Perjodohan Dua Pewaris Tunggal

Perjodohan Dua Pewaris Tunggal
#32


__ADS_3

Ingat semua hal itu membuat rasa perih di hati Sabrina semakin bertambah, bukannya semakin berkurang apalagi hilang. Sabrina membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Memandangi langit-langit kamar yang ia hiasi dengan bintang-bintang yang terbuat dari kertas origami yang berwarna warni.


Pikirannya kembali ke masa lalu, masa dimana dia baru saja duduk di sekolah menengah pertama (SMP). Saat itu, dirinya masih sangat polos dan tidak tahu bagaimana bergaul dengan orang lain.


Seseorang datang menghampirinya, mengajarkan Sabrina arti kehadiran dan rasa rindu. Memberi warna buat hidup Sabrina yang awalnya polos bagai cat putih.


Tapi, orang itu bukan hanya mengajarkan Sabrina akan kehadiran dan juga kebahagiaan. Dia juga mengajarkan Sabrina arti kehilangan dan kesedihan yang teramat sangat bagi Sabrina. Mengubah Sabrina yang polos jadi keras dan garang. Membuat Sabrina tidak ingin mengulangi rasa itu lagi hingga detik ini.


Tapi sayang, rasa yang tidak ingin Sabrina rasakan itu tiba-tiba datang kembali. Perlahan tapi pasti, datang tanpa ia undang. Hadir menyusup kedalam hati Sabrina. Walaupun ia sudah mencoba untuk tidak terlibat dengan rasa itu, tapi rasa itu terus saja menghampirinya. Hingga mengenai tepat di hati Sabrina, seperti saat ini.


Tanpa sadar, buliran bening jatuh dari kedua sudut mata Sabrina. Ia tidak ingin menangis, tapi matanya tidak bisa ia ajak kompromi. Matanya tetap juga menjatuhkan buliran bening yang terasa hangat saat ia melintasi kelopak mata Sabrina.


"Tidak Sabrina, tidak. Kamu tidak pantas menangis. Apalagi menangis karena seorang laki-laki. Kamu adalah gadis kuat Sabrina. Gadis kuat tidak boleh menangis," kata Sabrina pada dirinya sendiri.


Ia bangun dari baringnya, lalu menuju kamar mandi. Ia ingin segera mandi sekarang. Agar pikiran dan juga hatinya merasa sedikit kesegaran walaupun itu tidak akan mungkin.


Belum juga Sabrina sampai ke kamar mandi. Pintu kamarnya diketuk seseorang. Sabrina terpaksa membatalkan niatnya untuk ke kamar mandi buat sementara ini.

__ADS_1


"Iya, tunggu sebentar," kata Sabrina sambil bergegas menuju pintu kamar.


"Ada apa sih ma? Rina masih belum .... "


Ucapan Sabrina terhenti saat daun pintu kamarnya terbuka lebar. Awalnya, ia menyangka sang mama yang mengetuk pintu kamarnya barusan. Tapi ternyata, yang sedang berdiri dihadapannya saat ini adalah Satya.


"Satya."


"Rina, aku minta maaf."


"Rina, aku tahu kamu kesal karena aku melupakan janji yang aku buat. Aku minta maaf untuk itu. Aku sudah membawakan kamu dress agar kamu bisa pakai sekarang."


Sabrina tersenyum kecut. Kekesalan yang ada dalam hatinya kini kian bertambah besar. Ingin rasanya ia hadiahkan sebuah pukulan ke wajah Satya saat ini juga. Biar laki-laki itu sadar kalau dia sudah salah karena membuat hati seorang Sabrina kecewa.


"Maaf Satya, aku tidak bisa pergi malam ini. Mungkin lain kali saja. Aku lelah sekali malam ini. Jadi, sekali lagi maaf."


Sabrina mengumpulkan semua kesabarannya hanya untuk bicara kata-kata itu dengan nada rendah. Agar Satya tidak merasa kalau dirinya sedang kesal akibat Satya yang tidak menepati janji. Dan malahan bersenang-senang dengan pacarnya saat Sabrina menunggu terlalu lama.

__ADS_1


"Rina .... " Satya memanggil Sabrina dengan tatapan penuh harap dan sangat mengharapkan belas kasihan.


"Bisakah kamu hormati keputusan yang aku buat?" tanya Sabrina dengan tatapan kesal.


"Baiklah. Aku mengerti. Aku akan datang sendiri ke rumah orang tuaku malam ini."


Tidak ada tanggapan apa-apa dari Sabrina. Ia hanya diam tanpa berucap sepatah katapun. Tapi, dalam hati ia berkata, 'kenapa malah mau datang sendiri? Kenapa gak bawa pacarmu saja bertemu papamu?'


"Ya sudah, aku pamit sekarang. Oh ya, apa lo gak nginap disini malam ini?" tanya Satya sebelum dia melangkah.


"Iya."


"Ya sudah. Ini dress nya, semoga pas buat lo," kata Satya sambil menyerahkan dress yang berada dalam paper bag yang ia jinjing sejak tadi.


"Kalo gak suka, lo buang aja dress nya," ucap Satya lagi saat Sabrina terlihat engan untuk mengambil paper bag yang ia berikan.


'Gue tahu lo kesal sama gue Rina. Gue memang laki-laki yang gak peka dengan perasaan orang lain,' kata Satya dalam hati sambil melangkah pergi dari hadapan Sabrina.

__ADS_1


__ADS_2