Perjodohan Dua Pewaris Tunggal

Perjodohan Dua Pewaris Tunggal
#12


__ADS_3

"Siapa bilang mama papa lo yang tangung uang jajan sama uang kuliahan lo?" tanya Satya tak terima.


"Ya eman masih mama papa gue yang tangung. Gak mungkin papa lo kan yang tangung uang kuliahan gue."


"Asal lo tahu ya Sabrina Aminarti, sejak akad nikah kemarin, semuanya bukan orang tua lo lagi yang tangung. Dari ujung kaki lo sampai ujung rambut lo itu, semuanya gue yang tangung sekarang."


"Ha ha ha ... lo yang benar aja Satya Adinata. Yang bener aja kalo ngomong. Masa iya lo yang tangung semua kebutuhan gue. Yang ada, lo aja di tangung sama papa lo. Sok-sokan mau tangung kebutuhan gue lagi. Bikin malu aja lo tahu gak," kata Sabrina sambil bangun dari baringnya lalu melempar bantal sofa pada Satya.


Satya hanya menatap Sabrina saja. Ia tidak ingin bicara panjang lebar lagi. Bagi Satya, tidak ada gunanya juga menjelaskan apa-apa pada Sabrina. Gadis keras kepala itu hanya bisa mencibir dan mengejeknya saja. Tapi tidak tahu apa yang bisa ia lakukan.


'Suatu saat nanti, lo akan tahu siapa gue Sabrina,' kata Satya dalam hati.


Perkataan Satya mampu menganggu pikiran Sabrina. Di kamarnya, Sabrina sibuk memikirkan kata-kata yang Satya ucapkan. Timbul rasa penasaran dalam hatinya. Ia ingin memastikan apa yang Satya ucapkan itu adalah salah besar.


Sabrina memilih menghubungi sang mama untuk menjawab rasa penasaran dalam hatinya.


"Ma .... "


"Iya nak," jawab mama di seberang sana. Setelah menanyakan kabar sang mama, Sabrina tidak ingin berbasa-basi lagi. Ia langsung saja pada apa yang ingin ia ketahui.

__ADS_1


"Ma, boleh Rina tanya sesuatu sama mama? Rina harap, mama jawab dengan jujur ya ma, apa yang Rina tanyakan," kata Sabrina dengan sangat lemah lembut.


"Apa sih yang ingin kamu tanyakan Sabrina. Tanyakan saja, insyaallah, akan mama jawab dengan sangat amat jujur nak. Tidak akan mama tutupi sedikit pun dari kamu."


"Rina ingin tanya, setelah Rina menikah dengan Satya, siapa yang membiayai kuliah Sabrina ma?"


Mama terdiam sesaat. Ia tidak langsung menjawab pertanyaan Sabrina barusan. Entah apa yang mama pikirkan setelah mendengarkan pertanyaan Sabrina ini.


"Ma." Sabrina memanggil mamanya untuk memastikan kalau sang mama masih ada di seberang sana.


"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan hal itu Rina?"


"Rina hanya ingin tahu ma. Biar tidak ada rasa penasaran lagi dalam hati ini."


"Apa! Jadi Satya tidak bohong sama aku kalau dia yang tangung semua kebutuhan aku," kata Sabrina seakan tak percaya dengan apa yang dia dengar dari sang mama.


"Apa Satya ada ngomong soal tanggungjawabnya Rina?"


"Bukan Satya yang ngomong langsung ma. Tapi Rina yang ingin tahu," ucap Sabrina agak berbohong.

__ADS_1


"Oh, bagus deh kalo bukan Satya nya yang ngomong langsung."


"Bagus? Bagus apanya ma?"


"Ya bagus aja. Masa baru nikah beberapa hari udah ngitungin soal tanggungjawabnya, kan gak enak mama dengarnya."


Sabrina mengelus dadanya pelan. Dalam hatinya, ia merasa sedikit lega karena tidak salah ngomong sama mamanya. Dia memang tidak suka dengan Satya. Juga tidak setuju dengan pernikahan ini. Hanya saja, Sabrina tidak ingin membuat hati sang mama kecewa. Bagaimanapun, mama adalah orang nomor satu dalam hidupnya. Kebahagian mama adalah kebahagiaannya. Kecewa mama, adalah kecewa hatinya.


"Tapi ma, masalahnya bukan itu sekarang."


"Lalu?" tanya mama tak mengerti.


"Yang tidak enak itu kita ma, Sabrina."


"Lho, kok kita sih yang gak enak Rina?"


"Ya gak enaklah ma. Kenapa harus Satya yang tangung biaya hidup Rina?"


"Ya karena kamu itu adalah istrinya Satya sayang. Sudah sepantasnya semua kebutuhan kamu suami kamu yang tangung."

__ADS_1


"Iya kalo itu uangnya Satya gak papa."


"Maksud kamu?"


__ADS_2