
Myro sedang berlari menjauh dari toilet di kabin istirahat sebab di belakangnya ada 5 Jirfa yang mengejar dirinya.
Serangan es yang Myro pakai untuk merepotkan Jirfa sebelumnya sudah dimakan oleh kegelapan Jirfa, oleh karena itu Myro sudah kehabisan hampir semua kekuatan sihirnya yang membuat ia kesulitan untuk memakai sihir es lagi.
"Kenapa kau lari sekarang? Bukankah tadi kau sangat sombong menggunakan kemampuan es milikmu untuk mengalahkanku bahkan berani menipu diriku dengan cara membunuh tuanku? Kalau begitu, jangan lari dan lawan aku", teriak 5 Jirfa secara bersamaan.
Salah satu Jirfa berhasil mengejar Myro, ia melompat ke arah tembok serta menggunakan tembok sebagai pijakan untuk melompat ke arah Myro lalu menebasnya dari sisi kanan memakai 2 belati.
Gerakan Jirfa benar-benar mengejutkan Myro, ia menghentikan langkahnya dan mengayunkan tombaknya terhadap belati Jirfa.
"Tang!".
Myro memukul mundur Jirfa yang menyerangnya, lagipula Jirfa memang lebih unggul daripada Myro masalah kecepatan, namun apabila itu tentang kekuatan maka Myro berada di atas dirinya.
Setelah Jirfa terlempat mundur, 4 Jirfa yang lain memanfaatkan kesempatan tersebut.
1 Jirfa membungkukkan badannya, ia berlari menuju Myro berencana menyerangnya dari bawah sedangkan Jirfa yang lain melompat ke atap, setelahnya ia menjadikan atap sebagai tolakan untuk melompat ke arah Myro, ia mencoba menyerang Myro dari atas.
"Tang! Tang!".
Myro mengayunkan tombaknya yang menghentikan 2 belati dari atas serta bawah secara langsung, lalu ia mengangkat kaki kanannya menendang Jirfa yang menyerang dari bawah.
Jirfa yang menyerang dari bawah mencoba menghentikan tendangan Myro memakai tangannya, tapi Myro tetap berhasil memukul mundur dirinya menjauh memakai tendangan tersebut.
Jirfa yang menyerang dari atas mencoba memanfaatkan kesempatan tersebut, selagi Myro sedang berdiri memakai 1 kaki, ia berputar di udara menghindari tombak Myro serta mencoba menyerangnya dari celah tombak.
"Grab!".
__ADS_1
Myro menggenggam lengan tangan kiri Jirfa yang menyerangnya dari atas. Setelah menggenggam tangannya, Myro menariknya hingga menabrak tembok dengan keras.
"Brak!".
Jirfa yang menabrak tembok dengan keras memuntahkan seteguk darah yang menunjukkan luka akibat lemparan Myro sama sekali tak ringan, namun Jirfa tidak menyesal melakukan hal tersebut.
Alasannya saat ini sebuah luka tebasan belati yang cukup besar muncul di dekat pundak tangan kiri Myro, ini berasal dari belati Jirfa yang ia lempar barusan.
Ketika Myro menarik tangan kirinya, Jirfa tersebut juga memanfaatkan kesempatan untuk menebas pundak kiri Myro memakai belati di tangan kanannya.
Myro berusaha menahan pendarahan di tangan kirinya saat berhasil memukul mundur para Jirfa, tetapi 2 Jirfa yang belum menyerang mulai berlari mendekatinya.
2 Jirfa tersebut berjalan di tembok kanan serta kiri Myro, mereka berlari cepat di tembok seakan-akan sedang berada di tanah.
Myro perlu mengakui, ia sangat kerepotan melawan 5 Jirfa secara bersamaan, belum lagi ia telah hampir kehabisan semua energi yang ia miliki. Menurut pengalaman Myro di medan perang, ia melawan Jirfa yang sekarang sama sekali tidak mempunyai kesempatan menang.
2 Jirfa yang berlari di atas tembok berhasil menutup jarak dengan Myro. Tetapi yang mengejutkan mereka, Myro secara mendadak berhenti berlari, ia berbalik menghadap ke arah 2 Jirfa yang berlari mendekat lalu memutar tombaknya dan memukul bagian tidak tajam ke tanah.
