
"Jangan banyak omong Satya. Apa lo mau gue tambahin lagi memarnya?"
"Tambahin aja Rina. Aku gak keberatan kalo kamu mau melakukan hal itu. Jika itu membuatmu bahagia, maka lakukanlah."
Sabrina tidak menjawab. Ia hanya menatap Satya sesaat kemudian berniat untuk segera pergi meninggalkan Satya sendirian di ruang tamu. Tapi, hal itu tidak terjadi karena Satya dengan cepat menarik tangan Sabrina sehingga Sabrina hilang keseimbangan lalu terjatuh kedalam pelukan Satya.
"Augh." Sabrina menindih tubuh Satya.
Tatapan mata mereka saling bertemu. Untuk sesaat, Sabrina tidak bisa berucap sepatah katapun. Hanya jantungnya yang berdetak lebih cepat dari yang biasanya.
"Satya! Lo apa-apaan sih," ucap Sabrina berusaha bangun dan pergi dari dekapan Satya.
"Jangan berontak. Biarkan aku merasakan kehangatan saat memeluk seorang istri," ucap Satya semakin mengencangkan pelukannya.
"Kamu, kamu gila ya." Sabrina berusaha memberontak. Tapi sepertinya, ia tiba-tiba tidak punya tenaga untuk melawan Satya saat ini.
Pada dasarnya, wanita itu adalah makhluk yang lemah. Ia tidak akan kuat jika tidak dikuasai emosi. Wanita akan tunduk pada laki-laki. Itulah takdir yang Sabrina rasakan saat ini. Walaupun Satya itu tidak punya keahlian bela diri apapun, tapi tetap saja, Sabrina pasti akan luluh jika Satya menghadapinya dengan kelembutan.
"Rina, aku mungkin memang gila sekarang. Gila karena aku sudah menikah tapi tidak bisa memiliki istriku dengan sepenuhnya."
__ADS_1
"Satya! Lepaskan aku! Kamu bicara semakin gak karuan aja sekarang. Kamu sakit ya? Atau ... jangan-jangan kamu ini mabok lagi."
"Rina, aku gak mabok. Tapi, kalo sakit mungkin ia. Aku sakit karena tidak bisa mengatakan kalau aku ... suka padamu."
Kata-kata itu mampu Satya ucapkan dengan lancar. Walaupun butuh separuh nyawanya untuk mengumpulkan keberanian buat bicara kata-kata sukanya pada Sabrina.
Sabrina segera beranjak dari pelukan Satya. Ia tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan.
"Lo ... lo apa-apaan sih Satya. Gila ya?" tanya Sabrina dengan wajah yang tiba-tiba berubah dan jantung yang semakin berdetak kencang.
"Rina, aku memang bukan laki-laki yang pandai mengungkapkan perasaan. Aku juga bukan laki-laki yang romantis. Aku tidak peka akan perasaan orang lain. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, aku adalah laki-laki yang serius dengan semua yang aku katakan. Aku tidak bercanda dengan kata-kata ku."
Awalnya, Sabrina tertegun untuk sesaat. Lalu, ia tertawa melihat wajah serius yang Satya perlihatkan padanya. Ia mencoba untuk menetralisir hatinya yang begitu serba salah.
"Aku tahu kamu akan menganggap aku ini sebuah lelucon. Aku sudah siap dengan apa yang kamu pikirkan Sabrina. Bagiku, tidak penting kamu mau anggap aku apa sekarang. Tapi, aku akan buktikan kalau aku benar-benar suka dan aku memang benar-benar cinta padamu."
Wajah Sabrina mendadak serius. Kini ia tidak bisa menganggap apa yang Satya ucapkan sebagai bahan candaan lagi. Karena sejak tadi, seperti apapun ia berusaha mengubah suasana, Satya tetap saja serius dengan ucapannya.
"Jangan main-main dengan kata cinta Satya. Kamu belum tahu bagaimana rasa sakit akibat cinta. Kamu juga belum tahu apa itu cinta yang sesungguhnya."
__ADS_1
"Sabrina, aku gak pernah main-main dengan kata cinta. Meskipun aku belum pernah menyatakan cinta duluan pada perempuan, tapi kali ini, aku serius dengan cinta yang aku utarakan padamu."
"Jangan permainkan hati seseorang Satya. Kamu tidak tahu betapa sakitnya jika hatimu di permainkan."
"Rina. Sudah berapa kali aku harus katakan padamu kalau aku tidak pernah main-main dengan perasaan dan cinta yang aku miliki. Aku cinta sama kamu Rina."
"Mau kamu kemana kan Cindy?" tanya Sabrina dengan nada kesal.
"Cindy?"
"Iya. Cindy pacarmu itu mau kamu kemana kan?"
"Aku akan meluruskan kesalahpahaman ini. Asal kamu tahu, aku dan Cindy tidak ada hubungan pacaran seperti yang kamu katakan. Aku dan Cindy hanya sebatas teman saja. Tidak lebih."
"Kenapa harus bohong Satya?"
"Bohong apanya?" tanya Satya tak mengerti.
"Jika kalian hanya sebatas teman, kenapa Cindy ngakunya kalian pacaran. Dan kenapa Cindy juga bisa bawa mobil kamu," ucap Sabrina dengan nada kesal yang tanpa Sabrina sadari, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.
__ADS_1