
Warga desa kini mulai berdatangan satu persatu menuju balai desa setelah mereka makan siang, Xu Tao memanggil Tetua Klan ke rumah nya karna ia juga menjadi korban meski hanya luka ringan saja.
"Tetua Klan semua sudah berkumpul di balai desa"kata Xu Tao.
Tetua Klan mengangguk dan berkata."Kita ke sana".
Mereka berdua berjalan menuju balai desa di mana sudah ada tetua lain nya di sana juga yang di jemput warga.
"Kita langsung saja ke kediaman Nyonya Wei"kata Tetua Klan.
"Baik Tetua"jawab mereka serempak berjalan menuju kaki gunung.
Kepala Desa hanya mendesah kasar melihat warga,ia pikir berburu ke hutan itu jika mau dan mendapatkan nya itu tidak lah masalah karna siapa saja boleh berburu ke hutan jika mau,hanya saja tidak ada yang mau memasuki hutan itu karna terkenal binatang buas banyak di sana.
"Tetua Klan bukan kah seharus nya itu urusan mereka mau berburu di hutan dan mendapatkan buruan jika ia pandai berburu dan tidak takut itu bukan urusan kita, Warga desa ke hutan karna mereka tidak pandai berburu jadi seperti itu"jelas Kepala Desa.
"Huhh kamu membela pendatang itu,sudah jelas mereka memberi contoh tidak baik di desa ini"dengus Tetua Klan tidak senang.
"Jangan banyak bicara ikuti saja apa yang menjadi keluhan warga kamu sebagai kepala desa harus nya membantu warga mu"bentak Tetua Klan lagi.
Tiba di depan rumah Nyonya Wei mereka melihat Ming Yue sedang mengerjakan sesuatu karna ia terlihat memotong batang pohon,adik-adik ipar nya bermain kelinci di halaman samping, Ming Yue sendiri yang sudah tahu hanya acuh saja juga Yuan Zi duduk di samping menemani nya.
"Ehemm keponakan"panggil Kepala Desa membuat Ming Yue menoleh.
"Oh Kepala Desa ada apa ramai-ramai ke rumah kami"kata Ming Yue.
"Kalian membuat masalah di desa ini dengan membawa contoh tidak baik pada warga"ujar Tutua Klan.
"Bukan sudah aku jelaskan itu bukan urusan ku,aku berburu untuk kami dan karna kami pandai berburu kalian,saja yang tidak pandai sok pergi ke sana dan lihat sendiri akibat nya jadi contoh mana yang tidak baik"kata Ming Yue santai.
"Ka-kamu berani..".Tetua Klan menatap marah ke arah Ming Yue yang berani menentang nya.
"Kenapa tidak berani tidak ada larangan untuk berburu di mana pun itu terserah yang mau berburu,lagian jika ia terluka atau bagaimana bukan kah itu urusan nya kenapa kalian sibuk."
__ADS_1
"Kalian pendatang di sini harus nya mematuhi aturan desa kami"ujar Xu Damo.
"Aku rasa tidak ada aturan di larang berburu bukan kalian takut masuk ke dalam hutan itu,saat aku datang dan pergi ke sana membawa pulang buruan baru kalian heboh sendiri pergi ke sana namun malah berujung sial,maka nya jadi manusia jangan punya hati iri hitam jadi melihat orang senang kalian yang kesusahan"tandas Ming Yue kesal.
"Jangan berani berbuat sesuka mu di desa kami ini,kalian hanya pendatang di sini sudah harus nya menghormati kami warga desa asli terutama para Tetua"kata Nyonya Wu.
"Benar,,kami bisa mengusir kalian dari desa ini"sahut Nyonya Ling.
"Ya,,jangan seenak nya di sini"
Warga desa bersuara satu persatu,Ming Yue yang sudah mulai kesal ingin segera memukul mereka satu persatu yang mencari masalah dengan keluarga nya.
"Kami memiliki surat-surat rumah dan tanah ini dan sudah di sahkan oleh pemerintah kota,apa hak kalian lagi berani mengusir kami dari sini,walaupun kami pendatang kami bisa menuntut kalian semua pada petugas Yemen"suara dingin Yuan Zi menggema menatap mereka datar.
Semua warga diam mendengar nya begitu juga Tetua Klan yang mengendus dingin menatap Yuan Zi dan Ming Yue,pada akhir nya mereka berbalik pergi dengan umpatan dan kata-kata lain nya dari mulut mereka.
"Huhh maaf keponakan mengganggu kalian"kata Kepala Desa tidak enak segera mengikuti yang lain keluar dari halaman Nyonya Wei.
"Mereka semua ternyata sama saja"dengus Ming Yue kembali mengerjakan pekerjaan nya.
"Aku tidak peduli apa yang mereka katakan hanya saja aku kesal dengan mereka yang selalu mengganggu".
"Kakak mereka memang begitu apalagi paman Xu Damo dan bibi Wu mereka selalu membuat keributan"kata Shu Fan.
"Oh bibi yang jelek raut wajah nya tadi"tanya Ming Yue di angguki Shu Fan.
"Dari awal aku melihat nya juga memang begitu dia terlihat membenci kami entah kenapa"kata Ming Yue.
"Lebih baik kalian bermain lagi jangan ganggu kakak ipar kalian"kata Nyonya Wei.
"Baik Bu/bibi"
"Selamat siang bibi"suara wanita dari luar pagar membuat mereka menoleh.
__ADS_1
Nyonya segera berjalan ke arah pintu pagar"Oh, Yin Hua?".
"Ada apa"tanya Nyonya Wei dengan senyum ramah.
"Ahh,,aku di suruh ibu mengantar kan kue-kue ini untuk bibi"kata Yin Hua.
Nyonya Wei menerima nya dan berkata"Aiyaa,,,katakan pada ibu mu terimakasih".
"Baik bibi,,aku kembali dulu".Yin Hua tersenyum tipis sebelum berlalu pergi dari sana.
.
Seminggu telah berlalu Ming Yue mengerjakan untuk membuat kursi roda akhir nya selesai,ia ke gunung hanya menemani mereka mengambil buah-buahan dan berburu ayam hutan dan kelinci. Mereka juga yang membawa hasil panen ke kota dengan gerobak yang di buat oleh Ming Yue agar lebih mudah di bawa.
"Nah sekarang sudah selesai"ujar Ming Yue menatap hasil karya yang ia buat dengan bangga.
"Wah kakak ipar hebat"kata si kembar menatap kagum kakak ipar mereka.
Ming Yue menepuk dada nya pelan dengan bangga membuat yang lain tertawa.
"Sekarang ayo coba".Ming Yue menggendong Yuan Zi untuk di kursi roda ia juga sudah menjelaskan pada suami nya cara menggunakan nya saat membuat kursi roda tersebut.
"Terimakasih istri ku"kata Yuan Zi.
"Di-dia memanggil ku istri ku"gumam Ming Yue dalam hati dengan linglung.
"Kenapa"tanya Yuan Zi karna Ming Yue tidak menjawab hanya menatap nya.
"A-aku hanya malu kamu memanggil ku seperti itu"jawab Ming Yue jujur malah membuat mereka tertawa terbahak-bahak mendengar nya.
Yuan Zi geleng kepala melihat kelakuan istri mungil nya yang berkata jujur tanpa malu.
"Nah sekarang lebih baik kita minum teh menikmati roti jagung buatan ibu"ajak Nyonya Wei pada mereka.
__ADS_1
"Baik bu"jawab mereka segera ke meja menikmati teh dan roti jagung di sore hari sebelum makan malam.