya sambil berbisik.
"Udah, jangan banyak omong. Malu jika Cindy tahu kalo lo belum pernah pacaran sama sekali," kata Andrian.
"Hai Cind." Sean menyapa Cindy dengan ramah.
"Hai Sean. Eh, ada Satya juga. Ayo duduk."
"Sendirian aja Cind?" tanya Andrian.
"Yah, seperti yang kalian lihat. Gue sendiri aja. Namanya juga anak baru. Sulit buat gue berbaur dengan yang lain," kata Cindy memasang wajah iba.
"Tenang aja Cind. Kita-kita ini siap kok buat lo jadiin teman. Iyakan Sat," ucap Sean sambil menyenggol bahu Satya.
"Eh, iy-iya," kata Satya dengan malas.
__ADS_1
"Yang benar kalian?" tanya Cindy dengan wajah bahagia.
"Ya bener banget lah Cind, masa kita bohong sama kamu," ucap Sean.
Mereka asik ngobrol dengan riang, sedangkan Satya merasa sangat tidak nyaman berada di kantin ini. Ngobrol dengan gadis sambil dilihatin para gadis yang lain. Rasanya sungguh tidak enak buat Satya. Tapi tidak untuk Sean, Andrian, dan Cindy. Mereka malah menikmati obrolan dengan sesekali Sean menyenggol Satya hanya untuk menyetujui apa yang mereka bicarakan.
"Gue ke kamar mandi dulu ya," ucap Sean setelah beberapa lama ngobrol.
"Gue ikut," kata Andrian.
"Ya udah ayo!" ajak Sean.
"Lo disini aja Sat, temani Cindy. Kasihan kan kalo Cindy sendirian terus disini. Mana banyak anak nakal lagi yang terus ngelihatin Cindy kalo lagi sendiri," kata Andrian.
"Namanya juga anak baru yang belum punya teman. Mana anak barunya cantik lagi. Resiko buat di ganggu itu sangat besar," kata Sean pula menambahkan.
"Ya udah, kita cabut dulu ya. Cind, lo ditemani Satya dulu ya," kata Andrian sambil beranjak pergi disusul Sean.
Hening. Hanya itulah yang terjadi diantara Satya dan Cindy setelah Sean dan Andrian meninggalkan mereka berdua. Cindy berusaha mengubah keadaan tapi rasanya agak sulit buat dia. Karena Satya kelihatannya sedang tidak bisa ia ajak bicara saat ini.
__ADS_1
Sedangkan Satya, matanya terus saja melihat kearah pintu masuk. Berharap Sean dan Andrian segera kembali. Ia tidak ingin tetap berada di kantin ini. Apalagi duduk satu meja dengan Cindy.
"Lo mau kemana Satya?" tanya Cindy saat Satya ingin bergerak dari duduknya.
"Mau nyusul Sean dan Andrian dulu. Kok lama amat mereka ke kamar mandinya."
"Gak perlu deh lo susul mereka. Sebaiknya lo tetap aja disini. Mereka bentar lagi juga akan kembali," kata Cindy mencegahnya.
Satya tidak yakin kalau kedua temannya akan kembali tanpa ia susul. Tapi, ia juga tidak enak menolak apa yang Cindy katakan. Satya memutuskan untuk duduk kembali sambil sesekali melihat kearah meja yang Sabrina duduki.
Cindy sekarang punya banyak bahan untuk ia bahas dengan Satya. Dia tahu, kalau Sean dan Andrian tidak akan kembali ke kantin ini lagi. Karena, Sean sudah mengirim pesan singkat pada Cindy. Menyuruh gadis itu mengenal Satya lebih dekat lagi.
Sedangkan disisi lain, Sabrina melihat Satya yang sedang ngobrol dengan Cindy, saat Sabrina ingin keluar dari kantin. Kelihatannya, mereka sangat akrab ngobrol sekarang. Membuat hati Sabrina merasakan sesuatu yang aneh. Yang tidak biasa ia rasakan sebelumnya.
Sabrina terdiam mematung untuk sesaat ketika melihat kedekatan Satya dengan anak baru itu.
"Lo lihat apa Rina?" tanya sahabatnya.
"Gak ada apa-apa. Ayo kemabli ke kelas," kata Sabrina berusaha santai.
__ADS_1
Sebagai seorang sahabat dekat, Siska sudah sangat memahami sikap dan tingkah laku Sabrina. Ia tahu kalau saat ini, ada yang tidak beres dengan sahabatnya. Tapi, ia tidak ingin menanyakan lebih lanjut pada Sabrina. Ia justru memilih diam lalu mengikuti Sabrina yang berjalan cepat meninggalkan kantin.