Perjodohan Dua Pewaris Tunggal

Perjodohan Dua Pewaris Tunggal
#35


__ADS_3

Mendengarkan perkataan Sean barusan, Cindy langsung meninggalkan Sean. Ia ingin mencari sendiri dimana Satya berada sekarang. Ia bertanya pada semua orang yang ia temui di kampus.


"Kalian ada lihat Satya gak?"


"Gak."


"Ada lihat Satya gak?"


"Gak."


Sampai pada akhirnya, Cindy bertemu dengan Sabrina dan Siska yang sedang melewati lorong kampus sambil ngobrol riang.


"Kalian ada lihat Satya gak?" tanya Cindy pada Siska dan dan Sabrina. Cindy masih belum sadar siapa orang yang ia tanyai keberadaan Satya saat ini.


Siska langsung melihat wajah Sabrina. Wajah itu sedikit berubah ketika mendapat pertanyaan dari Cindy.


"Gak. Ngapain lo nyari Satya. Orang terdekatnya aja gak nyariin Satya. Kenapa lo yang harus nyari dia?" tanya Siska dengan nada kesal.


"Gue ini pacarnya Satya. Ya wajar dong kalo gue nyari pacar gue," kata Cindy dengan nada kesal.


"Pacar?" tanya Siska semakin bernada kesal sekarang.


"Siska, udah ya. Ayo kita ke kantin. Lo bilang lo sangat lapar tadinya. Ayo!" kata Sabrina tidak ingin Siska bicara terlalu banyak dengan Cindy.


"Tapi Rina .... "


"Udah. Gak usah banyak bicara. Kita butuh makan secepatnya," kata Sabrina lagi.


"Elo ... elo cewek yang waktu itukan?" tanya Cindy baru menyadari wajah Sabrina.

__ADS_1


"Iya."


"Ternyata kita satu kampus ya. Pantesan lo kenal dengan mobil pacar gue," kata Cindy tanpa ada rasa malu sedikitpun.


"Rina .... "


"Udah ya, kita harus pergi sekarang. Maaf gak bisa lama-lama. Ayo Siska!" kata Sabrina dengan cepat menarik tangan Siska untuk pergi dari Cindy secepatnya.


____


"Rina. Apa itu alasan yang membuat lo ingin mengakhiri pernikahan lo dengan Satya?" tanya Siska ketika mereka sedang duduk di taman.


"Tidak juga. Gue hanya merasa, gue dan Satya itu tidak cocok. Kita jauh berbeda Siska."


"Perbedaan bukan alasan untuk tidak bersama Sabrina sayang. Malahan, perbedaan adalah salah satu poin untuk semakin memperkuat dua orang bersatu."


"Apa yang lo bingung kan. Kasih tahu gue Rin."


"Banyak."


"Salah satunya."


"Hmmm ... bisa gak bahas soal ini lagi gak Siska? Gue lagi bad mood banget sekarang," kata Sabrina malah mengalih pembicaraan.


"Ya udah deh, terserah lo aja. Tapi satu hal yang harus lo ingat. Lo harus pertahankan jika hati lo ingin tetap bertahan. Jangan pernah buat diri lo nyesal dengan keputusan yang lo ambil dikemudian hari nanti."


"Iya, gue tahu."


'Kayaknya, gue memang harus benar-benar bantu Sabrina sekarang. Meskipun ini adalah masalah pribadi Sabrina, tapi gue tetap tidak bisa tinggal diam. Sabrina adalah sahabat gue, gue tahu siapa dia,' kata Siska dalam hatinya sambil melihat wajah Sabrina dengan tatapan lekat.

__ADS_1


Sementara itu, di salah satu restoran, Satya duduk di kursi dalam ruangannya. Pikirannya masih saja tidak menentu. Ia masih merasa kehilangan semangat dalam hidupnya.


"Apa itu alasan lo gak ingin datang ke rumah orang tua gue Rina? Kenapa lo tega banget sama gue," kata Satya bicara pada dirinya sendiri. Tanpa ia sadari, sejak tadi karyawannya sedang berdiri di depan pintu masuk.


"Alasan apa mas Satya?" tanya karyawan itu dengan nada bingung.


"Ririn! Sejak kapan kamu ada di situ?" tanya Satya kaget.


"Sejak lima menit yang lalu mas."


"Kenapa kamu gak panggil saya? Kenapa malah bengong di sana selama lima menit?"


"Maaf mas Satya. Saya sudah panggilkan mas Satya. Tapi mas Satya tidak menanggapi apa saya sama sekali."


"Lalu, kenapa kamu datang ke ruangan saya?"


"Saya ... saya hanya mau bilang, mas Satya mau makan apa? Biar saya masakan buat mas Satya."


"Saya gak lagi pengen makan apa-apa. Saya hanya ingin sendiri sekarang. Kalau tidak ada yang ingin kamu bicarakan lagi, kamu boleh pergi dari ruangan saya," kata Satya dengan nada kesal.


"Iy-iya mas. Kalau gitu saya pamit dulu. Permisi," kata Ririn sambil berjalan menjauh.


Satya memutuskan untuk tidak pulang ke rumah malam ini. Ia masih belum siap berhadapan dengan Sabrina jika pulang nanti. Satya memilih tidur di restoran saja sementara waktu.


Untungnya, ruangan yang ia miliki dilengkapi dengan fasilitas untuk istirahat dan kamar mandi. Semuanya sudah lengkap, layaknya kamar tidur seperti biasa.


Ruangan khusus miliknya tidak akan di buka kalau bukan atas izinnya. Lagian, tidak ada juga yang berani membuka ruangan itu selain Satya sendiri. Jangankan karyawannya, manajernya saja tidak berani sembarangan dengan Satya.


Satya terkenal sebagai bos yang dingin jika berada di restoran. Makanya, tidak ada karyawati yang berani menegur Satya selain karyawati yang bernama Ririn itu.

__ADS_1


__ADS_2