
"Dasar pendatang tidak tahu diri sudah baik warga desa di sini mau menerima kalian"teriak salah satu dari mereka.
Ming Yue yang kesabaran nya setipis tibu mengambil kerikil kecil melempari mereka tepat di kepala mereka hingga benjol.
"Aaa"
"Sakit"
"Sekalian kepala kalian aku pecah kan jika masih berani membuat keributan di kediaman Nyonya Wei"kata Ming Yue kesal.
"Keluarga sialan"teriak mereka berlari kencang sambil memegangi kening dan kepala mereka yang benjol akibat lemparan Ming Yue.
"Cih menyusahkan saja"dengus Ming Yue.
"Haha kakak ipar kepala mereka benjol begitu"kata Mo Tian tertawa terbahak-bahak melihat warga yang lari kencang dengan kepala benjol begitu juga yang lain.
"Kakak ipar hebat"kata mereka kompak.
"Ming Yue apa tidak akan masalah.."Tanya Nyonya Wei.
"Ibu tenang saja jika mereka kembali datang membuat ribut bukan benjol lagi kepala mereka tapi botak"
"Haha pasti lucu jika mereka semua botak berlari begutu"sambung Ming Yue tertawa terbahak-bahak membayangkan nya begitu juga si kembar dan Nyonya Wei.
Yuan Zi yang mendengar perkataan istri nya pun terkekeh pelan,ia bersyukur istri nya mampu mengatasi warga itu.
.....
Saat ini warga desa yang menjadi korban lemparan kerikil oleh Ming Yue sedang berada di halaman rumah Nyonya Wu yang cukup luas karna ia salah satu orang kaya di desa itu maka dari itu ia sangat tidak menyukai jika ada yang lebih kaya dari kelurga nya terutama pendatang.
"Cih pendatang seperti itu berani melawan kita yang warga asli sini"dengus Nyonya Wu.
"Benar mereka bahkan tidak menghargai kita bahkan melukai kita seperti ini"ujar Nyonya Ling.
"Sebaik nya kalian semua jangan mau berurusan dengan mereka dan menjauh dari warga penadatang baru itu jangan lupa kita kucil kan mereka semua yang berani seperti itu pada kita yang warga asli"kata Nyonya Wu.
Mereka semua membicarakan keluarga Nyonya Wei bahkan Nyonya Wu dan Nyonya Linh menambah cerita menjelek-jelek kan keluarga Nyonya Wei terutama Ming Yue yang melemparkan kerikir pada mereka.
Jadilah gosip buruk keluarga Nyonya Wei menyebar di desa tersebut dan membenci mereka. Kalau pun Ming Yue tahu dia tentu saja tidak akan peduli dengan gosip murahan seperti itu.
__ADS_1
Di kediaman Nyonya Wei mereka mempersiapkan makan siang dengan banyak daging babi,Nyonya Wei memasak daging babi kecap dan goreng sedangkan Ming Yue membuat sate babi babi bakar yang sekarang sedang memanggang di halaman belakang di temani si kembar.
"Wangi sekali kakak ipar"kata Mu Zian.
"Seperti nya sangat lezat"sambung Mo Tian di angguki Mei Nuan yang juga menatap ngiler ke panggangan yang di buat Ming Yue.
"Tentu saja enak urusan sate seperti ini aku ahli nya"kata Ming Yue dengan senyum bangga.
"Ini sudah matang coba lah"kata Ming Yue memberikan sate tusuk itu pada si kembar satu persatu begitu juga dengan nya.
"Hmm,,ini sangat lezat kakak ipar"kata Mei Nuan di angguki Mo Tian dan Mu Zian.
Ming Yue tersenyum puas adik ipar nya menyukai sate yang ia buat,tak terasa mereka telah memakan cukup banyak sambil bercanda dan tertawa.
"Aiyaa,,kalian ini sudah makan begitu banyak"kata Nyonya Wei terkekeh pelan.
"Hehe enak sekali bu"
"Ibu cobalah".Ming Yue memberikan satu tusuk pada Nyonya Wei.
"Ini enak"kata Nyonya Wei memakan nya hingga habis.
"Kalian sudah selesai bukan angkat dan pindahkan ke wadah kita makan siang ibu juga sudah selesai memasak". Kata Nyonya Wei sambil memberikan wadah pada Ming Yue kemudian masuk ke dapur.
"Mari makan"kata Nyonya Wei.
"Mari makan"sahut Ming Yue dan si kembar dengan semangat,mereka semua pada doyan makan terutama Ming Yue si tukang makan baik di dunia dulu mau pun sekarang.
"Suami ku cobalah aku yang membuat nya"kata Ming Yue memberikan sate pada Yuan Zi.
Yuan Zi mengangguk dan memakan nya.
"Bagaimana"
"Enak"
"Tentu saja ke ahlian ku membakar tidak memasak"kata Ming Yue membuat mereka tertawa.
Selesai menikmati makan siang mereka yang penuh daging hingga membuat perut mereka membuncit bahkan si kembar mengelus perut mereka.
__ADS_1
"Haha kalian lucu sekali"kata Ming Yue tertawa melihat tingkah si kembar.
"Makanan nya enak kakak ipar jadi kami makan banyak"kata Mu Zian.
"Bagus lah kalau suka dan makan banyak aku akan berburu ke hutan agar persediaan daging kita tidak pernah habis". Ming Yue mengatakan itu dengan santai karna menurut nya jika suami nya makan banyak daging setiap hari akan cepat memulihkan nya begitu juga adik kembar nya yang membutuhkan untuk tumbuh kembang mereka.
"Terimakasih kakak ipar"kata si kembar kompak di angguki Ming Yue.
"Aku ke hutan dulu" kata Ming Yue.
"Hati-hati"kata Nyonya Wei.
"Baik bu"
Ming Yue mengambil parang segera naik ke gunung untuk mengambil pohon pinus yang telah ia kumpulkan, Ming Yue mengangkat lima pohon sekali gus yang telah di ikat membawa nya turun, saat ia tiba di kaki gunung mata nya menatap sekumpulan seperti nya sedang berkelahi lebih tepat nya ada anak yang di keroyok.
"Heyy hentikan"teriak Ming Yue pada mereka membuat mereka berhenti.
Semua anak-anak itu berlari meninggalkan anak yang mereka keroyok sedang menahan sakit di tanah.
"Kamu baik-baik saja"tanya Ming Yue.
Anak itu mengangguk dan berkata pelan"Terimakasih kakak".
"Kenapa kamu bisa di keroyok begitu"tanya Ming Yue membantu anak itu berdiri.
"Mereka ingin mengambil uang milik ku"jawab anak itu meringis.
Ming Yue menatap anak di depan nya,baju yang ia pakai kotor dan penuh tambalan.
"Ayo ikut ke rumah ku dulu obati luka mu"kata Ming Yue segera mengangkat kembali batang-batang pohon pinus tersebut dan membawa nya pulang meninggalkan anak yang ia tolong masih melongo dan terkejut.
"I-itu kuat sekali"gumam nya pelan.
"Hey bocah kamu mau ikut atau tidak"tanya Ming Yue sedikit berteriak.
Anak itu mengangguk pelan berjalan mengikuti Ming Yue dari belakang.
"Siapa nama mu"tanya Ming Yue.
__ADS_1
"Shu Fan kakak"jawab anak yang bernama Shu Fan tersebut.
Ming Yue mengangguk berarti anak ini juga warga pendatang pikir nya. Jika warga asli mereka semua akan bermarga Xu.