
Kali ini, Satya yang pulang duluan. Saat Sabrina pulang, ia sudah ada di rumah. Sudah duduk manis malahan.
"Lo udah lama lo pulangnya Sat?" tanya Sabrina saat ia melihat Satya yang duduk manis di ruang keluarga.
"Udah lumayan," kata Satya tanpa melihat kearah Sabrina. Ia sibuk dengan ponsel dan sosial medianya.
"Uh, capek," ucap Sabrina sambil menghempaskan bokongnya ke salah satu sofa panjang yang berhadapan dengan Satya.
"Naik apa lo pulangnya?" tanya Satya sambil melirik Sabrina.
"Naik ojek."
"Mobil lo masih belum bagus ya?"
"Belum. Katanya masih lama baru baikan. Masih perlu ganti beberapa alat yang harus di impor dari luar kota," ucap Sabrina.
"Mau gue beliin mobil baru?" tanya Satya tiba-tiba.
Sontak saja, Sabrina yang awalnya baring langsung bangun. Ia merasa sedikit kaget dengan apa yang Satya tanyakan.
"Apa!?"
"Gak usah kaget gitu kali, gue cuma tanya, mau gue beliin mobil baru nggak? Dari pada lo terus naik taksi atau ojek online kan mending beli mobil baru. Lagian, mobil lo yang di bengkel juga gak tahu kapan bagusnya," kata Satya juga bagun dari baringnya.
Tiba-tiba, Satya menyadari ada yang salah dengan wajah cantik Sabrina. Lirikan pertama, ia tidak menyadari kalau di wajah Sabrina terdapat bekas lebam. Saat ia melihat secara berhadapan langsung, baru Satya sadari kalau di pipi Sabrina terdapat bekas pukulan.
__ADS_1
Sontak saja, tanpa pikir panjang. Satya langsung kaget dan bangun dari duduknya.
"Wajah lo kenapa?" tanya Satya dengan cemas.
"Ini ... ini gak papa. Gue gak papa," ucap Sabrina gelagapan.
"Coba gue lihat."
"Gak usah Satya. Gue gak papa kok," ucap Sabrina menghindar dan menutupi beberapa bekas pukulan.
"Gila, lo bilang gak papa padahal wajah lo memar gini. Tunggu di sini, gue ambilin air es sama kotak obat sebentar."
"Satya gak usah. Gue gak papa kok."
Kata-kata Satya mampu membuat jantung Sabrina berdetak lebih kencang dari biasanya. Entah isyarat dari mana, hati Sabrina tiba-tiba saja sangat bahagia mendapat perhatian dari Satya.
Selama ini, jika ia pulang dari sekolah, sampai ia pulang dari kuliah. Jika pulang dengan wajah memar, maka akan dapat omelan dari mama dan papanya.
Tapi kali ini berbeda, ketika ia membawa wajah memarnya pulang, ia malah dapat perhatian dan nada khawatir dari seorang laki-laki.
Satya datang dengan tergesa-gesa. Ia membawakan semangkok air yang sudah ia isi dengan es dan kotak obat ditangannya.
Tanpa aba-aba, Satya langsung mengompres wajah Sabrina dengan air es tersebut. Sabrina membiarkan Satya melakukan apa yang Satya mau tanpa mencegahnya.
Satya mengompres memar itu dengan sangat lembut dan pelan. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati. Entah kemana hilangnya rasa takut Satya pada Sabrina saat ia melihat memar di wajah gadis itu. Rasa takutnya mungkin sudah tertutupi oleh rasa cemas. Yang entah dari mana datangnya rasa cemas itu. Satya juga tidak tahu, bahkan tidak menyadari apa yang ia lakukan.
__ADS_1
"Auugh .... " Sabrina mengeluh sakit.
"Maaf-maaf, gue udah melakukannya dengan sangat hati-hati. Lo tahan dikit ya," katanya sambil menghentikan apa yang ia lakukan.
"Gak papa. Gue masih kuat kok."
Detak jantung Sabrina mungkin sudah tidak bisa dikontrol lagi. Detak nya sungguh sangat tidak bisa Sabrina tahan. Apalagi saat ia melihat wajah Satya yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya.
Satya memang tampan. Sabrina tidak bisa menolak untuk memuji laki-laki itu sekarang. Apalagi saat Satya begitu serius mengobati memarnya. Hal itu menambah rasa kagum Sabrina pada Satya.
Galak Sabrina guna tiba-tiba sirna. Entah kemana larinya. Gadis itu seperti terhibnotis saja sekarang.
"Lo habis ngapain sih? kok bisa memar kayak gini?" tanya Satya setelah selesai mengolesi wajah Sabrina dengan salep.
"Gue ... gue terima tantangan anak kampus buat duel di ring tinju dengan anak cowok," ucap Sabrina dengan jujur.
"Apa! Gila lo ya. Masa berantem ama anak laki-laki sih."
"Gue gak suka diremehin. Makanya gue sambut tantangan mereka."
"Gila lo Sabrina. Mikir dulu dong kalo mau ngelakuin sesuatu. Jangan ngelakuin sesuatu seenak hati lo aja. Lo bisa bahaya Sabrina."
"Lo kok jadi ceramahin gue sih."
"Gue bukan mau ceramahin atau ngatur hidup lo Sabrina. Gue hanya sedikit peduli dengan diri lo. Gimana kalo lo kenapa-napa? Bukan cuma lo sendiri yang susah. Mama papa lo juga ikut susah nantinya."
__ADS_1