
Rumah Myro di desa adalah sebuah rumah kecil yang terdiri dari 1 ruang tamu dan 1 kamar mandi, selain itu seluruh rumah terbuat dari kayu yang sama seperti rumah lain di desa.
Myro menatap bagian depan rumah melalui celah kecil pada pintu kayunya. Setelah memastikan tidak ada seorangpun yang mengikutinya, Myro yang telah menghentikan pendarahan dari luka wanita itu menggunakan perban yang ia simpan selama Myro menjadi prajurit bergegas menyiapkan makan malam.
Bekerja di ladang seharian lalu membawa sebuah tombak berat dan merawat luka seseorang membuat Myro cukup lelah, selain itu ia perlu memberi wanita yang terluka ini makan. Walaupun pendarahannya sudah berhenti, luka yang ia terima terlalu berat sampai-sampai jumlah darah yang hilang berisiko membahayakan hidupnya. Jadi, Myro membuat makanan supaya menggantikan darah yang hilang serta menambah energi pada tubuhnya.
Saat ini Myro sedang menyiapkan bubur, ia sebagai orang yang bekerja di ladang sama sekali tidak memiliki banyak uang. Karena alasan tersebut, memakan bubur hampir setiap hari bukanlah hal yang aneh, paling banyak ia makan daging sebanyak 4 kali seminggu.
Saat sedang menyiapkan makanan, wanita yang terluka tersebut perlahan-lahan membuka matanya.
Pertama kali wanita itu menatap sekitar penuh rasa bingung, nampaknya ia masih belum sadar dari tidurnya.
Setelah menatap sekitar selama beberapa saat, wanita itu membuka matanya lebar-lebar akibat terkejut. Ia segera berdiri dan berusaha mencari tombak di sekitarnya, tapi ia langsung jatuh ke tanah lagi sambil memegang luka di pundaknya dengan wajah kesakitan.
Myro berjalan tanpa rasa takut mendekati wanita itu sambil membawa semangkuk bubur "Jangan banyak bergerak, luka di tubuhmu masih terlalu berat sehingga semakin banyak kau bergerak, semakin memburuk juga luka yang akan kau miliki. Meskipun kau adalah roh, apabila luka milikmu terlalu berat, pada akhirnya kau akan mati bukan?".
__ADS_1
Mendengar perkataan Myro, wanita itu menjadi lebih terkejut, ia menatap Myro penuh rasa waspada "Bagaimana kau tahu bahwa aku adalah roh?".
Myro meletakkan buburnya di lantai kayu dan berkata jelas "Mudah, aku mengamati dari luka di tubuhmu! Para penduduk desa atau orang normal lainnya mungkin tidak sadar, tapi sebagai prajurit di medan perang, aku menyadarinya bahwa luka milikmu sembuh terlalu cepat! Meskipun kecepatan regenerasi luka milikmu kecepatannya tidak terlalu berlebihan seperti semua luka akan sembuh, tapi menurut pengalamanku sebagai prajurit, manusia normal seharusnya tidak menyembuhkan luka secepat itu. Seberapa uniknya sistem regenerasi tubuh manusia, kecepatan penyembuhan sepertimu sama sekali tidak ada kecuali sosok roh yang dikenal sebagai makhluk di atas manusia, bukan?".
"Bagaimana kalau aku penyihir? Bukankah mereka mampu menyembuhkan luka dengan cepat juga?", tanya wanita tersebut masih menatap Myro dengan hati-hati.
Myro menggelengkan kepalanya "Aku pernah bertemu penyihir beberapa kali di medan perang, bahkan ada beberapa dari mereka yang mati di tanganku. Walaupun mereka bisa menyembuhkan luka mereka dengan cepat menggunakan sihir, pasti ada gelombang mana di tubuh mereka yang akan aku sadari. Selain itu, apakah penyihir yang kehilangan kesadaran dapat menggunakan sihir? Bagaimana, nona? Apakah ada pertanyaan lagi? Atau kau masih keberatan aku mengetahui identitas mu sebagai roh?".
Wanita tersebut mengamati Myro sebelum menghela nafas "Baiklah, kau benar! Aku adalah roh, kalau begitu apa yang akan kau lakukan sekarang?".
Tanpa menunggu jawaban wanita itu, Myro memakan bubur miliknya sendiri.