"Tembok Es!".
Sebuah tembok yang terbuat dari es terbentuk di depan Myro yang langsung menghentikan lari 2 Jirfa yang mendekat.
2 Jirfa saling menatap sebelum menebas ke arah tembok es memakai kekuatan penuh, mereka yakin Myro mencoba melarikan diri selama tembok es menahan mereka.
Namun saat mereka sedang sibuk menebas tembok es, sesuatu yang mengejutkan terjadi.
"Brak!".
__ADS_1
Sebuah tombak muncul dari balik tembok yang menusuk tepat di perut salah satu Jirfa, orang yang menusuk tombak tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Myro.
Myro yang berada dibalik tembok berteriak keras di bawah tatapan kaget 4 Jirfa yang lain melihat salah satu dari mereka tertusuk "Apakah kalian terkejut? Kalian berpikir aku akan lari? Kalau begitu biarkan aku memberitahu kalian untuk berhati-hati sebab mangsa dapat berubah menjadi pemburu kapanpun itu".
"Apakah benar?", jawab Jirfa yang tertusuk oleh tombak Myro, ia menggenggam tombak yang menusuk perutnya sambil tersenyum dingin "Lihat, sekarang kau sama sekali tidak bisa bergerak!".
Myro cukup terkejut sebab seharusnya tusukan tombak yang ia berikan merupakan serangan fatal, tidak peduli seberapa kuat seseorang, setelah ditusuk seperti ini maka mereka pasti akan melemah maupun kehilangan kesadaran bahkan ada kemungkinan besar mati. Masalahnya, Jirfa yang tertusuk tombak terlihat tak terdampak sedikitpun.
4 Jirfa yang lain memanfaatkan kesempatan tersebut, mereka berlari cepat menusuk Myro, 2 Jirfa juga melempar belati mereka supaya tak memberikan Myro kesempatan melarikan diri.
Myro mengayunkan tombaknya ke kiri serta kanan mencoba melepaskan Jirfa yang masih memegang tombaknya, tapi Jirfa tetap memegang dengan keras kepala jadi Myro yang tahu ia terdesak melemparkan tombak tersebut ke tanah, lalu Myro membengkokkan tubuhnya ke belakang yang membuat 2 belati yang dilempar Jirfa lain tidak mengenai dirinya.
Meskipun berhasil melewati situasi krisis dari lemparan 2 belati, pertarungan sama sekali belum selesai melainkan krisis semakin mendekati Myro.
4 Jirfa yang telah mengepung Myro mulai menyerang dirinya dari semua arah, mereka menebas belati nya sedangkan Myro terus menghindar ke kiri maupun kanan.
Seiring berjalannya waktu, sekalipun Myro berhasil menghindari serangan fatal, luka di tubuhnya terus bertambah.
Belum lagi Myro menyadari bahwa semakin banyak luka di tubuhnya, kecepatannya juga semakin melambat.
Melihat Myro mulai menyadari sesuatu, Jirfa tersenyum "Apakah akhirnya kau menyadarinya?".
Myro melompat mundur cukup jauh memanfaatkan kesempatan Jirfa yang sedang berbicara sehingga ia berhasil menjaga jarak.
Mengamati jejak garis hitam aneh pada setiap luka tebasan di tubuhnya, Myro berkata suram "Apakah kau memakai racun? Atau ini bagian dari Serangan Inti milikmu juga?".
Myro memperhatikan ke arah Jirfa penuh rasa hati-hati sebelum matanya jatuh ke belati Jirfa "Senjata kutukan? Aku mengerti, semua racun tersebut berasal dari senjata milikmu! Aku tidak pernah berpikir, di dunia ini masih ada yang berani memakai senjata kutukan. Walaupun senjata kutukan menambah kekuatan penggunanya, namun senjata tersebut memakan hidup penggunanya juga, aku yakin kau mengetahui hal tersebut".
__ADS_1
"Aku tahu", kata Jirfa tersenyum tak peduli "Tapi seperti yang selalu dikatakan oleh ayahku, seorang pembunuh hidup di antara kematian, oleh karena itu menggunakan senjata yang memakan hidup bukanlah hal yang aneh bagi seorang pembunuh".