
Tiba di rumah Ming Yue segera menaruh katu bakar itu di halaman belakang dimana biasa nya mereka menaruh kayu bakar.
"Kamu sudah pulang"tanya Yuan Zi di angguki Ming Yu.
"Ibu ke dapur dulu menaruh ini sekalian memasak"kata Nyonya Wei pada menantu dan putra nya.
"Iya bu".Kedua nya menjawab bersamaan.
"Kenapa menunggu di luar"tanya Ming Yue.
"Aku sedikit bosan di rumah"jawab Yuan Zi.
"Seperti nya enak membuat kursi di sini"kata Ming Yu menunjuk di bawah pohon yang lumayan besar dan daun nya juga lebat jadi tertutup sinar matahari.
Yuan Zi mengangguk setuju dengan perkatataan istri nya itu.
"Nanti aku akan mengambil bambu di gunung untuk menbuat nya setelah kepala desa pulang".
"Bawa juga Mo Tian dan Mu Zian agar ada yang menemani mu".
"Baik".
"Suami ku"panggil Ming Yue membuat Yuan Zi menoleh.
"Kenapa".
"Hanya memanggil". Ming Yue cengengesan tak jelas.
.....
Kepala Desa memberikan uang 1 tael perak yang di berikan oleh Ming Yue pada istri nya.
"Uang dari mana sebanyak ini"tanya istri kepala Desa Nyonya Ji.
"Dari Ming Yue warga pendatang itu"jawab kepala Desa mengambil surat tanda jadi pembayaran tanah.
"Mereka membeli tanah sekitar rumah mereka semua nya jadi dan itu dia berikan tips untuk ku"jelas kepala desa.
"Tanah sekeliling rumah bukan itu luas mereka membeli semua"kata Nyonya Ji terkejut.
"Ya,,setelah makan siang nanti aku akan mengukur nya dan pergi ke kota untuk mengurus surat-surat nya".
"Seperti nya mereka memiliki banyak uang hingga membeli tanah itu semua".
"Mungkin".
"Kamu sudah tanya pada warga dan ketua klan"tanya Nyonya Ji.
"Mereka juga akan setuju kapan lagi ada yang mau membeli tanah luas di sini,Mereka juga kan nanti akan kebagian hasil penjualan tanah itu"jawab kepala desa.
__ADS_1
Nyonya Ji mengangguk mengerti karna memang setiap orang yang membeli tanah maka uang dari pembelian tanah akan di bagi rata pada warga desa.
Siang hari nya kepala desa datang membawa surat tanda jadi pembelian pada Yuan Zi juga segera mengukur tanah tersebut yang ada sekitar yang jumlah keseluruhan 6,5 Mu tanah.
"Siang ini saya akan mengurus surat-surat tanah ke kota mungkin besok baru akan selesai"kata Kepala Desa.
"Terimakasih kepala desa"kata Yuan Zi.
"Sama-sama,,kalau begitu saya pergi dulu"pamit kepala desa.
"Ya,,silahkan".
Yuan Zi menatap tanah yang akan mereka beli luas nya memang lumayan,ia menghela nafas panjang menatap kaki nya yang tidak bisa di gerak kan sama sekali,untuk menghidupi mereka juga harus istri nya yang bekerja.
"Kenapa"tanya Ming Yue menatap suami nya yang terdiam menunduk.
"Aku hanya merasa menjadi beban untuk mu"jawab Yuan Zi.
"Hey siapa yang mengatakan itu".
"Kamu suami ku mana mungkin jadi beban untuk ku".
"Terimakasih". Yuan Zi menggenggam erat tangan istri nya yang sekarang menjadi kekuatan untuk nya dan keluarga nya.
"Sama-sama".
"Hmm,,baru saja kata nya dia akan mengurus surat tanah itu sekarang mungkin besok sudah selesai.".
"Kakak ipar kita jadi ke gunung"tanya Mo Tian.
"Jadi kalian sudah siap"tanya Ming Yue.
