Permaisuri Tangguh Pangeran Cacat

Permaisuri Tangguh Pangeran Cacat
Bab 15


__ADS_3

Setiba nya di kaki gunung mereka kembali melanjutkan langkah tanpa peduli pada wsrga desa yang menatap mereka membawa turun banyak buah juga buruan ayam hutan dan kelinci.


"Kami pulang"teriak si kembar membuka pintu pagar rumah dan masuk ke halaman.


"Banyak sekali buah-buahan nya"kata Nyonya Wei melihat keranjang mereka penuh buah-buahan.


"Iya bu di atas masih banyak lagi besok kami akan memanen nya kembali"kata Mei Nuan dengan wajah gembira,tidak ada raut lelah di wajah nya berkeringat.


Nyonya Wei tersenyum tipis dan berkata"Kalian sana mandi dulu baru kita makan siang".


"Baik bu/bibi"


"Ini buruan nya mau di apakan Ming Yue"tanya Nyonya Wei pada menantu nya.


"Di sini saja dulu bu,setelah makan siang kami akan ke kota membawa buah-buahan ini dulu kalau laku besok bisa di panen lagi sekalian bertanya pada restoran yang di katakan oleh Shu Fan aku ingin memastikan nya dulu jika sudah kita bisa menjual hasil buruan tetap di sana"jelas Ming Yue.


"Baiklah"


"Maaf kan kami jika kamu jadi menanggung beban keluarga ini"kata Nyonya Wei pada menantu yang sudah seperti anak bagi nya sewaktu Ming Yue kecil.


"Ibu jangan pernah berkata seperti itu,aku senang melakukan nya lagi pula kita ini keluarga"ujar Ming Yue.


Nyonya Wei mengangguk mengajak menantu nya masuk ke dalam rumah sembari menunggu anak-anak yang bergantian menggunakan kamar mandi. Ming Yue mengambil baskom untuk buah-buahan yang akan ia tinggal kan sedikit di rumah sebagai cemilan juga untuk di bawa Shu Fan pulang.


"Coba tanya sekalian pada restoran yang akan kalian datangi apa menerima kue mangkok dan kue keranjang biar ibu buat kan untuk kita jual,uang nya lumayan untuk tambahan kebutuhan kita"kata Nyonya Wei.


"Tidak perlu bu,ibu sudah lelah memasak untuk kami apalagi jika di tambah membuat kue untuk masalah uang biar aku yang mencari nya bu"ujar Ming Yue.


"Tapi..."


"Ibu percayakan pada ku kita tidak akan kekurangan apapun"potong Ming Yue.


Nyonya Wei hanya bisa pasrah dengan apa yang di katakan menantu nya.


"Yang di katakan kakak ipar benar bu,ibu jangan terlalu lelah kami bertiga juga akan membantu kakak ipar"kata Mo Tian yang mendengar perkataan kakak ipar dan ibu nya.


"Nah sudah ada penolong yang datang jadi ibu diam saja di rumah cukup memasak enak untuk kami"kata Ming Yue tertawa begitu juga Nyonya Wei dan Mo Tian.

__ADS_1


"Ayo kalian duduk kita makan siang". Nyonya Wei bangkit dari duduk nya berjalan ke dapur di ikuti Mo Tian dan Ming Yue membantu membawa ke meja makan.


"Biar Mo Tian yang membantu ibu sebaik nya kamu ke kamar menemani Yuan Zi"kata Nyonya Wei saat Ming Yue hendak ke dapur lagi.


"Baik bu". Ming Yue segera ke kamar nya.


Yuan Zi menatap Ming Yue yang baru masuk dan berkata"Sudah kembali".


"Ya,tapi setelah makan siang kami akan pergi ke kota lagi menjual buah-buahan itu,kami mendapat banyak untuk kita makan tidak akan habis jadi di jual saja di gunung juga masih banyak".


