Perjodohan Dua Pewaris Tunggal

Perjodohan Dua Pewaris Tunggal
#41


__ADS_3

Meskipun Satya adalah laki-laki yang tidak peka akan perasaan perempuan. Tapi kali ini, ia tahu kalau Sabrina benar-benar sedang cemburu padanya. Cemburu karena perempuan yang dekat dengan Satya. Itu tandanya, Satya punya kesempatan besar untuk memiliki hati dan raga Sabrina.


"Kamu cemburu Rina?" tanya Satya senang.


"Cemburu? Apaan sih? Siapa yang cemburu?"


"Jujurlah Rina dengan hatimu sendiri. Kamu tidak bisa menyembunyikan raut wajahmu yang kesal itu," kata Satya sambil tersenyum bahagia.


"Gila kamu," ucap Sabrina sambil beranjak pergi meninggalkan Satya.


Satya tidak menahannya. Kini ia tahu kalau ia masih punya banyak kesempatan untuk mendapatkan hati Sabrina. Gadis galak yang telah hadir dalam hatinya.


_____


Karena pernyataan cinta yang sangat mendadak itu, Sabrina tidak bisa memejamkan matanya. Ia ingin tidur, namun matanya tidak merasa ngantuk sedikitpun. Sabrina terus saja mencoba memejamkan matanya, tapi perkataan Satya malah terdengar sangat jelas di telinga Sabrina. Bagaikan rekaman yang terus diputarkan.


Hasilnya, malam itu ia tidak bisa tidur barang semenit pun hingga adzan subuh berkumandang. Sabrina memutuskan untuk bangun ketika ia ingat kalau tadi malam tugas yang akan ia kumpulkan pagi ini belum terselesaikan.


"Udah bangun Rina?" tanya Satya saat Sabrina melewati kamar Satya.


"Seperti yang lo liat," ucap Sabrina dengan sangat ketus.


"Berangkat nanti bareng aku aja ya," kata Satya tanpa memikirkan keketusan Sabrina barusan.


"Gak. Gue punya mobil sendiri."

__ADS_1


"Ya udah kalo gitu, aku aja yang nebeng sama kamu ya. Gimana?"


"Lo apa-apaan sih Satya. Sakit ya?" tanya Sabrina dengan nada kesal.


"Apa salahnya kalo kita berangkat bareng Rina. Toh kitakan satu arah, satu tujuan juga kan."


"Gue gak mau barengan sama lo. Nanti dikira perebut pacar orang lagi."


"Kan aku udah bilang kalo aku gak pernah punya pacar. Kamu kok masih cemburu aja sih sama aku," kata Satya dengan santainya.


"Satya!"


"Kalo marah berarti benar Rina. Kamu benar-benar cemburu dengan aku."


"Ya kamulah istriku, siapa lagi coba?"


"Satya, jangan bikin gue kesal. Ini masih terlalu pagi untuk menguji kesabaran gue. Lo akan tahu akibatnya ketika lo bikin gue kesal. Apalagi pagi-pagi begini."


"Aku gak niat bikin kamu kesal kok Rina. Sama sekali gak ada niat sedikitpun. Aku hanya ingin berangkat bareng kamu, itu aja kok."


"Gue gak mau. Sekali gak mau tetap gak mau. Lo jangan paksain gue juga dong."


"Ya udah deh kalo kamu gak sudi berangkat bareng aku. Mungkin aku terlalu rendah dimata kamu."


"Suka-suka lo deh Sat. Pusing gue sama lo," kata Sabrina sambil berlalu pergi. Bukannya luluh, ia malah bertambah kesal.

__ADS_1


Sabrina melihat meja yang ada di ruang tamu. Tidak ada laptop atau satu lembar buku pun di sana. Sabrina mencoba untuk mencari melihat sekitar ruang tamu. Ia tidak menemukan laptop dan buku-bukunya.


"Dimana laptop gue? Bukankah tadi malam gue gak sempat beresin semua peralatan gue," tanya Sabrina pada dirinya sendiri.


"Laptop sama buku-bukunya udah aku beresin. Udah aku kembalikan ke kamar kamu tadi malam," kata Satya dari belakang.


"Lo ngapain masuk kamar gue. Gak sopan banget sih."


"Aku gak berniat untuk tidak sopan Rina. Aku cuma berniat membantu kamu. Lagian, aku cuma meletakkan laptop dan buku-buku kamu aja kok. Gak lebih."


"Makasih udah mau bantu. Tapi, lo gak perlu repot-repot bantuin gue kok lain kali."


"Kenapa?"


"Gak ada. Hanya gak perlu repot-repot aja," kata Sabrina sambil berlalu melewati Satya yang sedang berdiri tak jauh dari tangga.


Sabrina membuka laptopnya. Ia kaget dengan semua tugas-tugas yang ia miliki. Tugas yang belum ia kerjakan tadi malam, ternyata sudah selesai semuanya.


"Tugas gue ... kok bisa?" tanya Sabrina sedikit bingung.


"Apa Satya yang ngerjain tugas gue? Tapikan ... dia gak satu jurusan dengan gue. Bagaimana dia bisa ngerjain tugas-tugas gue."


"Tapi ... siapa lagi yang ada di rumah ini selain Satya."


"Ah, bodo amat. Yang penting tugasnya selesai dan gue gak kena omel sama si dosen galak itu. Selamat-selamat," kata Sabrina sambil mengelus dadanya.

__ADS_1


__ADS_2