
Myro yang baru selesai dari toilet membuka pintu toilet dan berencana pergi setelah membersihkan tangannya.
Tetapi Myro yang baru berdiri di depan toilet pria menghentikan langkahnya, ia menatap ke arah depan yang seharusnya kosong tanpa ada seorangpun berdiri di sana "Apakah kalian telah menungguku sejak tadi? Sebuah kehormatan besar sebab orang sepertiku dapat membuat sosok bangsawan seperti Marquis serta roh yang merupakan tokoh hebat di zaman dulu menunggu, aku merasa seperti orang penting sekarang".
Tiba-tiba bayangan gelap muncul di depan Myro, lalu sosok Jirfa bersama sang Marquis terlihat.
Marquis Bonjer menatap tajam ke arah Myro sebelum tersenyum mengejek "Bukankah kau adalah Myro Aras sang Es Abadi dari Kerajaan Barga? Kita belum pernah bertemu langsung di medan perang dulu, siapa yang akan berpikir kita dapat bertemu sekarang, apalagi kau sendiri masih hidup. Untuk sosok hebat seperti dirimu, aku tak keberatan menunggu lebih lama lagi di depan toilet. Bagaimanapun kau membenci Kerajaan Talem yang telah menghancurkan kerajaan dimana kau berada dulu bukan? Kalau tidak ada Pertarungan 1000 Roh, kita mungkin bisa menjadi rekan".
Myro menggelengkan kepalanya "Tak peduli apakah Pertarungan 1000 Roh ada maupun tidak, kita pasti tidak menjadi rekan sebab aku sendiri melupakan semua dendam ku terhadap Kerajaan Talem! Bahkan dibandingkan Kerajaan Talem sendiri, aku lebih membenci bangsawan ataupun keluarga kerajaan di wilayah ku dulu yang menolak bersikap tegas sehingga mengakibatkan kekalahan seluruh kerajaan. Marquis Bonjer, melanjutkan pembicaraan seperti ini hanya membuanb waktu kita, kenapa kita tak memulai pertarungan lebih awal? Aku yakin tujuan kalian datang kesini bukan untuk menyapaku dengan ramah bukan?".
Mendengar pertanyaan Myro, Marquis Bonjer yang tersenyum bergegas berlari ke arah dirinya.
Kekuatan rank 5 meledak dari tubuh Marquis Bonjer, ia mengambil pedang di pinggangnya dan bersiap menyerang Myro.
"Seperti yang diharapkan dari seorang Marquis, dari segi kekuatan kau cukup bagus, tapi", Myro mengambil tombak miliknya yang dari tadi di tutup oleh kain putih "Semua gerakan yang kau lakukan terlihat sangat jelas, baik target serangan mu ataupun darimana kalian akan menyerang!".
Bukannya menyerang Marquis Bonjer yang berada di depannya, Myro menusuk tombaknya ke sisi kanan.
"Tang!".
Suara tabrakan besi terdengar, sosok Jirfa muncul di sisi kanan Myro yang sedang menghentikan serangan tombaknya memakai belati "Tuan, sekarang!".
Mengikuti teriakan Jirfa, Marquis Bonjer menebas ke arah Myro yang sibuk menahan Jirfa.
__ADS_1
"Mati!", teriak sang Marquis yang menebas ke arah Myro penuh tekad membunuh.
"Brak!".
Sang Marquis kaget menemukan pedangnya sama sekali tidak menebaa Myro, melainkan saat ini kaki Myro yang sedang menendang perutnya.
Tubuh Marquis Bonjer terlempar sejauh beberapa meter sebelum menabrak tembok kapal, Myro berkata dingin "Kekuatan kita sama yaitu rank 5, namun masih ada perbedaan besar sebab kau nampaknya tidak sering ikut di medan perang secara langsung. Seperti yang aku katakan tadi, gerakan mu terlalu mudah terlihat".
"Jangan terlalu sombong, Langkah Bayangan!", teriak Jirfa, sosoknya berubah menjadi bayangan di tanah yang menghilang tanpa jejak, cukup sulit bagi Myro untuk merasakan keberadaannya.
Myro menatap sekitar sambil mencoba memperhatikan keberadaan Jirfa yang menghilang, kali ini berbeda dari sebelumnya sebab Myro tidak merasakan sedikitpun keberadaan dari Jirfa.
"Slash!".
Myro menusukkan tombaknya ke depan ketika merasakan aura membunuh dari sana, sosok Jirfa yang menghindari tombak Myro akhirnya terlihat oleh mata. Meskipun gagal membunuh Myro secara diam-diam, tubuh Jirfa bergerak di sekitar Myro dengan gesit sebelum tiba di depannya serta langsung menebas ke arah leher Myro.