Wanita tersebut menatap Myro penuh rasa tidak percaya, banyak orang yang mengejar dirinya setelah mengetahui bahwa ia adalah roh, ribuan sampai puluhan ribu orang mencoba meyakinkan ia bahwa mereka adalah tuan yang hebat. Tidak sedikit bangsawn maupun raja di antara mereka, bahkan beberapa orang mencoba menyerangnya agar ia menyerah. Alasan ia terluka dan hampir mati juga ada hubungannya dengan hal tersebut, ia benar-benar lengah setelah selama beberapa waktu ini belum menemukan lawan yang kuat atau roh lainnya.
Siapa yang berpikir, Myro yang membuatnya berhutang hidup tidak mencoba menawarkan diri menjadi tuannya. Padahal apabila Myro menawarkan dirinya, ia mungkin mempertimbangkan hal tersebut sebab hutang hidup bukanlah sesuatu yang ringan. Meskipun kemungkinan besar ia tetap menolak Myro sebagai tuannya, paling banyak ia akan memberikan Myro kekayaan besar sebelum pergi. Lagipula ia lebih senang bebas daripada terikat bersama orang lain yang menjadi tuannya.
__ADS_1
"Apakah kau yakin? Kau tahu, selama kau menjadi tuan dari roh, kau akan mendapatkan banyak sekali kekayaan besar serta kekuasaan", kata wanita tersebut mencoba meyakinkan Myro "Selain itu, sebagian besar raja saat ini adalah keturunan dari tuan roh dulu, apakah kau tidak tertarik menjadi raja yang menguasai banyak orang?".
Myro sudah selesai menghabiskan buburnya, ia meletakkan mangkuknya di tanah dan berkata penuh rasa tidak peduli "Aku senang dengan kehidupan damai yang aku miliki sekarang, oleh karena itu kau boleh menyimpan kekuasaan dan kekayaan itu ke orang lain! Selama kau pergi dari sini, itu cukup untuk membayar kebaikan yang aku berikan! Pokoknya, jangan membawa masalah kepadaku, terutama orang-orang yang mengejarmu itu. Apapun yang terjadi, jangan bawa aku ke masalahmu".
Wanita tersebut diam selama beberapa saat sebelum meledak tertawa, ia menunjuk ke arah Myro sambil mencoba menghapus air mata di matanya akibat terlalu banyak tertawa "Kau benar-benar aneh, kalau kau takut tertarik ke masalah milikku dan hanya berencana hidup dengan damai, kenapa kah membantuku waktu tidak sadarkan diri di hutan? Bukankah lebih baik membiarkan aku mati di sana?".
Myro melambaikan tangannya "Kalau bukan karena aku mengingat sesuatu, aku pasti membiarkanmu mati di sana!".
Wanita tersebut mulai berhenti tertawa lalu tersenyum "Kau orang yang menarik! Namaku adalah Milier Lux, kau boleh memanggilku Mili! Bagaimana denganmu? Kita mungkin baru mengenal dan tidak akan lama saling bersama, tapi aku perlu mengetahui siapa nama orang yang telah melindungi hidupku! Jika aku berhasil memenangkan pertarungan hingga ke Gunung Emas, aku akan membalas kebaikanmu".
"Myro Aras", kata Myro tetap dingin "Habiskan bubur mu lalu istirahat, segera tinggalkan tempat ini setelah kau sehat".
"Kau benar-benar terlalu dingin, Myro! Tetapi aku mengerti, bagimu kehidupan damai yang kau miliki sekarang merupakan hal yang paling berharga, oleh karena itu kau berusaha melindunginya sekalipun melindungiku sejak awal bukanlah langkah yang tepat bagi mempertahankan hidup damai milikmu", kata Mili yang mengambil mangkuk bubur miliknya "Bagaimanapun, tanpa peduli alasan kenapa kau membawaku menjauh dari hutan waktu itu, fakta kau adalah orang yang melindungi hidupku tidak berubah. Myro, terima kasih! Suatu hari nanti, apabila aku mempunyai kesempatan, aku pasti membalas kebaikan yang sudah kau berikan".
Myro berjalan membersihkan mangkuk miliknya tanpa suara, ia sama sekali tidak tertarik terhadap perkataan kosong Mili. Apalagi seperti yang ia katakan, seberapa banyak uang maupun kekuasaan yang Mili berikan di masa depan, Myro tidak tertarik.
__ADS_1