PERTARUNGAN 1000 ROH

PERTARUNGAN 1000 ROH
BAB 41 : BERUBAH PIKIRAN


__ADS_3

Mili yang menunggu di samping sedikit bingung menemukan Myro yang berdiri diam lama di depan bola kegelapan, padahal sejak tadi Myro berencana menghancurkan bola kegelapan tersebut walaupun tebasan tombaknya tadi berhenti di tengah jalan "Tuan, ada apa? Apakah ada masalah pada bola kegelapan tersebut? Jika tuan ragu, biarkan aku yang membunuhnya. Bagaimanapun tuan masih mempunyai kebaikan seperti seorang ksatria, sedangkan aku tidak keberatan untuk membunuh siapapun di kondisi apapun selama aku bisa menang, oleh karena itu aku lebih cocok untuk tugas ini! Selain itu, kalau terus seperti ini maka ada kemungkinan ayah Jirfa akan berhasil merebut tubuh Jirfa lebih dulu sebelum tuan membunuhnya, itu terlalu berisiko!".


Myro terus menatap bola kegelapan di depannya tanpa melihat ke arah Mili sedikitpun "Maaf Mili, aku sepertinya akan sedikit merepotkan mu, tapi aku berubah pikiran".


"Apa?", Mili terkejut akibat perkataan Myro, ia menatap Myro dengan wajah kosong seakan-akan menunggu penjelasannya.


"Seperti yang aku katakan, aku berubah pikiran! Aku tak berencana membunuh Jirfa melainkan setelah tubuhnya dikuasai, kita akan membuatnya terbebas, karena alasan tersebut aku membutuhkan bantuanmu", kata Myro.


Mili menggelengkan kepalanya tegas "Tidak, tidak, tuan, anda pasti bercanda bukan? Tak peduli bagaimana anda melihat, mereka yang telah dikuasai oleh roh senjata kutukan tidak mempunyai kesempatan untuk lepas lagi. Semua orang tahu, mereka yang dikuasai senjata kutukan ataupun jiwa lainnya sama seperti orang yang telah mati. Walaupun aku kuat, ada perbedaan besar antara membunuh serta membebaskan seseorang dari kendali senjata kutukan. Aku bisa membunuh Jirfa, bahkan jika ia dikendalikan senjata kutukan yang berupa jiwa ayahnya, aku tetap mampu membunuhnya. Namun untuk membebaskan ia dari kendali ayahnya, sejak Jirfa tertangkap di bola kegelapan, aku tidak mampu membebaskan dia lagi".


Myro menusukkan tombaknya ke tanah "Mili, dengan baik-baik! Tugasmu hanya menahan Jirfa selama mungkin, sedangkan orang yang akan membebaskan dia dari kendali senjata kutukan adalah aku. Orang lain mungkin tidak dapat melakukannya, tapi aku bisa!".


Mili bertanya ragu-ragu "Banyak orang hebat di Kerajaan Alv, ahli sihir maupun peneliti yang membuat penemuan hebat juga banyak, tapi tidak ada seorangpun dari mereka yang bisa menghapus kendali jiwa dari senjata kutukan, bagaimana mungkin tuan--".


Pada awalnya Mili mencoba menyangkal, tetapi ia segera menutup mulutnya ketika menemukan Myro membuka perban di tangan kanannya.

__ADS_1


Myro yang sedang membuka perban lanjut berkata "Aku tahu apa yang aku katakan terdengar terlalu egois, namun membutuhkan waktu terlalu lama untuk menjelaskan apa yang aku lakukan. Oleh karena itu, untuk sekarang, bisakah kau percaya padaku, Mili?".


Senyum pahit muncul di wajah Mili, ia memegang tombaknya dan berdiri di depan Myro "Aku akui kali ini tuan terlalu egois, tanpa memberikan penjelasan apapun, anda langsung memberi perintah serta berharap aku akan percaya pada anda tanpa banyak bertanya. Meskipun begitu, mungkin bagian dari kebaikan serta keegoisan mu itu yang membuat aku memutuskan untuk mengikutimu. Aku akan menahan Jirfa yang dikendalikan ayahnya selama mungkin, namun aku tak yakin dapat menahan kekuatanku. Kalau tuan terlalu lama, aku mungkin akan membunuhnya".


