Perjodohan Dua Pewaris Tunggal

Perjodohan Dua Pewaris Tunggal
#22


__ADS_3

Sebenarnya, Satya merasa agak takut ketika mama mertuanya meninggalkan dirinya dengan Sabrina. Ia takut kalau-kalau Sabrina marah padanya. Marah karena kehadirannya malah membuat Sabrina dapat omelan dari sang mama.


"Ayo Sat," ajak Sabrina tanpa membuang waktu lagi.


"Ke-kemana?" tanya Satya gugup.


"Kemana lagi. Ya ke kamar lah. Lo gak dengar mama nyuruh gue buat antar lo istirahat di kamar?"


Tanpa sepatah katapun. Satya langsung mengikuti Sabrina yang sudah berjalan duluan. Menaiki anak tangga menuju lantai dua. Sampai didepan pintu kamar yang bercatkan warna hijau muda. Sabrina menghentikan langkahnya.


"Ini kamar gue. Lo bisa istirahat disini sekarang," kata Sabrina sambil membuka pintu kamar itu.


"Lo gak ikut masuk?" tanya Satya ketika melihat Sabrina ingin meninggalkannya.


"Gue gak capek. Lo istirahat aja duluan."


"Lo mau kemana?"


"Gue ingin lihat mama gue masak."


"Oh."

__ADS_1


"Ya udah. Lo istirahat gih didalam. Gue cabut dulu." Sabrina melangkah, ingin meninggalkan Satya.


"Sabrina."


Sontak, Sabrina langsung menghentikan langkahnya. Ia berbalik melihat Satya yang tiba-tiba saja memanggil namanya.


"Iya."


"Mmm ... gue ... gue mau bilang makasih sama lo."


"Untuk apa?"


"Udah ... gak usah lo pikirin. Semoga betah aja berada dalam keluarga gue. Bergaul dengan mama gue yang agak sedikit suka ngomel dan anaknya yang bawel kayak gue ini," ucap Sabrina sambil senyum manis.


"Ya udah ya, gue tinggal dulu. Lo istirahat aja," ucap Sabrina sambil melangkah menuruni anak tangga.


Satya melihat punggung Sabrina yang semakin lama semakin menjauh darinya. Ia baru membuka pintu kamar Sabrina setelah Sabrina tidak terlihat lagi.


Satya masuk kedalam kamar itu. Suasana alami terasa sangat menenangkan ketika mata Satya menyapu seluruh isi ruangan kamar milik Sabrina.


Mulai dari seprainya, hingga cat tembok kamar itu berwarna hijau muda. Kamar itu juga di lengkapi dengan gorden dan juga stiker yang bermotifkan tumbuh-tumbuhan hijau. Ada satu lemari pakaian dan satu lemari kaca yang isi didalam lemari kaca itu semuanya boneka beruang yang berwarna hijau. Hanya pita, bentuk, dan ukuran dari bonekanya saja yang berbeda. Kalau warnanya, satupun tidak ada warna lain selain warna hijau.

__ADS_1


Dari semua yang Satya lihat di kamar ini. Satya bisa menyimpulkan kalau Sabrina sangat suka dengan warna hijau. Pantas saja, kebanyakan baju yang Sabrina pakai selama ini warnanya hijau.


Satya tidak berani menyentuh satupun barang yang Sabrina miliki. Ia hanya memperhatikan saja barang-barang yang ada di kamar Sabrina ini.


Didalam kamar ini ada dua pintu. Yang satunya pintu kamar mandi dan yang satu lagi, Satya tidak tahu pintu apa. Pintu itu menarik perhatian Satya sehingga Satya tidak punya pilihan lain selain menghampirinya.


Satya membuka pintu itu dengan perasaan sedikit takut. Ia takut kalau-kalau Sabrina akan marah padanya jika ia melakukan kesalahan. Tapi ... rasa penasaran mengalahkan rasa takut dalam hati Satya.


Perlahan, pintu itu terbuka dan memberikan pandangan yang luar biasa buat mata Satya. Ternyata, pintu itu adalah pintu pembatas antara kamar dengan balkon. Balkon yang memberikan pemandangan yang luar biasa indahnya.


Terdapat berbagai tumbuhan bunga yang tertata rapi disini. Bunga-bunga yang di tanam dalam pot-pot kecil itu memberikan aroma wangi yang menenangkan. Bentuk bunganya juga bermacam-macam. Sangat indah dipandang mata. Sungguh suguhan yang luar biasa buat Satya.


Tidak cukup itu saja, Satya melangkah maju menginjakkan kakinya untuk melihat kebawah dari atas balkon ini. Sekali lagi, mata Satya harus merasakan sesuatu yang membuat hatinya terkagum-kagum.


Dibawah sana ada taman bunga yang sedang mekar. Walau sudah siang, mekar bunganya masih tetap terlihat sangat indah. Ada bermacam-macam bunga di taman bawah sana. Juga ada pohon kayu yang rindang sebagai pelindung dari taman bunga itu.


Satya kagum dengan orang yang telah merawat taman itu. Pasti butuh usaha yang sangat kuat dan kesabaran yang sangat tinggi untuk menciptakan taman bunga sebagus ini. Satya tidak bisa memperkirakan, seberapa lama dan seberapa sabar kah yang harus orang itu lewati.


Tiba-tiba, mata Satya terfokus pada seorang gadis yang ada di taman itu. Dia tak lain dan tak bukan adalah Sabrina.


Sabrina sedang berjalan-jalan di taman bunga dengan gaya gadis yang anggun. Ada getaran aneh didalam hati Satya ketika melihat Sabrina dengan gaya yang anggun seperti itu. Ia selalu lupa siapa Sabrina jika gadis itu berjalan dengan anggun. Satya tidak melihat sisi keras dari Sabrina lagi. Yang ada hanyalah sisi lembut dan juga anggun mempesona. Hatinya selalu memuji Sabrina tanpa sadar.

__ADS_1


__ADS_2