
"Lo dengar berita itu dari mana?"
"Yaelah Rina. Semuanya bisa lihat lewat sosial media. Beritanya terpajang jelas di sana. Dan sekarang, seisi kampus sedang ribut membahas tentang berita ini."
"Apa mereka menyertakan nama?"
"Enggak sih. Mereka hanya mengatakan kalau dua pewaris tunggal perusahaan terkenal sudah resmi bersatu, dalam kurung, menikah," ucap Siska sambil menekankan pada kata menikah.
"Ya jelas-jelas bukan gue dong Sis. Kalo udah ada namanya, baru lo bisa bilang kalo itu adalah gue," kata Sabrina sedikit lega.
"Enteng banget lo ngomong. Dua pewaris tunggal perusahaan terkenal itu yang ada di kampus ini hanya lo dan Satya. Semua juga tahu kalo Satya adalah anak dari pewaris tunggal perusahaan terkenal."
"Ya gak mungkin cuma gue sama Satya aja yang menjadi pewaris tunggal perusahaan orang tua Siska. Masih banyak anak-anak yang lain yang orang tuanya kaya raya. Dan juga tidak punya saudara. Otomatis mereka juga pewaris tunggal kan?"
"Ampuuun ... kapan lo ini ngerti dengan apa yang gue omongin Sabrina. Dan kapan juga gue itu menang kalo lagi adu mulut dengan lo. Dasar lo gak mau kalah."
"Lah ... ngambek deh. Ya udah, gak perlu bahas hal yang gak penting seperti itu lagi dong Sis. Gosip murahan kayak gitu bukan urusan kita tahu gak."
"Masalahnya gak segampang itu Sabrina. Iya kalo bukan lo yang nikah sama Satya. Kalo lo gimana?"
"Gimana apanya?"
"Ya gue gak ingin lo jadi bahan incaran para gadis gila yang terobsesi dengan Satya. Mereka akan mencari gara-gara sama lo Rin. Gue gak mau lo dapat masalah."
__ADS_1
"Siska. Lo kan tahu siapa gue. Gak usah lo pikirin soal itu ya. Cepat atau lambat, gosip itu akan lenyap juga. Dan semuanya akan lupa dengan gosip murahan kayak gitu seiring berjalannya waktu. Udah ya, jangan bahas soal gosip itu lagi. Pusing gue dengarnya."
"Ya udah deh. Lo janji sama gue kalo lo gak bikin gue khawatir ya Rin."
"Iya. Gue janji deh sama lo, gue gak akan bikin hidup gue, apa lagi hidup lo jadi rumit selama gue ada di samping lo Siska. Lo adalah teman terbaik gue."
____
Seperti yang Siska katakan, kampus sedang gempar karena berita pernikahan dua pewaris tunggal perusahaan terkenal ini. Mereka sedang menebak-nebak siapakah kedua pewaris tunggal itu.
Tidak banyak yang tahu kalau Sabrina adalah salah satu dari dua pewaris tunggal tersebut. Karena ia sangat jarang ikut papanya dalam acara bisnis. Ia tidak tertarik dalam dunia perkantoran sebenarnya.
Tapi, bukan berarti dirinya tidak di kenal orang. Bagaimanapun, yang namanya anak dari seorang pembisnis terkenal, ya pasti ada aja yang kenal dengannya.
Sedangkan Satya, dia juga sedang diinterogasi oleh kedua sahabatnya.
"Satya, jangan bohong ama kita berdua. Lo udah nikah ya?" tanya Andrian langsung tidak sabar lagi.
"Siapa yang bilang?" tanya Satya pura-pura kaget.
"Alah, jangan pura-pura dalam perahu deh lo. Kura-kura gak tahu," kata Sean.
"Salah dodol," kata Andrian.
__ADS_1
"Yeee ... suka-suka gue dong mau ngomong apa. Mulut-mulut gue," ucap Sean tak terima.
"Satya!"
Seseorang dengan suara paling kerasnya datang menghampiri Satya dan kedua temannya. Dia adalah Karmila. Anak seorang pengusaha yang lumayan ternama. Tapi sayangnya, tidak seternama Satya dan juga Sabrina.
"Ya ampun, gue kok kayak berasa ada dalam kebun binatang ya," kata Sean dengan kesal.
"Heh Karmila, kita gak ada di tengah hutan ya. Lo ngapain harus teriak-teriak gitu. Gue rasa Satya masih punya pendengaran yang baik deh. Gak perlu lo teriak-teriak kayak di tengah hutan," ucap Andrian.
"Diam kalian berdua. Gue gak ada urusan sama kalian berdua. Gue hanya mau bicara sama Satya sekarang."
"Ada perlu apa lo mau bicara ama gue?" tanya Satya.
"Sat, lo jujur sama gue, bilang sama gue kalo yang sedang menjadi berita hangat seisi kampus ini bukan lo," katanya dengan nada sedih dan memelas. Berharap kalau yang sedang menjadi gosip hangat saat ini bukanlah Satya, pujaan hatinya.
"Apa urusannya sama lo?" tanya Satya enteng.
"Satya! Lo kan tahu bagaimana perasaan gue sama lo. Gue sangat amat suka sama lo Sat. Jadi, jangan hancurin hati gue dong."
"Bukan urusan gue," kata Satya sambil beranjak dari duduknya.
"Satya tunggu! Lo gak punya perasaan banget sih," kata Karmila dengan sangat kesal.
__ADS_1