"Cari toko yang langsung menerima nya agar setiap panen langsung ke sana"


"Aku juga berpikir seperti itu"


"Ayo makan siang semua mungkin sudah berkumpul di sana"ajak Ming Yue menggendong Yuan Zi membawa nya keluar dan menduduk kan nya di kursi biasa.


"Nah sekarang ayo mari makan"kata Nyonya sebagai tetua di rumah mengambil sumpit di ikuti yang lain.


Mereka makan siang dengan nikmat karna Nyonya Wei memasak daging babi kecap,cap cay daging dan sayur juga Kuotie.


Selesai makan dan membawa peralatan makan ke dapur Ming Yue membersihkan diri lebih dulu sebelum ke kota.


"Seperti nya tidak ada bahan makanan dan bumbu masih banyak"jawab Nyonya Wei.


"Baiklah,,,kalau begitu kami berangkat sekarang"


"Ya,,kalian hati-hati"


"Baik bu"


"Suami ku Ku pergi dulu"pamit Ming Yue pada Yuan Zi.


"Hati-hati"


"Okay"


Ming Yue keluar rumah dengan senyum lebar dan mengangkat keranjang berisi buah-buahan itu ke dalam kereta kuda.

__ADS_1


"Kalian masuk lah ke dalam"suruh Ming Yue pada mereka.


"Aku di depan bersama kakak saja"kata Mei Nuan.


"Okay".


Setelah itu ia pun menghentak kan tali kuda itu keluar dari halaman rumah menuju kota yang mendapat tatapan sinis dari warga desa saat mereka lewat.


"Jangan pedulikan mereka"kata Ming Yue di angguki Mei Nuan.


Di rumah Nyonya Wei menatap putra nya yang selalu datar dan dingin pada orang lain yang entah dari siapa turun karna Kaisar tidak begitu apalagi diri nya.


"Kenapa bu"tanya Yuan Zi merasa di perhatikan oleh Nyonya Wei.


"Bagaimana hubungan mu dengan Ming Yue"tanya Nyonya Wei.


"Baik bu"


"Ibu harap hubungan kalian lebih baik lagi ke depan nya"


Yuan Zi mengangguk mengerti apa yang di katakan oleh ibu nya itu.


"Ibu juga berharap jika hanya Ming Yue menjadi istri mu"kata Nyonya menatap putra nya.


"Aku tahu bu,,walaupun ibu tidak mengatakan nya aku juga tidak mau memiliki istri lain selain Ming Yue"ujar Yuan Zi.


"Syukurlah ibu lega mendengar nya"kata Nyonya Wei.


"Lalu bagaimana kedepan nya kita akan tetap di sini walaupun mereka sudah mengetahui keberadaan kita?"tanya Nyonya Wei.


"Kita lihat saja bagaimana dulu bu, jika mereka tahu kita di sini dan tidak membahayan tidak masalah tapi jika mereka bergerak baru lah kita meninggalkan desa ini karna mereka pasti akan berbuat ulah,aku tidak mau warga yang tidak mengetahui apapun terluka nanti nya"jawab Yuan Zi.


"Apa mereka benar-benar tidak akan melepaskan kita"tanya Nyonya masih cemas dengan hidup mereka.


"Mereka tidak akan melepas kan kita begitu saja bu walaupun saat ini gelar kita di cabut tetap saja kita anggota kekaisaran darah kaisar mengalir di tubuh kami"jawab Yuan Zi.


Nyonya Wei terdiam mendengar penjelasan putra nya,sedari di istana pun ia mendidik putra dan putri nya dengan baik dan mengatakan pada mereka agar jangan pernah tertarik dengan tahta karna itu akan membahayakan nyawa mereka,ia lebih baik hidup biasa saja namun nyaman.

__ADS_1


Jika bukan titah Kaisar terdahulu Nyonya Wei juga tidak akan mau masuk dan terlihat ke dalam Istana karna ia tahu bagaimana berat nya hidup di dalam Istana megah tersebut.


__ADS_2