
"Booooom!".
Ledakan besar terjadi akibat serangan Ayah Jirfa barusan, padahal sebagai seorang pembunuh, serangan ledakan bukanlah keahliannya melainkan serangan yang cepat, tajam serta kuat merupakan keahliannya sebagai pembunuh bayangan.
Tetapi keadaannya berbeda saat ini, tujuan utama dia bukanlah membunuh wanita berambut merah di depannya melainkan memberi waktu bagi anak perempuannya untuk melarikan diri. Bagaimanapun serangan ledakan mampu menutupi Jirfa, selain itu asap hitam akibat ledakan dapat mengganggu seseorang untuk mencari keberadaan Jirfa.
Meskipun terdorong mundur oleh ledakan serangan, Jirfa tetap bergegas maju lagi menuju ayahnya.
Bukan berarti Jirfa tidak mengerti tujuan ayahnya melakukan serangan tadi supaya ia melarikan diri, namun ia menolak mengerti karena rasa khawatirnya terhadap ayahnya.
Tepat sewaktu Jirfa berusaha berjalan mendekat, sebuah tangan menarik pundak Jirfa dari belakang lalu berusaha membawanya menjauh dari medan perang.
Pada awalnya Jirfa berusaha menolak tangan yang menariknya, tapi ketika ia mengetahui siapa orang yang menariknya, Jirfa berkata kaget "Ibu, apa yang kau lakukan? Ayah masih ada di sana! Ia terluka berat sehingga kita perlu membantunya melawan musuh, ayah--".
"Brak!".
Tiba-tiba ibu Jirfa menampar wajah anak perempuannya tanpa ragu untuk menyadarkan Jirfa yang berusaha terus mengejar ayahnya, ia berkata sambil menangis "Apakah kau belum mengerti alasan kenapa ayahmu melakukan serangan tadi? Apabila kau datang ke sana sekalipun, apakah kau pikir ayahmu ataupun aku akan senang? Tidak, jawabannya tidak. Kalau kau memang peduli pada ayahmu maka larilah menjauh dari sini. Keberadaan mu bukan membantu ayahmu melainkan kau hanya akan menjadi beban yang membawa lebih banyak kesulitan baginya sebab perlu melindungi mu".
Jirfa berdiri diam di tempat dengan wajah kosong, ia merasakan panas dari wajahnya yang ditampar tapi ia sama sekali tidak peduli pada rasa sakit di wajahnya melainkan ia hanya kaget akibat tamparan mendadak dari ibunya.
Mendengar suara pertarungan terus berlanjut, Ibu Jirfa memegang tangan Jirfa lalu mulai melarikan diri menjauh dari pertarungan tersebut.
__ADS_1
Di tengah jalan, sebuah suara langkah kaki yang cepat mendekati mereka.
Mereka sekarang masih berada di tengah jalan dari meninggalkan ibukota, apalagi sekalipun pergi dari ibukota, ada kemungkinan musuh masih mengejarnya sebab berbeda dari Jirfa, Ibu Jirfa mengenal seberapa menakutkan wanita yang menyerang suaminya serta mengejar mereka sekarang. Setidaknya ia pernah mengingat suaminya yang merupakan salah satu pembunuh terkuat di Kerajaan Alv mengatakan bahwa jika ia mendapatkan misi membunuh wanita tersebut, itu sama dengan misi bunuh diri.
Menarik pedang yang selalu ia simpan di pinggangnya serta hampir belum pernah ia pakai sepanjang hidupnya, bagaimanapun pedang ini diberikan suaminya hanya untuk melindungi dirinya selama ada situasi buruk. Dari kecil hingga sekarang, ia bukan seorang petarung serta belum pernah belajar bertarung kecuali beberapa teknik serangan yang pernah diajarkan suaminya.
Tetapi kali ini ia memutuskan untuk bertarung sebab ada anak perempuannya disini, ia harus membuka jalan bagi anaknya apapun yang terjadi.
Setelah menarik pedangnya, ia mendorong punggung Jirfa "Cepat, pergi dari sini dan jangan melihat ke belakang! Pokoknya kau harus pergi dari sini apapun--".