"Slash!".
Walaupun berhasil menghentikan serangan mematikannya, sebuah luka tebasan kecil masih muncul di wajah Myro.
"Menyebarlah, Penjara Es!", teriak Myro lagi yang membuat pedang es miliknya menyebar ke sekitar, berusaha menangkap Jirfa.
Tanpa ragu, Jirfa melompat mundur ke samping Marquis Bonjer dengan waktu kurang dari sedetik yang membuat ia melarikan diri dari penjara es Myro.
__ADS_1
Melihat Jirfa yang telah menjaga jarak, Myro membuang pedang es di tangannya dan mengambil tombak miliknya kembali.
"Mengejutkan! Sejak awal aku telah berpikir kau sangat kuat, namun aku tidak pernah menyangka kau mampu bertahan sejauh ini, julukan Es Abadi memang cocok bagimu. Meskipun kau bukan penyihir es terkuat yang aku kenal, setidaknya sihir es milikmu adalah yang paling cepat serta unik dari semua orang yang pernah aku temui selama ini", kata Jirfa mengakui kemampuan Myro.
Myro menghapus darahnya yang mengalir dari luka tebasan kecil akibat belati Jirfa di wajahnya "Aku merasa terhormat mengingat semua roh dulunya merupakan sosok terkenal di zaman dulu, aku menerima pengakuan dari orang hebat seperti kalian adalah sebuah kehormatan. Selain itu aku harus mengakui, kau benar-benar ahli sebagai pembunuh, setiap gerakan mu akurat untuk membunuh target serta kemampua menghilang yang kau gunakan sangat baik hingga aku tidak menemukan jejakmu. Kau pasti seorang pembunuh yang hebat di masa lalu".
"Aku memang cukup terkenal, walaupun begitu ayahku masih tetap jauh berada di atasku, aku perlu banyak belajar lagi supaya berhasil mengejar kemampuannya", kata Jirfa, lalu tiba-tiba aura hitam yang gelap meledak dari seluruh tubuhnya "Aku rasa pemanasan kita telah selesai, berikutnya aku akan memakai semua kekuatanku, aku harap kau bersiap-siap".
Myro juga mengangkat tombaknya sebagai tanggapan terhadap ledakan aura milik Jirfa, perlahan-lahan sebuah Rune Kuno yang menutupi seluruh tombak Myro bersinar "Karena kau menggunakan seluruh kekuatanmu, aku tidak akan ragu juga! Lebih baik jangan meremehkanku atau kau akan mati!".
"Langkah Bayangan!", gumam Jirfa dimana sosoknya berubah menjadi bayangan lagi "Biarkan aku melihat, seberapa lama energi bisa bertahan untuk terus menerus menggunakan sihir es".
"Jangan khawatir, aku tidak selemah itu untuk terjatuh hanya karena kebanyakan menggunakan sihir", kata Myro yang menusukkan tombaknya ke tanah "Hentikan semua gerakan musuhku, Pembekuan!".
Tanah di sekitar Myro mulai membeku lalu menyebar dengan cepat ke daerah kapal di sekitar mereka. Para penumpang yang berada di kabin istirahat terkejut menemukan tembok serta lantai toilet yang berubah menjadi es, beberapa dari mereka mulai melarikan diri dari kabin dengan panik sebab mereka tahu, es itu berasal dari pertarungan seseorang. Sebagian besar penumpang disini bukan petarung maupun petarung rank rendah, jadi mereka takut tertarik ke pertarungan Myro.
Setelah seluruh tanah di ruangan membeku, gerakan Jirfa yang tadinya sunyi menjadi terdengar. Setiap kali ia menginjak tanah es, akan ada suara es yang retak ataupun berbunyi akibat menahan berat dirinya.
Saat mendengar suara langkah es pertama, Myro menusuk tombaknya ke arah situ tanpa ragu.
"Tang!".
Lagi-lagi Jirfa menahan tombak Myro dengan mudah seakan-akan tombak Myro tidak akan bisa mengenai dirinya.
__ADS_1
Myro sama sekali tidak panik menemukan tombaknya yang ditahan oleh 2 belati Jirfa, bagaimanapun ia telah siap sejak awal karena Jirfa sudah menghentikan serangan tombaknya berkali-kali.
"Es, menyebar!", teriak Myro yang sudah siap sejak awal bahwa Jirfa akan menangkap serangan tombak miliknya lagi.