
Untuk sesaat, setelah mobil Satya yang Cindy bawa melaju kencang meninggalkan jalan raya. Sabrina masih mematung di sana. Ia melihat mobil itu semakin jauh dan jauh. Hatinya merasa ada yang berbeda. Ada yang terasa perih tiba-tiba menggores hati Sabrina.
"Neng, apa mau tetap disini atau naik taksi saya lagi," tanya sopir itu.
Sabrina memutar tubuhnya dengan sangat malas. Ia masuk kembali kedalam taksi dengan tatapan kosong yang masih sama. Sabrina merasa, ada yang hilang dari hatinya saat ini. Entah apa, tapi rasa itu pasti dan sangat menyiksa.
"Kemana neng?" tanya sopir itu berusaha memecahkan keheningan.
"Jalan Nanas pak."
"Wuah, bapak kira tujuannya sama dengan yang pertama. Tapi ternyata, sekarang sudah berubah toh neng. Untung bapak bertanya dulu ya," kata sopir itu dengan ramah.
Sabrina hanya diam. Candaan dari pak sopir taksi itu tidak ia hiraukan. Karena, hatinya sangat tidak enak saat ini. Kata demi kata yang Cindy ucapkan masih saja terus berputar-putar dalam benaknya. Entah mengapa, sangat sulit untuk Sabrina lupakan.
"Neng, tadi itu neng sangat hebat. Luar biasa mantapnya neng. Neng mampu melawan tiga preman sekaligus. Mantap banget deh. Jaman sekarang, memang seharusnya perempuan tahu bela diri neng. Biar bisa jaga diri dari kaum laki-laki yang suka menganggu," kata sopir itu panjang lebar.
"Saya hanya bisa sedikit saja pak. Tidak bisa dikatakan hebat," jawab Sabrina dengan nada malas dan lemah.
"Neng kenapa neng? Apa ada yang sakit?"
"Gak ada kok pak. Saya hanya lelah saja," kata Sabrina semakin malas.
Sopir itu mengerti dengan apa yang Sabrina katakan. Ia menghentikan celotehannya. Ia membiarkan Sabrina menikmati pemandangan sore yang semakin beranjak menuju ke malam.
__ADS_1
Sabrina sampai ke rumah orang tuanya saat lampu-lampu sudah menyala. Hari sudah mulai gelap sekarang. Ia baru sampai ke halaman rumah orang tuanya. Ia mengeluarkan selembaran seratus ribu untuk membayar sopir taksi itu.
"Kembaliannya ambil aja pak."
"Makasih banyak neng. Kalau ada masalah, jangan disimpan sendiri neng. Nanti bisa jadi penyakit," kata sopir itu sebelum ia berangkat meninggalkan rumah orang tua Sabrina.
Sabrina hanya membalas perkataan sopir itu dengan senyum manis saja. Senyum manis yang tentunya ia paksakan biar terukir indah di bibirnya.
"Rina. Kamu datang sama siapa?" tanya mama saat melihat anaknya yang ada di depan pintu.
"Sendirian ma."
"Kok sendiri sih? Dimana Satya?"
"Kenapa kalo sendiri ma? Apa gak boleh?" tanya Sabrina dengan wajah kesal.
"Ma, Satya itu punya kesibukannya sendiri. Gak bisa selalu ikut Rina datang ke rumah mama."
"Iya juga ya. Ya udah, kamu mandi sana gih. Mama yakin kalo kamu pasti datang kesini belum mandi deh."
"Emang."
"Pantesan bau asem banget."
__ADS_1
"Biarin deh."
"Mandi sana. Bau banget," ucap mama sambil menutup hidung.
"Alah ... mana ada Rina bau ma. Rina itu selalu wangi tau gak."
"Wangi dengkul mu. Kamu itu bau asem banget. Wangi dari mananya. Cepat mandi sekarang, keburu maghrib nanti."
"Bukan nanti mama. Tapi sekarang udah maghrib kok."
"Ah, gak peduli deh nanti kek sekarang kek, yang penting kamu mandi sekarang."
"Iya deh iya. Mama bawel deh."
"Eh, anak durhaka. Bilang mamanya bawel."
"Iya maaf. Ya udah, Rina mandi sekarang," ucap Rina sambil bangun dari duduknya di atas sofa.
"Oh ya ma. Papa mana ya?" tanya Rina sebelum naik keatas menuju kamarnya.
"Papa kamu di kamar."
"Oh," ucap Sabrina sambil terus melanjutkan langkah kakinya menuju lantai atas.
__ADS_1
Berada di rumah mama, lalu ngobrol dengan mama, mampu membuat hatinya yang kosong terasa hangat kembali. Sejak, ia bisa melupakan apa yang telah terjadi barusan.
Tapi, sayangnya, kekosongan dan rasa perih itu tiba-tiba kembali hadir saat ia sendirian di kamar. Terkahir, ia berada dikamar ini bersama Satya. Ia tidur satu ranjang dengan Satya malam itu. Semuanya masih terasa baru saja terjadi.