Tanpa menunggu Ibu Jirfa menyelesaikan perkataannya, sosok wanita berambut merah sudah muncul di depan ibunya, tombak wanita berambut merah tersebut sudah berada tepat di samping leher ibunya. Selama wanita berambut merah menggerakan tombaknya sedikit ke samping, tombak tersebut pasti memberikan luka fatal di leher.
"Apakah kau pikir bisa melarikan diri dari tanganku?", kata wanita berambut merah tersebut dengan dingin "Walaupun kau mati, pada akhirnya aku tetap mampu mengejar anakmu, bagaimanapun bukan hal yang sulit bagiku untuk mengalahkanmu dengan waktu kurang 1 detik lalu membunuh putrimu bukan?".
Wanita yang disebut Jendral Mili mengamati ke arah Jirfa sebelum berkata kepada Ibu Jirfa penuh rasa dingin "Pada akhirnya yang memutuskan hidup ataupun mati anakmu bukanlah dirimu, melainkan aku! Karena alasan tersebut, kau tidak berhak menentukan apa yang akan aku lakukan!".
Setelah itu di depan mata Jirfa, Mili mengalihkan perhatian kepada dirinya.
Mengangkat tombaknya, Mili langsung menusuk tombak miliknya ke arah leher Jirfa.
Dengan sekejap mata, Jirfa merasa seluruh dunianya menjadi gelap. Semua teknik bertarung yang ia pelajari dari ayahnya, Jirfa yang merasa dirinya menjadi semakin kuat setiap harinya setelah rajin berlatih, kini ia merasa tidak berdaya dihadapan Mili. Bahkan ia gagal menghentikan tombak Mili barusan. Sebelum ia mampu bereaksi, tombak Mili telah membunuhnya.
__ADS_1
Tidak diketahui berapa lama waktu yang berlaku, Jirfa membuka matanya untuk menemukan ia berada di rumah sakit sementara dari dukungan Bangsawan Kerajaan Alv.
Jirfa tidak mengalami luka berat apapun sehingga ia bebas dari perawatan hanya dengan waktu sehari setelah ia sadar, lalu ia juga menemukan berita bahwa di antara keluarganya, tinggal ia yang tetap hidup.
Bukan, menurut para prajurit serta dokter yang ia temui, semua orang di ibukota terbunuh kecuali dirinya.
Berjalan ke sebuah pemakaman baru tepat di sebelah ibukota yang menjadi sebuah makam besar dimana hampir semua orang di ibukota yang terbunuh akibat penyerangan Mili dikubur disini, Jirfa berjalan hingga berdiri di depan 2 makam.
Ia tidak menceritakan apapun mengenai Mili ke para prajurit, Jirfa menggunakan alasan bahwa ia kehilangan kesadaran secara tiba-tiba yang membuatnya tidak mengetahui siapa pelakunya.
Hujan mulai turun tapi Jirfa mengabaikan hujan yang membasahi dirinya, semua perhatiannya tertuju ke arah 2 makam yang ada di depannya.
"Jendral Mili, Milier Lux, jendral terhebat Kerajaan Alv! Suatu hari nanti, aku pasti akan membunuhmu dan membalaskan semua dendam ini", kata Jirfa penuh tekad tanpa peduli terhadap hujan yang semakin kuat.
Tidak, mungkin Jirfa harus berterima kasih kepada hujan yang membantu menyamarkan antara air matanya dengan air hujan.
Sejak hari dimana ia kehilangan keluarganya serta hanya tinggal sendirian di dunia ini, Jirfa pergi ke berbagai bagian dunia untuk mencari keberadaan Mili.
Sepanjang jalan ia mengenal banyak orang baru, daerah baru serta banyak hal lainnya. Selain itu ia juga terus berlatih bahkan menerima tugas pembunuhan yang sulit untuk memperkuat kemampuannya.
Seiring berjalannya waktu, nama Jirfa juga menjadi terkenal, ia dijuluki sebagai pembunuh bayangan, pembunuh tanpa jejak dan banyak sekali julukan lainnya.
__ADS_1
Meskipun begitu, sampai akhir dimana kematian menemui dirinya, ia tidak menemukan Mili. Bukan hanya itu, jejak dari Mili sama sekali tidak pernah ia temukan seakan-akan orang seperti itu memang tak pernah ada sebelumnya.
Pada akhirnya, Jirfa mati tanpa berhasil membalaskan dendam yang menjadi tujuan utama selama hidupnya.