
"Jadi benar, kalian udah menikah. Kenapa kamu dekatin aku kalo kamu sudah punya istri Satya!? Kenapa kamu berikan aku harapan palsu hah!"
"Siapa yang mendekati kamu. Kamu yang mendekati aku. Dan satu hal yang harus kamu tahu, aku tidak pernah memberikan harapan palsu padamu. Sejak awal, aku sudah menunjukkan kalau kita ini hanya sebatas teman saja."
"Teman? Kamu bilang kita hanya sebatas teman?"
"Iya. Kita memang hanya sebatas teman. Aku gak pernah anggap kamu lebih dari teman Cindy."
"Kamu jahat Satya. Kamu jahat!" ucap Cindy sambil menjatuhkan buliran bening dari pelupuk matanya. Ia tak kuat untuk tetap berada di sana lagi.
"Ada apa ini? Kenapa kalian pada berkerumunan di sini?" tanya salah satu dosen yang melihat kerumunan yang mengelilingi Satya dan Sabrina.
Tidak ada yang berani menjawab sepatah katapun. Mereka hanya tertunduk diam seribu bahasa.
"Bubar-bubar," kata dosen itu lagi.
Kerumunan itupun bubar dengan cepat. Ada sebagian yang enggan untuk bubar karena masih penasaran dengan apa yang akan terjadi dengan Satya dan Sabrina. Mereka berdua adalah orang yang terkenal di kampus, terutama Satya. Jadi wajar kalau ada banyak yang ingin tahu tentangnya.
"Puas lo sekarang Sat? Kita udah jadi bahan tontonan mahasiswa satu kampus. Dan gue yakin, kita bukan hanya jadi bahan tontonan hari ini. Kita juga akan jadi gosip hangat mahasiswa satu kampus selama berhari-hari," kata Sabrina dengan nada sangat kesal.
__ADS_1
"Itu lebih baik dari pada gue jadi rebutan cewek satu kampus kan Rina?"
"Lo ingin nyelamatin diri lo tapi lo korbankan diri gue. Gila lo ya, gak habis pikir gue dengan sikap egois yang lo miliki itu."
"Bukan itu yang gue maksud Sabrina. Lo salah sangka."
"Cih, semua cowok sama aja. Sama-sama egois, sama-sama ingin menang sendiri," ucap Sabrina sambil beranjak meninggalkan Satya.
"Rina tunggu!" Satya ingin mengejarnya, tapi Siska menahan.
"Beri Rina waktu untuk sendiri Satya. Gue yakin, saat ini dia sedang sangat kesal. Biarkan dia tenang dulu."
"Satya."
"Kenapa kalian kesini?" tanya Satya ketus.
"Kita tahu semuanya. Kita minta maaf sama lo karena udah salah sangka," ucap Andrian sambil menepuk pundak Satya lalu duduk di sampingnya.
"Salah sangka apa?"
__ADS_1
"Kita kira lo suka sama Cindy. Ternyata, lo sudah menikah dengan Sabrina. Kita minta maaf karena udah mendekatkan lo sama Cindy dan bilang sama Cindy kalo lo suka sama dia," kata Andrian sambil tertunduk.
"Oh, jadi itu ulah kalian berdua. Kenapa kalian bisa bilang sama dia kalo gue suka dia?" tanya Satya dengan kesal sambil mencengkram kerah baju Andrian.
"Kita juga gak akan bilang sama Cindy kalo lo terus terang sama kita. Kita ini sahabatan udah lama Satya. Tapi lo malah gak anggap kita sahabat lo. Sahabat macam apa lo ini," kata Sean kesal sedangkan Andrian hanya diam tanpa kata.
Perlahan, Satya melepaskan kerah baju Andrian yang ia cengkram. Ia sadar apa yang Sean katakan itu benar. Andai saja ia jujur pada kedua temannya kalau dia sudah menikah. Semuanya tidak akan jadi seperti saat ini.
"Maafin gue. Gue yang salah," kata Satya perlahan.
"Itulah pentingnya kejujuran dalam setiap hubungan Satya. Bukan hanya hubungan pacaran, tapi juga hubungan persahabatan," kata Andrian.
Satya hanya bisa mengangguk pelan membenarkan apa yang Andrian katakan. Ia tidak punya kata-kata untuk ia ucapkan buat saat ini. Pikirannya berkecamuk dengan berbagai masalah yang baru saja terjadi. Ia memikirkan apa yang akan terjadi seterusnya. Bisakah ia dan Sabrina berbaikan dan menjalani hubungan layaknya suami istri?
"Sat, lo tenang aja, sebisa mungkin kita akan bantu lo buat dapetin pujaan hati yang lo suka," kata Andrian kembali menepuk pundak Satya.
"Apa gue bisa memenangkan hati Sabrina?" tanya Satya dengan nada ragu.
"Lo bisa Satya. Lo pasti bisa," ucap Andrian penuh semangat.
__ADS_1
"Gue kok gak yakin ya," kata Satya sambil menatap Andrian. Sedangkan Sean, ia hanya diam seribu bahasa. Tidak ada kata yang terucap dari mulutnya. Mungkin, rasa syok masih gentayangan dalam benak Sean saat ini.