Myro mengamati Mili yang berdiri di depannya, sama sekali tidak ada jejak ketakutan di wajah Mili melainkan ia sedikit tersenyum seakan-akan ada sesuatu yang menarik menunggu dirinya.


Sebuah senyuman muncul di wajah Myro, ia yang telah selesai melepas semua perban di tangan kanannya menunjukkan sebuah tangan berwarna hitam yang terlihat seperti terbuat dari besi, ada banyak sekali rune ada di sepanjang tangan kanan tersebut, bahkan ada beberapa suara mesin aneh yang terdengar dari tangan kanan Myro.


Myro meletakkan tangan kanannya tepat di depan wajah bagian kanannya, mata kiri Myro yang tak terhalang oleh tangan kanan menunjukkan kegelapan yang suram "Jangan khawatir, paling lama 10 menit, semuanya akan selesai!".


Perlahan-lahan suara teriakan di bola kegelapan menghilang, lebih tepatnya suara teriakan kesakitan Jirfa mulai berkurang.


Ketika suara teriakan menghilang sepenuhnya, kegelapan pada bola terlihat meleleh serta cairan hitam jatuh ke tanah.


Sekitar 2 menit kemudian, sosok Jirfa muncul dari bola kegelapan.

__ADS_1


Jirfa mendarat di tanah lalu menarik nafas sebelum berkata dengan senyum lebar "Sudah lama sejak terakhir kali aku merasakan udar sebaik ini, akhirnya aku tak perlu tetap diam di belati itu".


"Sejak dulu hingga sekarang, kau belum berubah sedikitpun, Karfesta! Mungkin aku menyesal sudah membunuh banyak sekali orang tak bersalah di Ibukota Kerajaan Alv dulu, tetapi membunuhmu adalah satu-satunya yang membuat aku tak menyesal", kata Mili yang memajukan kaki kanannya dan menguatkan pegangan pada tombaknya, ia memasang kuda-kuda bertarung "Bahkan kali ini kau merebut tubuh anakmu sendiri untuk hidup panjang yang selalu menjadi mimpimu, benar-benar menjijikan".


Karfesta pasti bukan Jirfa melainkan sosok yang dimaksud Mili adalah ayah Jirfa yang menguasai tubuh anaknya sendiri.


Jirfa yang merupakan Karfesta membuka matanya "Rekan lamaku Mili, kenapa kau berbicara seakan-akan kita adalah musuh? Padahal dulunya kita merupakan rekan yang setia kepada kerajaan, apakah memang perlu untuk terus bertarung? Sebagai rekan lama, kenapa tak saling melupakan permusuhan kita, aku pergi ke kerajaan lain sedangkan kau terus melanjutkan perjalanan melalui jalan yang kau pilih juga, kita tidak akan saling mengganggu kecuali telah tiba di Gunung Emas".


Mili menggelengkan kepalanya "Maaf, orang yang menentukan akan bertarung maupun berdamai disini bukan aku melainkan tuanku, selama ia memberitahuku untuk pergi maka aku tidak akan menyerangmu".


Karfesta menatap ke arah Myro penuh keramahan "Bukankah sebelumnya kau mengatakan untuk saling berdamai ke anakku Jirfa? Lagipula alasan pertarungan kali ini yaitu anakku serta Holuka yang terus keras kepala mengejar kalian, bagaimana kalau kita berhenti sekarang? Aku tak akan mengejar kalian lagi".


Myro sama sekali tidak mengubah wajahnya, lebih tepatnya ia memusatkan semua perhatiannya ke tangan kanan miliknya dimana suhu pada tangan kanannya semakin menurun, bahkan ada jejak asap putih pada tangan kanannya "Apabila orang yang berbicara padaku adalah Jirfa, aku mungkin setuju sebab pada akhirnya ia masih seorang dengan pikiran anak-anak yang dimanipulasi ayahnya walaupun ia merupakan pembunuh yang telah membunuh orang lain. Sedangkan dirimu, jangan harap aku akan membiarkan kau pergi dari sini dengan hidupmu! Mili, apapun yang terjadi, jangan biarkan dia pergi disini!".


Mili mengangguk ringan, jejak aura darah terlihat dari tombaknya "Dimengerti, tuanku!".

__ADS_1


Karfesta memegang kepalanya sambil menghela nafas, ia menatap ke arah Mili dan Myro dengan tajam "Kalau begitu tak ada pilihan lain, aku akan membunuh kalian semua yang ada disini sekarang juga".


__ADS_2