
Di suatu kerajaan yang sangat jauh dari Kerajaan Talem, seorang pria muda berusia sekitar 20 tahun dengan jubah penyihir berwarna putih serta membawa sebuah tongkat sihir yang terbuat dari kayu setinggi tubuhnya sendiri yaitu sekitar 1,7 meter.
Pria tersebut berjalan di tengah-tengah kota bersama 2 anak kecil yang sibuk melihat makanan yang dijual dipinggir jalan penuh rasa tertarik, salah satu anak bahkan menjatuhkan air dari mulutnya serta terlihat sangat lapar.
Melihat tindakan 2 anak, pria penyihir itu tersenyum dan berencana membelikan mereka makanan yang ada.
Tetapi ia tiba-tiba menghentikan langkahnya, ia menatap ke arah langit penuh rasa tidak percaya sebelum sebuah senyuman muncul di wajahnya "Siapa yang berpikir wanita sombong itu benar-benar mengakui seseorang sebagai tuannya. Mungkin Pertarungan 1000 Roh ini mulai mendekati bagian utamanya! Bagaimanapun pertarungan utama dari Pertarungan 1000 Roh adalah ketika sebagian besar Roh telah menemukan tuan mereka, sepertinya pertarungan akan menjadi semakin menarik".
"Tuan penyihir, apa yang kau bicarakan? Apakah ini ada hubungannya terhadap para Roh yang anda bicarakan sebelumnya?", tanya seorang anak penasaran.
Mendengar pertanyaan anak tersebut, penyihir pria memegang kepalanya dengan lembut "Kau benar, ini adalah apa yang aku bicarakan kemarin yaitu terdapat 5 roh sombong yang menolak mengakui siapapun sebagai tuan mereka-- Tidak, sejak awal mereka berbeda dari roh lain, 5 roh utama ini tidak pernah berencana mencari seseorang untuk menjadi tuan mereka. Sejak awal, mereka berencana memenangkan pertarungan tanpa tuan. Siapa yang berpikir, di antara 5 orang tersebut ada yang telah mengakui tuannya, selain itu orang yang mengakui tuannya ini adalah salah satu yang paling keras kepala dari 5 roh utama. Nampaknya sama seperti yang dikatakan orang-orang, di dunia ini ada banyak sekali hal yang tidak dapat ditebak".
2 anak itu hanya menatap sang penyihir penuh kebingungan, mereka belum terlalu mengerti apa maksud perkataan penyihir tersebut.
Penyihir itu juga tidak memarahi mereka atas kebingungan mereka, melainkan ia tetap tersenyum penuh penantian terhadap masa depan.
.....
Myro tidak tahu dimana dia berada, apa yang ia lihat hanyalah seorang wanita yang berdiri sendirian di medan perang dengan banyak sekali mayat yang tergeletak di tanah.
__ADS_1
Baik mayat lansia ataupun anak-anak, pria maupun wanita, prajurit atau penduduk, semuanya ada di sekitar wanita tersebut.
Wanita itu memakai sebuah zirah besi berwarna perak yang telah berubah warna menjadi merah akibat tertutup oleh darah, ia menatap ke arah langit dengan mata merahnya yang seperti rubi, rambut merah panjangnya yang diikat ke belakang berkibar sebab tertiup oleh angin.
Seluruh tubuh wanita itu tertutup oleh darah dari mayat-mayat di tanah, ada jejak kedinginan serta ketidakpedulian di matanya.
Meskipun Myro melihat wanita tersebut dari jarak yang cukup jauh, ia yakin bahwa wanita itu adalah Mili.
Berbeda dari Mili yang mudah tersenyum serta ramah, Mili yang berada di depan Myro seperti iblis berdarah dingin. bahkan setelah melewati banyak medan perang, Myro belum pernah bertemu orang dengan aura sedingin Mili di depannya ini.
Sepertinya menyadari kehadiran Myro, mata dingin Mili jatuh kepada dirinya.
Mili menarik pedangnya yang ia tusukkan ke tanah, lalu sebuah suara terdengar dari mulutnya "Bunuh! Bunuh semuanya! Semua orang akan aku bunuh, semuanya ditakdirkan untuk mati".