"Ya kakak ipar"jawab Mo Tian dan Mu Zian.
Ming Yue mengangguk melihat keranjang dan golok sudah mereka ambil juga untuk nya.
"Kami pergi dulu agar pulang tidak terlalu sore"kata Ming Yue pada Yuan Zi.
"Kalian berhati-hati".
"Okay".
Mereka bertiga berjalan menuju ke gunung dengan santai sambil menikmati kue karing yang di bawa oleh Mo Tian.
"Kakak ipar jadi kapan kita akan belajar bela diri"tanya Mo Tian karna mereka belum jadi belajar ada saja halangan nya.
"Tunggu kondisi Shu Fan membaik agar sekaligus aku mengajari kalian"jawab Ming Yue.
"Mungkin tiga hari lagi dia sudah datang ke rumah kakak ipar,kondisi nya sudah lumayan baik hanya luka-luka nya masih terasa sakit"jelas Mu Zian karna mereka tadi ke sana.
__ADS_1
Ming Yue mengangguk mengerti,ia menatap bambu di depan nya"Kalian ke pinggir lah sedikit aku akan menebang mambu ini dulu".
"Untuk apa kakak ipar?".
"Nanti juga kalian akan tahu".
Mo Tian dan Mu Zian mengangguk segera menjauh sedikit. Ming Yue segera mengeluarkan parang nya menebas bambu-bambu di depan nya dengan mudah tidak butuh waktu lama bagi nya menebang bambu itu sudah banyak yang roboh.
"Kakak ipar sungguh hebat hanya sekali tebas bambu itu langsung terpotong"bisik Mu Zian yang melongo.
"Ya tapi kakak ipar sungguh luar biasa"kata Mo Tian menatap kakak ipar nya dengan mata kagum dan berbinar.
"Ayo kita berburu seperti nya daging di rumah sudah menipis"kata Ming Yue setelah ia mengingat semua bambu itu dengan sulur pohon.
"Baik"kedua nya kompak dengan semangat mengikuti Ming Yue dari belakang yang berjalan lebih dulu.
Mereka berdua baru pertama kalinya di ajak berburu bagaimana mereka tidak semangat.Ming Yue mengambil batu kerikil di tangan nya.
"Untuk apa batu itu kakak"tanya Mu Zian.
"Melempari buruan"jawab Ming Yue santai.
"Hahh,,bukan nya kalau di lempar akan lari?".
"Kalian lihat saja nanti".
Memasuki hutan lebih dalam mereka menemukan kelinci dan ayam pegar semua di lempari oleh Ming Yue tepat mengenai kepala hewan-hewan tersebut langsung jatuh di tanah.
"Kalian ambil lah mereka ikat kaki nya dengan sulir pohon"kata Ming Yue.
Mo Tian dan Mu Zian tidak menjawab mereka masih terkejut dengan apa yang di lakukan kakak ipar mereka yang hebat itu hanya sekali lempar batu kecil itu hewan-hewan sudah tergeletak di tanah.
"Kenapa kalian malah diam"tanya Ming Yie menoleh ke belakang melihat kedua adik ipar nya.
"Kakak ipar hebat"seru kedua nya kompak.
"Aiyaa,,itu bukan apa".Ming Yie menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"Kakak ipar kita berburu apa lagi"tanya Mo Tian mengambil kelinci dan ayam pegar itu juga Mu Zian dan mengikat kaki nya.
"Kalau ada babi hutan dan rusa sekalian saja"jawab Ming Yue menatap sekitar.
"Baik kakak ipar".
Langkah kaki Ming Yue berhenti tidak jauh,ia menatap ke depan dengan tajam saat ada seekor serigala tak jauh dari nya memperhatikan dan menatap nya.
"Kalian sudah selesai"tanya Ming Yue tanpa melepastkan tatapan nya ke arah serigala yang juga menatap nya.
"Sudah kakak ipar"kata mereka memasuk kan yang terkahir ke dalam keranjang yang mereka bawa.
__ADS_1