
Sabrina sampai duluan ke rumah baru mereka. Beberapa menit kemudian, Satya menyusul pula. Saat Sabrina masih sibuk memperhatikan sekeliling rumah baru yang akan ia tempati bersama orang asing yang bergelar suaminya nanti.
Rumah dua lantai itu terlihat sangat megah. Halamannya juga luas dan tertata dengan sangat rapi dan bersih. Lengkap dengan kolam renang dan taman di samping rumah kiri kanannya.
Sabrina menerka, rumah ini pasti sangat mahal dengan halaman dan desain yang sangat mewah. Tidak mungkin kalau Satya tidak meminta uang dari papanya untuk membeli rumah itu.
"Gimana? Apa cocok dengan selera lo?" tanya Satya mengangetkan Sabrina.
"Ya Tuhan ... lo bisa gak sih salam dulu jika ketemu orang?" tanya Sabrina sambil mengelus dadanya akibat kaget.
Satya lantas langsung mengulurkan tangannya kepada Sabrina. Hal itu sontak membuat Sabrina jadi sangat bingung dengan tingkah Satya.
"Apa-apaan sih lo? Mau apa ngulur tangan ke gue?"
"Mau salaman lah. Mau apa lagi coba."
"Ngapain salaman?"
"Ya lo bilang kan kalo ketemu orang gak bisa ya gak kasih salam dulu."
"Ya Tuhan ... maksud gue bukan itu. Lo kok bego amat sih."
"Lo .... "
"Apa!" kata Sabrina sambil melotot.
__ADS_1
"Dosa lho kalo kasar sama suami," ucap Satya memasang wajah lugu.
"Serah lo deh. Capek gue ngomong ama lo," ucap Sabrina pasrah, lalu berjalan meninggalkan Satya.
Satya melihat Sabrina yang kesal. Ada rasa lucu dihatinya saat ini. Ketika melihat wajah gadis galak itu begitu kesal, lalu pasrah dengan apa yang ia lakukan. Ada kebahagiaan tersendiri di hati Satya setiap kali melakukan hal itu.
'Ternyata, bikin gadis galak itu kesal seru juga. Sangat gampang marah dan paling mudah terpancing emosi,' ucap Satya dalam hati sambil tersenyum.
Satya menyusul Sabrina yang berjalan memasuki rumah megah itu. Sedangkan kedua sopir mereka sedang menunggu perintah untuk memindahkan barang-barang yang majikannya bawa.
"Gimana? Apa lo suka dengan desain rumah ini?"
"Lumayan."
"Cuma lumayan doang? Gue susah payah buat beli sekaligus desain semuanya sendiri. Lo cuma bilang lumayan doang untuk kerja keras yang gue lakukan selama beberapa hari ini. Benar-benar gak menghargai banget lo ya ternyata."
"Ngapain lo ketawa? Apa ada yang lucu?"
"Adalah, kalo gak gak mungkin gue ketawa."
"Apanya yang lucu sampai gadis galak kayak lo tertawa bebas seperti itu?"
"Lo ya lucu."
"Gue bukan badut."
__ADS_1
"Iya, lo bukan badut. Tapi lebih tepatnya, lo lebih lucu dari badut."
"Lo lucu ya. Mana mungkin lo mampu beli rumah ini. Dan ... gak mungkin juga kali, kalo lo yang desain rumah sebagus ini."
"Kenapa gak mungkin?" tanya Satya dengan wajah serius.
"Hello ... lo itu anak manja. Cuma punya harta orang tua. Mana mungkin lo punya uang buat beli rumah segede ini. Yang ada, papa lo yang belikan ini rumah. Terus ... dikasih deh sama lo. Anak manjanya."
Satya tidak menjawab. Ia hanya menatap Sabrina dengan tatapan tajam dan serius saja. Mungkin, kesannya di mata Sabrina memang seperti itu, mau diapakan lagi. Satya membiarkan Sabrina berpikir sesuka hati tentangnya. Tanpa berniat untuk merubah atau meluruskan pikiran buruk Sabrina itu.
"Oh ya, sebenarnya, gue itu malu sama orang-orang, gue nikah sama anak manja yang hanya bisa mengandalkan kekayaan orang tua."
"Pantas aja lo gak laku kalo di kampus."
"Apa!"
"Gak ada. Serah lo deh mau ngomong apa. Malu kek, nggak kek. Suka-suka lo aja deh. Gue gak mau ambil pusing. Kalo lo malu, buang tuh muka. Biar gak malu lagi," ucap Satya sambil berjalan menuju salah satu kamar.
"Lo ... ih, nyebelin banget sih."
Satya tidak ingin melayani Sabrina berdebat lagi. Ia membiarkan Sabrina dengan emosi yang memuncak sendirian di ruang tamu.
Merasa tidak dilayani, emosi Sabrina mendadak menyusut bagai air sungai yang surut. Ia hanya bisa melihat Satya berjalan menuju kamar tanpa memperdulikannya.
Sabrina ikut berjalan meninggalkan ruang tamu. Ia melewati ruang keluarga sebelum kakinya melangkah ke kamar tidur yang akan ia pilih untuk menjadi kamarnya nanti.
__ADS_1
Tapi, langkah Sabrina terhenti saat ia sampai di ruang keluarga. Di sana, ada sebuah bingkai foto yang terpajang megah. Bingkai foto itu mampu menarik perhatian Sabrina, sehingga ia menghentikan langkahnya.