Sosok Mili bergegas menuju Myro, ia mengangkat pedangnya dan menebas dari atas kepala Myro tanpa ragu "Mati!".
"Slash!".
.....
__ADS_1
Myro yang sedang tertidur di gua persembunyian sambil berkeringat dingin langsung terbangun, ia menegakkan tubuhnya lalu memegang seluruh badannya supaya memastikan tidak ada yang terkena serangan tebasan Mili barusan. Memastikan tubuhnya memang sehat, Myro menghela nafas lega, mimpinya yang ia alami tadi terasa begitu nyata sehingga Myro sulit membedakan apakah ia benar-benar mengalami luka tebasan atau tidak.
"Nampaknya kau sedang bermimpi buruk, tuanku", sebuah suara wanita yang lembut terdengar di samping Myro, namun tubuh Myro sedikit bergetar akibat suara tersebut sebab ia baru memimpikan hal buruk mengenai dibunuh sang pemilik suara ini yaitu Mili.
Saat ini Mili duduk di pintu depan gua, tombak miliknya sedang bersandar di pundak kanan Myro. Ia juga tetap menggunakan baju zirah miliknya, terlihat ia sibuk menjaga pintu gua agar siapapun yang berani mendatangi tempat ini, mereka perlu melewati Mili dulu sebelum mengetahui apa yang ada di gua.
Sebuah senyuman lembut muncul di wajah Mili, mata merah rubi miliknya terus menatap Myro penuh rasa peduli serta khawatir, ia mungkin masih mengkhawatirkan apakah Myro sudah sembuh sepenuhnya atau belum.
Myro tiba-tiba menyadari sesuatu, ia memegang tubuhnya terutama di daerah sekitar perut bagian atas kanan yang menjadi lokasi dimana belati Jirfa menusuknya.
Setelah memeriksa beberapa kali, Myro menemukan tidak ada sedikitpun jejak luka pada tubuhnya yang membuat ia sedikit tidak percaya "Bagaimana mungkin? Apa yang terjadi pada luka di tubuhku?".
Mendengar pertanyaan Myro, Mili yang duduk segera berdiri "Kalau begitu darimana aku perlu mulai menjelaskannya? Benar, ayo jelaskan dari yang paling penting dulu. Mulai hari ini hingga salah satu dari kita mati, kau adalah tuanku! Aku harap kerja samamu di Pertarungan 1000 Roh, Tuan Myro".
Myro kaget, ia menunjuk dirinya sendiri dan berkata ragu "Maksudmu aku menjadi tuan dari roh yaitu dirimu mulai hari ini sehingga aku perlu mengikuti Pertarungan 1000 Roh?".
Mili mengangguk "Itu benar, lalu seperti apa yang pernah aku katakan sebelumnya, siapapun yang memenangkan perang maka semua yang mereka harapkan akan menjadi kenyataan, lebih tepatnya hanya 1 harapan. Semua roh yang berhasil bertahan hidup dan menolak menyerah bersama tuan mereka akan berkumpul di Gunung Emas, mereka akan saling bertarung disini, membunuh semua Roh yang lain hingga tinggal 1 Roh dan tuannya yang bertahan. Dengan cara itu, mereka yang bertahan sampai akhir akan menerima hadiah mewujudkan harapan mereka menjadi kenyataan".
"Aku tahu mungkin bagi tuan masih cukup sulit mempercayai hadiah dari Pertarungan 1000 Roh, tapi seperti yang aku katakan, ada banyak keajaiban di pertarungan ini seperti kami para Roh yang diberikan kemampuan regenerasi menakutkan, serta tuan yang mampu memberi perintah kepada rohnya sampai batas tertentu. Ada juga aturan bahwa Roh tidak boleh membunuh tuan mereka, semuanya sesuai dengan aturan Pertarungan 1000 Roh, keajaiban yang hanya ada di pertarungan ini, begitu juga dengan hadiah yang sulit dipercaya".
__ADS_1