Permaisuri Tangguh Pangeran Cacat

Permaisuri Tangguh Pangeran Cacat
Bab 38


__ADS_3

Di dalam rumah Yuan Zi meminta bantuan pada paman Qing untuk membangun rumah mereka dengan senang hati Paman Qing menyanggupi nya.


"Baik,,tapi saya mungkin membutuhkan dua atau tiga hari untuk menghubungi teman-teman saya tuan muda karna mereka juga di desa yang berbeda"kata paman Qing.


"Tidak masalah paman"Yuan Zi karna memang ia tahu letak desa satu sama lain lumayan jauh.


"Saya permisi duluan muda mumpung masih siang agar saya lebih cepat menghubungi mereka"pamit paman Qing.


"Ya,,silahkan paman".


Paman Qing segera meninggalkan kediaman Nyonya Wei setelah berpamitan pada Du Xiang yang tak lain adalah tetangga mereka dulu namun ia pindah ke desa sebelah,Paman Qing pulang dengan senyum merekah bagaimana tidak Yuan Zi akan memberikan mereka upah lebih tinggi dari biasa nya selain dari makan.


Yuan Zi sendiri berani menaik kan upah mereka atas izin dari Ming Yue yang tentu saja di izinkan Ming Yue,,Ia memiliki banyak uang jadi untuk apa ia pelit anggap saja membantu mereka kata nya.


"Bagaimana"tanya Ming Yue masuk ke dalam rumah.


"Sudah selesai,,mungkin dalam dua atau tiga hari mereka akan datang mulai bekerja"jawab Yuan Zi tersenyum tipis.


"Dimana ibu"tanya Ming Yue melihat istri nya masuk.


"Mereka ke kaki gunung mengambil tambahan kayu bakar"jawab Ming Yue.


Yuan Zi menatap Ming Yue yang berjalan ke dapur dan keluar mengambil golok dan pisau di tangan nya.


"Mau kemana?".


"Ke bawah pohon aku membuat panah untuk mereka latihan".


"Aku akan membantu mu".


"Suami ku juga bisa membuat panah?".


"Bisa".


"Okay".


Kedua nya segera ke bawah pohon Ming Yue memotong batang pohon pinus yang memang masih ada,jadilah kedua nya sibuk membuat panah dan anak panah untuk mereka latihan nanti.


"Kamu sering membuat panah begini"tanya Yuan Zi menatap istri nya yang terlihat lihai membuat panah.


"Tidak juga sih hanya beberapa kali"jawab Ming Yue.


"Suami ku sendiri bagaimana,,bukan kah biasa nya seorang pangeran hanya tinggal meminta saja pasti akan datang"ejek Ming Yue.

__ADS_1


"Kamu mengejek ku?".


"Tidak tuh,,kalau merasa ya anggap saja begitu".


"Aku belajar dengan paman yang mengajari ku beladiri,,aku bahkan pernah tinggal di hutan selama seminggu sendirian untuk berlatih bertahan hidup."


"Itu bagus memang berguna untuk kita".


Ming Yue mengangguk karna ia pun sering melakukan nya jika musuh yang ia intai markas nya di tengah hutan maka dari itu jika pun tinggal di hutan ia santai saja karna ia tahu bagaimana cara bertahan hidup.


"Halo keponakan"suara dari pintu pagar menghentikan pembicaraan mereka.


"Oh kepala desa"Ming Yue segera berdiri membuka pintu pagar.


"Silahkan masuk"kata nya ramah.


"Terimakasih keponakan". Kepala Desa berjalan ke arah Yuan Zi.


"Ada apa kepala desa"tanya Yuan Zi setelah kepala Desa duduk.


"Begini apa kalian jadi membeli ladang itu"kata kepala desa.


"Memang berapa harga yang mereka minta".


"Bagaimana"tanya Yuan Zi menatap istri nya karna semua itu uang milik istri nya dan itu hak istri nya juga.


"Kita ambil saja"jawab Ming Yue.


"Kami ambil ladang itu tapi rahasiakan dulu pada warga jika surat tanahnya sudah selesai di urus terserah kepala desa saja"kata Yuan Zi.


"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu untuk mengatakan nya".


Kepala Desa segera pergi untuk mengurus semua nya setelah di angguki kedua nya.


"Apa tidak akan ketahuan jika membeli tanah dan ladang"tanya Ming Yue menatap suami nya.


"Aku rasa tidak akan karna untuk urusan tanah pihak istana tidak ikut campur"jawab Yuan Zi di angguki Ming Yue.


Memang pihak istana tidak ikut campur yang penting pajak tahunan selalu datang tepat waktu sesuai dengan berapa yang di tetapkan oleh Kaisar.


"Lui tidak ada di rumah nya"tanya Yuan Zi mematap ke atas.


"Dia sedang mencari makan sendiri di hutan"jawab Ming Yue.

__ADS_1


Mereka kembali mengerjakan membuat panah dengan dua panah dan sepuluh anak panah lebih dulu.


"Aiss jika ada besi pasti ini akan lebih tajam dan bagus"kata Ming Yue.


"Besi di sini sangat langka dan tidak di jual bebas".


Itu bertujuan agar orang-orang tidak akan memiliki seperti pedang dan tombak untuk membuat pasukan yang bisa saja menyerang ke istana maka dari itu besi langka dan tidak di jual bebas.


"Lalu bagaimana kita akan membuat pedang sebagai senjata jika begitu?".


"Mungkin ada beberapa tapi tidak akan banyak kita bisa bertanya pada paman Qing nanti mungkin ia akan tahu".


"Baik".


"Kami pulang"suara si kembar membawa kayu bakar tidak banyak terlihat dari pagar yang masuk ke halaman rumah di ikuti yang lain juga membawa kayu bakar di tangan mereka.


"Ayo taruh ke belakang dulu"kata Nyonya Wei pada mereka.


Mereka semua segera ke belakang menaruh kayu bakar dan kemudian si kembar dan Du Xiang serta Shu Fan ikut duduk bergabung dengan Ming Yue.


"Wahh kakak dan kakak ipar membuat panah"kata Mei Nuan menatap panah itu dengan mata berbinar.


"Ya tapi ini untuk latihan dulu nanti jika ada besi kita bisa menambah nya agar lebih tajam"ujar Ming Yue.


"Kapan kita akan latihan kakak ipar"tanya Mu Zian tak kalah antusias.


"Selesaikan dulu latihan awal kalian,panah ini juga baru dua di buat mungkin besok baru di buat lagi"jawab Ming Yue.


"Kalian berdua juga juga pagi-pagi sekali datang lah latihan bersama si kembar"kata Yuan Zi pada Du Xiang dan Shu Fan.


"Baik kakak ipar"kedua nya menjawab kompak.


Nyonya Wei dan ibu Du sibuk di dapur memasak makan siang untuk mereka semua.


"Bagaimana keadaan mu"tanya Ming Yue menatap Shu Fan.


"Sudah lebih baik kakak"jawab Shu Fan.


Selama ia sakit si kembar selalu mengantarkan makanan untuk mereka setiap hari,makanan itu setiap hari nya daging dan nasi putih yang hanya orang-orang yang memiliki uang yang setiap hari memakan nya karna jika orang biasa mereka tidak akan sanggup membeli nya.


"Baguslah".


"Oh iya kakak apa kakak membutuhkan tambahan pekerja nenek ku mengatakan ingin bekerja dengan kakak"kata Shu Fan.

__ADS_1


"Nanti aku tanyakan dulu pada ibu pekerjaan apa yang cocok untuk nenek mu"kata Ming Yue di angguki Shu Fan.


__ADS_2